Postingan

SUMBER BAHAN MAKANAN MINERAL

    A. Pengertian Sumber Bahan Makanan Mineral Sumber bahan makanan mineral adalah bahan pangan hewani, nabati, dan pangan fortifikasi yang mengandung mineral dalam jumlah dan bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Kandungan mineral dalam bahan makanan sangat bervariasi tergantung pada jenis pangan, kandungan mineral tanah dan air tempat pangan tersebut dihasilkan, proses pengolahan, dan bioavailabilitas mineral tersebut. Secara umum, pangan hewani memiliki bioavailabilitas mineral yang lebih tinggi daripada pangan nabati karena rendahnya kandungan penghambat seperti fitat (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013). B . Sumber Bahan Makanan Mineral Makro 1. Kalsium  Sumber utama: Susu dan hasil olahannya (susu, keju, yoghurt), ikan yang dimakan bersama tulangnya (teri, sarden), tahu dan tempe yang diolah dengan kalsium sulfat, sayuran hijau gelap (brokoli, bok choy, daun singkong), almond, dan biji wijen. Bioavailabilitas kalsium susu sekitar 30%, sedangkan dari bay...

ANGKA KECUKUPAN MINERAL

  A Pengertian Angka Kecukupan Mineral      Angka Kecukupan Gizi (AKG) mineral adalah nilai rata-rata kecukupan mineral per hari yang dianjurkan untuk hampir semua orang sehat (97,5%) dalam kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis tertentu untuk mencapai derajat kesehatan optimal, mencegah defisiensi, dan menghindari toksisitas. B.  Dasar Penetapan AKG di Indonesia    .. Di Indonesia, AKG ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, yang disusun berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi dengan mempertimbangkan pola konsumsi, berat badan referensi, dan bioavailabilitas diet masyarakat Indonesia. C.  Komponen dalam AKG Mineral 1.  EAR (Estimated Average Requirement)  Rata-rata asupan harian yang diperkirakan memenuhi kebutuhan 50% individu sehat dalam kelompok tertentu. 2.  RDA (Recommended...

KEBUTUHAN MINERAL

  A. Pengertian Kebutuhan Mineral Kebutuhan mineral adalah jumlah mineral minimum yang harus diperoleh dari makanan setiap hari untuk mempertahankan fungsi fisiologis normal, menggantikan kehilangan basal, mendukung pertumbuhan dan reproduksi, serta mencegah defisiens.  Mineral bersifat individual dan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis, tingkat aktivitas, dan bioavailabilitas diet. Konsep kebutuhan mineral menjadi dasar penetapan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebagai acuan populasi (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013). B. Komponen Kebutuhan Mineral 1. Kebutuhan untuk Pemeliharaan (Maintenance)  Mineral diperlukan untuk menggantikan kehilangan wajib (obligatory losses) melalui urin, feses endogen, keringat, kulit, rambut, dan menstruasi.  Contohnya kehilangan zat besi basal sekitar 0,9 mg/hari pada laki-laki dan 1,3-1,5 mg/hari pada perempuan usia subur akibat menstruasi, serta kehilangan kalsium wajib sekitar 200-250 mg/hari. 2. Kebutuhan u...

AKIBAT KELEBIHAN MINERAL

    A. Pengertian Kelebihan Mineral Kelebihan mineral atau toksisitas mineral adalah keadaan ketika asupan dan akumulasi mineral dalam tubuh melebihi batas atas toleransi (Tolerable Upper Intake Level/UL) sehingga mengganggu absorpsi, metabolisme, dan fungsi mineral lain serta menimbulkan gejala klinis hingga kerusakan organ. Kelebihan mineral jarang disebabkan oleh makanan alami semata, melainkan terutama oleh konsumsi suplemen dosis tinggi tanpa pengawasan, fortifikasi berlebihan, kontaminasi lingkungan dan air, serta gangguan organ ekskresi seperti ginjal dan hati (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013). B. Faktor Penyebab Kelebihan Mineral 1. Suplementasi dan Fortifikasi Berlebihan Konsumsi suplemen multivitamin-mineral, zat besi, zink, kalsium, dan selenium dalam dosis megadosis melebihi UL merupakan penyebab utama toksisitas akut dan kronis di masyarakat. 2. Gangguan Homeostasis Penyakit genetik seperti hemokromatosis (kelebihan zat besi) dan penyakit Wilson (kelebi...

AKIBAT KEKURANGAN MINERAL

    A. Pengertian Kekurangan Mineral      Kekurangan mineral atau defisiensi mineral adalah keadaan ketika asupan, absorpsi, atau pemanfaatan mineral tidak mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh dalam jangka waktu tertentu sehingga mengganggu fungsi biokimia, fisiologis, dan struktural serta menimbulkan gejala klinis. Defisiensi dapat bersifat primer akibat asupan rendah, atau sekunder akibat gangguan absorpsi, peningkatan kehilangan, peningkatan kebutuhan, dan interaksi antagonis antar zat gizi (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013).³ B. Penyebab Kekurangan Mineral 1. Asupan yang Tidak Adekuat Pola makan monoton rendah pangan hewani, kemiskinan, pantangan makanan, dan diet ketat menyebabkan asupan kalsium, zat besi, zink, dan iodium tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi. 2. Gangguan Absorpsi Kandungan fitat, oksalat, dan serat berlebihan dalam diet nabati, penyakit saluran cerna seperti penyakit seliak dan penyakit radang usus, serta operasi bariatr...

INTERAKSI MINERAL DENGAN ZAT GIZI LAIN

    A. Pengertian Interaksi Mineral dengan Zat Gizi Lai n Interaksi mineral dengan zat gizi lain adalah hubungan saling mempengaruhi antara mineral dengan mineral lain, vitamin, protein, karbohidrat, lemak, dan senyawa non-gizi dalam makanan maupun di dalam tubuh yang dapat meningkatkan (sinergis) atau menghambat (antagonis) absorpsi, transportasi, metabolisme, dan fungsi fisiologisnya. Interaksi ini terutama terjadi di lumen usus selama proses absorpsi, namun juga dapat terjadi di tingkat seluler dan jaringan.  Pemahaman interaksi sangat penting karena status mineral seseorang tidak hanya ditentukan oleh jumlah asupan, melainkan oleh bioavailabilitas yang dipengaruhi oleh komposisi keseluruhan diet (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013). B. Interaksi Antarmineral Interaksi antarmineral umumnya bersifat antagonis karena mineral dengan muatan dan ukuran ion serupa berkompetisi untuk transporter yang sama di enterosit. a. Interaksi Antagonis 1.  Kalsium - Zat Be...