Sejarah Ilmu Gizi







oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Senin, 26 Januari 2026

A. Sejarah Ilmu Gizi Awal Mula (4000 SM - 500 M)
Sejarah ilmu gizi awal mula dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno, sekitar 4000 SM. Pada saat itu, bangsa Mesir, Yunani, dan Cina kuno telah memiliki pengetahuan tentang hubungan antara makanan dan kesehatan.
- Bangsa Mesir Kuno (4000 SM - 3000 SM): Bangsa Mesir kuno telah memiliki pengetahuan tentang pentingnya makanan dalam menjaga kesehatan. Mereka telah menggunakan makanan sebagai obat dan telah mengembangkan sistem gizi yang kompleks.
- Hipokratus (460-370 SM): Hipokratus, seorang dokter Yunani kuno, menulis tentang pentingnya makanan dalam menjaga kesehatan. Ia percaya bahwa makanan dapat mempengaruhi keseimbangan tubuh dan bahwa keseimbangan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan.
- Galen (129-216 M): Galen, seorang dokter Yunani kuno, menulis tentang teori "empat humor" yang mempengaruhi kesehatan, yaitu darah, phlegma, kuning bilis, dan hitam bilis. Ia percaya bahwa keseimbangan antara keempat humor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan.

- Pada saat itu, ilmu gizi masih dalam tahap awal dan belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.
- Pengetahuan tentang gizi masih berdasarkan pada pengalaman dan pengamatan.
- Ilmu gizi belum memiliki konsep yang jelas tentang nutrisi dan kesehatan.


B.  Sejarah Ilmu Gizi Abad Pertengahan (500 M - 1500 M)
1. Pengaruh Agama: Agama memiliki pengaruh besar dalam ilmu gizi pada Abad Pertengahan. Makanan dianggap sebagai sumber kekuatan dan energi, bukan sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan.
2. Teori Humor: Teori humor yang dikembangkan oleh Galen (129-216 M) masih digunakan pada Abad Pertengahan. Teori ini menyatakan bahwa tubuh manusia terdiri dari empat humor (darah, phlegma, kuning bilis, dan hitam bilis) yang harus seimbang untuk menjaga kesehatan.
3. Makanan sebagai Obat: Makanan dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Dokter pada Abad Pertengahan sering meresepkan makanan tertentu untuk menyembuhkan penyakit.
4. Pengaruh Arab: Ilmu gizi Arab memiliki pengaruh besar pada ilmu gizi Abad Pertengahan. Karya-karya Arab seperti "Kitab al-Qanun" oleh Ibn Sina (980-1037 M) diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai referensi utama dalam ilmu gizi.
5. Pengembangan Diet: Diet pada Abad Pertengahan dikembangkan berdasarkan teori humor dan pengaruh agama. Makanan yang dianggap "panas" atau "dingin" digunakan untuk mengobati penyakit.


C. Sejarah Ilmu Gizi Zaman Renaissance (1500-1800 M)
Zaman Renaissance merupakan periode penting dalam sejarah ilmu gizi. Pada saat itu, ilmu gizi mulai berkembang dan menjadi lebih sistematis.
- Penemuan Vitamin (1500-an): Pada awal abad ke-16, ilmuwan mulai menemukan vitamin dan mineral yang penting bagi kesehatan. Salah satu penemuan penting adalah vitamin C oleh Jacques Cartier pada tahun 1535.
- Teori "Empat Humor" (1500-an): Teori "empat humor" yang dikembangkan oleh Galen pada abad ke-2 M masih berpengaruh pada ilmu gizi pada zaman Renaissance. Ilmuwan seperti Andreas Vesalius dan William Harvey mulai mempertanyakan teori ini dan mengembangkan teori baru tentang kesehatan dan gizi.
- Penemuan Mikroskop (1590): Penemuan mikroskop oleh Zacharias Janssen pada tahun 1590 memungkinkan ilmuwan untuk mempelajari struktur makanan dan organisme yang lebih kecil.
- Penemuan Oksigen (1774): Penemuan oksigen oleh Joseph Priestley pada tahun 1774 membuka jalan bagi pemahaman tentang proses respirasi dan metabolisme.
- Linus Pauling (1743-1794): Linus Pauling, seorang ilmuwan Swedia, mengembangkan teori tentang pentingnya keseimbangan antara asam dan basa dalam tubuh.


- Pada zaman Renaissance, ilmu gizi mulai berkembang dan menjadi lebih sistematis.
- Penemuan vitamin dan mineral membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya gizi dalam kesehatan.
- Teori "empat humor" masih berpengaruh, dan ilmuwan mulai mempertanyakan teori ini.
- Penemuan mikroskop memungkinkan ilmuwan untuk mempelajari struktur makanan dan organisme yang lebih kecil.


D. Sejarah Ilmu Gizi Abad Pertengahan (500 M - 1500 M)
1. Pengaruh Agama: Agama memiliki pengaruh besar dalam ilmu gizi pada Abad Pertengahan. Makanan dianggap sebagai sumber kekuatan dan energi, bukan sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan.
2. Teori Humor: Teori humor yang dikembangkan oleh Galen (129-216 M) masih digunakan pada Abad Pertengahan. Teori ini menyatakan bahwa tubuh manusia terdiri dari empat humor (darah, phlegma, kuning bilis, dan hitam bilis) yang harus seimbang untuk menjaga kesehatan.
3. Makanan sebagai Obat: Makanan dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Dokter pada Abad Pertengahan sering meresepkan makanan tertentu untuk menyembuhkan penyakit.
4. Pengaruh Arab: Ilmu gizi Arab memiliki pengaruh besar pada ilmu gizi Abad Pertengahan. Karya-karya Arab seperti "Kitab al-Qanun" oleh Ibn Sina (980-1037 M) diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai referensi utama dalam ilmu gizi.
5. Pengembangan Diet: Diet pada Abad Pertengahan dikembangkan berdasarkan teori humor dan pengaruh agama. Makanan yang dianggap "panas" atau "dingin" digunakan untuk mengobati penyakit.


- Ilmu gizi pada Abad Pertengahan kurang berkembang karena pengaruh agama dan teori humor yang dominan.
- Makanan dianggap sebagai sumber kekuatan dan energi, bukan sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan.
- Ilmu gizi Arab memiliki pengaruh besar pada ilmu gizi Abad Pertengahan dan membantu mengembangkan ilmu gizi di Eropa.
- Abad Pertengahan merupakan periode yang kurang berkembang dalam sejarah ilmu gizi.
- Ilmu gizi pada Abad Pertengahan dipengaruhi oleh agama dan teori humor.
- Ilmu gizi Arab memiliki pengaruh besar pada ilmu gizi Abad Pertengahan.


E. Sejarah Ilmu Gizi Abad ke-19 (1800 M - 1900 M)
- Penemuan Karbohidrat, Protein, dan Lemak (1800-an): Ilmuwan seperti William Prout dan Justus von Liebig menemukan bahwa makanan terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak.
- Penemuan Vitamin (1830-an): Ilmuwan seperti William Prout dan Justus von Liebig menemukan bahwa makanan mengandung zat-zat yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh, yang kemudian dikenal sebagai vitamin.
- Penemuan Mineral (1850-an): Ilmuwan seperti Justus von Liebig dan Wilhelm Henneberg menemukan bahwa makanan mengandung mineral yang penting bagi kesehatan.
- Teori Germ (1860-an): Ilmuwan seperti Louis Pasteur dan Robert Koch mengembangkan teori germ, yang menyatakan bahwa penyakit disebabkan oleh mikroorganisme.
- Penemuan Insulin (1889): Ilmuwan seperti Joseph von Mering dan Oskar Minkowski menemukan insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah.

- Pada abad ke-19, ilmu gizi mulai berkembang dan menjadi lebih sistematis.
- Penemuan karbohidrat, protein, dan lemak membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya gizi dalam kesehatan.
- Penemuan vitamin dan mineral memperluas pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.
- Teori germ dan penemuan insulin membuka jalan bagi pemahaman tentang penyakit dan pengobatannya.


F. Sejarah Ilmu Gizi Abad ke-20 (1900 M - 2000 M)
- Penemuan Vitamin (1900-an): Pada awal abad ke-20, ilmuwan menemukan beberapa vitamin penting, seperti vitamin A (1913), vitamin D (1922), dan vitamin E (1922).
- Penemuan Asam Amino (1930-an): Penemuan asam amino esensial oleh Linus Pauling pada tahun 1930-an membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya protein dalam gizi.
- Penemuan Mineral (1940-an): Penemuan mineral esensial seperti kalsium, fosfor, dan besi pada tahun 1940-an memperluas pengetahuan tentang gizi mineral.
- Konsep Gizi Seimbang (1950-an): Konsep gizi seimbang dikembangkan pada tahun 1950-an, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara karbohidrat, protein, dan lemak.
- Penemuan Serat (1970-an): Penemuan serat sebagai komponen penting dalam gizi pada tahun 1970-an memperluas pengetahuan tentang gizi serat.
- Penemuan Antioksidan (1980-an): Penemuan antioksidan seperti vitamin C dan E pada tahun 1980-an membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya antioksidan dalam gizi.
- Konsep Gizi Fungsional (1990-an): Konsep gizi fungsional dikembangkan pada tahun 1990-an, yang menekankan pentingnya gizi dalam mencegah penyakit.

- Abad ke-20 merupakan periode penting dalam sejarah ilmu gizi karena penemuan-penemuan penting tentang vitamin, asam amino, mineral, dan antioksidan.
- Konsep gizi seimbang dan gizi fungsional dikembangkan pada abad ke-20, yang menekankan pentingnya keseimbangan dan pencegahan penyakit.
- Ilmu gizi pada abad ke-20 menjadi lebih sistematis dan berbasis bukti, dengan penekanan pada penelitian ilmiah dan aplikasi praktis.

G. Sejarah Ilmu Gizi Abad 21 (2000 M - sekarang)
Abad 21 merupakan era perkembangan ilmu gizi yang sangat pesat, dengan penemuan-penemuan baru dan aplikasi teknologi yang semakin canggih.
1. Penemuan Nutrigenomik: Nutrigenomik adalah studi tentang bagaimana nutrisi berinteraksi dengan gen manusia, membuka kemungkinan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan gizi yang berbeda, tergantung kondisi genetiknya.
2. Penelitian Mikrobioma Usus: Penelitian tentang mikrobioma usus menunjukkan betapa pentingnya peran bakteri dalam kesehatan manusia.
3. Pengembangan Pedoman Gizi: Pedoman gizi seimbang terus diperbarui untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat modern.
4. Teknologi Gizi: Teknologi gizi semakin canggih, dengan aplikasi seperti nutrigenetik dan nutrigenomik.
5. Gizi Personal: Konsep gizi personal berkembang, menekankan pentingnya gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Galen. (216 M). De Sanitate Tuenda. 
Gibson, R. S. (2005). Principles of Nutritional Assessment. Oxford: Oxford University Press.
Guthrie, H. A. (1989). Introductory Nutrition. 7th ed. St. Louis: Times Mirror/Mosby College Publishing.
Hippocrates. (400 SM). Corpus Hippocraticum. 
Ibn Sina. (1037 M). Kitab al-Qanun. 
Koch, R. (1876). Untersuchungen über Bakterien. 
Liebig, J. von (1840). Animal Chemistry. 
McNutt, K. (2000). The History of Nutrition. Journal of Nutrition, 130(2S Suppl), 353S-356S.
Pasteur, L. (1861). Mémoire sur les corpuscules organisés qui existent dans l'atmosphère.
Prout, W. (1834). Chemistry, Meteorology, and the Function of Digestion. London: Baldwin and Cradock.
Sarton, G. (1927). Introduction to the History of Science. Baltimore: Williams & Wilkins.
Shils, M. E., & Shike, M. (2006). Modern Nutrition in Health and Disease. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Singer, C. (1928). A Short History of Medicine. Oxford: Clarendon Press.
Whitney, E. N., & Rolfes, S. R. (2018). Understanding Nutrition. 15th ed. Boston: Cengage Learning.
WHO. (2018). Nutrition. Geneva: World Health Organization.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Nama Sayuran Dalam Bahasa Arab