KEKUASAAN DALAM KELOMPOK (POWER IN GROUPS)
Kekuasaan dalam kelompok merupakan konsep sentral, paling fundamental, dan paling menentukan dalam memahami dinamika kelompok sosial. Jika kepemimpinan adalah proses memengaruhi kelompok, maka kekuasaan adalah sumber daya, kapasitas, dan potensi yang memungkinkan pengaruh itu terjadi. Tanpa kekuasaan, tidak ada kepemimpinan, tidak ada pengaruh sosial, tidak ada struktur hierarki, dan tidak ada kemampuan kelompok untuk mengkoordinasikan tindakan anggotanya. Pemahaman tentang kekuasaan menjelaskan mengapa beberapa anggota lebih berpengaruh daripada yang lain, bagaimana hierarki terbentuk, dan bagaimana kelompok mengontrol perilaku anggotanya.
A. DEFINISI KEKUASAAN DALAM KELOMPOK
Kekuasaan dalam kelompok didefinisikan sebagai kapasitas, potensi, atau kemampuan seorang anggota kelompok untuk memengaruhi, mengontrol, atau mengubah pikiran, sikap, dan perilaku anggota lain, serta mengontrol sumber daya yang bernilai bagi kelompok.
Forsyth (2018) mendefinisikan kekuasaan sebagai kapasitas untuk memengaruhi orang lain, bahkan ketika orang lain tersebut berusaha melawan pengaruh tersebut. Kekuasaan adalah potensi pengaruh, sedangkan pengaruh adalah penggunaan kekuasaan yang aktual.
French & Raven (1959) mendefinisikan kekuasaan sosial sebagai kemampuan seorang agen (O) untuk memengaruhi target (P) dalam kelompok, yang berasal dari basis-basis kekuasaan tertentu.
Yukl (2013) mendefinisikan kekuasaan sebagai kapasitas untuk memengaruhi sikap dan perilaku orang lain ke arah yang diinginkan, baik melalui paksaan maupun melalui persuasi.
Baron & Byrne (2005) mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk mengontrol atau memengaruhi orang lain dan mengontrol hasil yang mereka inginkan.
Perbedaan Konsep Penting:
1. Kekuasaan (Power) vs Pengaruh (Influence)
Kekuasaan adalah kapasitas atau potensi, sedangkan pengaruh adalah perilaku aktual yang menggunakan kekuasaan. Seseorang dapat memiliki kekuasaan tetapi tidak menggunakannya, dan seseorang dapat mencoba memengaruhi tanpa memiliki kekuasaan (pengaruh akan gagal).
2. Kekuasaan vs Otoritas (Authority)
Otoritas adalah kekuasaan yang dilegitimasi dan diterima sebagai sah oleh kelompok karena posisi formal. Semua otoritas adalah kekuasaan, tetapi tidak semua kekuasaan adalah otoritas. Kekuasaan dapat bersifat informal.
3. Kekuasaan vs Kepemimpinan:
Kepemimpinan adalah salah satu bentuk penggunaan kekuasaan untuk mencapai tujuan kelompok. Kepemimpinan membutuhkan kekuasaan, tetapi kekuasaan dapat digunakan tanpa kepemimpinan (misalnya dominasi).
B. TEORI KLASIK KEKUASAAN : TAKSONOMI FRENCH & RAVEN (1959)
Teori paling dominan, paling banyak dikutip, dan menjadi fondasi seluruh penelitian kekuasaan selama 65 tahun dikembangkan oleh John French dan Bertram Raven (1959) dan direvisi oleh Raven (1965, 2008).
French & Raven mengidentifikasi enam basis kekuasaan sosial dalam kelompok:
1. Legitimate Power (Kekuasaan Legitim / Sah)
Kekuasaan yang berasal dari posisi formal, jabatan struktural, dan norma sosial yang memberikan hak kepada seseorang untuk memengaruhi dan mewajibkan orang lain untuk patuh.
a. Dasar
internalisasi nilai-nilai bahwa pemegang jabatan tertentu berhak memengaruhi.
b Sumber
struktur hierarki organisasi, norma budaya, kontrak sosial.
c Contoh
Seorang ketua kelompok, manajer, dosen, atau kepala desa dipatuhi karena jabatannya, bukan karena pribadi atau keahliannya.
d Kekuatan
menghasilkan kepatuhan cepat, tetapi jika disalahgunakan menimbulkan resistensi.
2. Reward Power (Kekuasaan Penghargaan):
Kekuasaan yang berasal dari kemampuan agen untuk memberikan penghargaan positif yang bernilai bagi target, dan kemampuan untuk menghilangkan hukuman.
a. Dasar
harapan bahwa kepatuhan akan menghasilkan imbalan.
b. Jenis reward
ekstrinsik (gaji, bonus, promosi, hadiah, nilai) dan intrinsik (pujian, pengakuan, kasih sayang, penerimaan).
c. Contoh
Manajer yang dapat memberikan bonus kepada karyawan yang berprestasi memiliki reward power tinggi.
d Efektivitas
berkorelasi positif dengan kepuasan jika digunakan secara adil dan kontingen (Liden et al., 1993). Jika tidak adil, menimbulkan persepsi favoritisme.
3. Coercive Power (Kekuasaan Koersif / Paksaan):
Kekuasaan yang berasal dari kemampuan untuk memberikan hukuman, sanksi negatif, atau menghilangkan reward positif jika target tidak patuh.
a. Dasar
ketakutan akan hukuman.
b Jenis
teguran lisan, skorsing, pemecatan, penurunan gaji, pengucilan sosial.
c. Contoh
Seorang pemimpin kelompok yang dapat mengeluarkan anggota yang melanggar norma memiliki coercive power.
d. Efektivitas.
paling tidak efektif dalam jangka panjang. Penelitian oleh Podsakoff & Schriesheim (1985) dan meta-analisis oleh Podsakoff, Bommer, Podsakoff, & MacKenzie (2006) menunjukkan coercive power berkorelasi negatif dengan kepuasan, komitmen, dan OCB, serta berkorelasi positif dengan stres dan turnover. Hanya menghasilkan kepatuhan sementara dengan pengawasan.
4. Expert Power (Kekuasaan Keahlian):
Kekuasaan yang berasal dari pengetahuan, keahlian, keterampilan, kompetensi, dan pengalaman superior yang dimiliki agen dan dianggap berharga, relevan, serta dibutuhkan oleh kelompok untuk mencapai tujuan.
a. Dasar
.kepercayaan bahwa agen memiliki pengetahuan yang benar dan dapat dipercaya.
b. Sumber
pendidikan, pengalaman, penguasaan informasi.
c Contoh
: Seorang anggota kelompok yang paling menguasai statistik akan memiliki expert power tinggi ketika kelompok mengerjakan tugas analisis data, meskipun ia bukan ketua formal.
d. Efektivitas
basis kekuasaan yang paling efektif dan paling tahan lama. Yukl & Falbe (1991) menemukan expert power berkorelasi paling kuat dengan komitmen dan efektivitas kepemimpinan.
5. Referent Power (Kekuasaan Referensi / Panutan):
Kekuasaan yang berasal dari identifikasi, kekaguman, rasa suka, rasa hormat, dan keinginan target untuk menjadi seperti agen atau berasosiasi dengannya.
a. Dasar
identifikasi dan atraksi interpersonal.
b. Sumber
karisma, daya tarik personal, reputasi, kepribadian yang menyenangkan.
c. Contoh
Seorang pemimpin yang karismatik dan dikagumi anggotanya karena integritas dan visinya memiliki referent power tinggi. Anggota ingin meniru dan menyenangkan pemimpin tersebut.
d. Efektivitas
sangat efektif, menghasilkan komitmen dan internalisasi, bukan hanya kepatuhan. Merupakan basis utama kepemimpinan transformasional dan karismatik.
6. Informational Power (Kekuasaan Informasi)
Ditambahkan oleh Raven (1965) sebagai basis keenam yang terpisah dari expert power. Kekuasaan yang berasal dari kemampuan mengakses, memiliki, dan mengontrol informasi penting yang dibutuhkan kelompok, serta kemampuan menggunakan informasi tersebut untuk memberikan argumen yang logis dan persuasif. Revisi Raven (2008): Raven kemudian membedakan basis kekuasaan menjadi kekuasaan keras (harsh power: legitimate, reward, coercive) dan kekuasaan lunak (soft power: expert, referent, informational), di mana kekuasaan lunak lebih efektif untuk perubahan jangka panjang.
a. Dasar
persuasi melalui isi informasi, bukan karakteristik pemberi informasi.
b. Contoh
Sekretaris yang mengontrol akses informasi jadwal pimpinan memiliki informational power.
C. SUMBER-SUMBER KEKUASAAN LAINNYA
Selain taksonomi French & Raven, penelitian mengidentifikasi sumber kekuasaan tambahan dalam kelompok:
1. Kekuasaan Struktural (Structural Power):
a. Centrality (Sentralitas)
Posisi dalam jaringan komunikasi kelompok yang memberikan kontrol atas aliran informasi (Freeman, 1979).
b. Control over Resources (Kontrol atas Sumber Daya)
Mengontrol sumber daya yang langka dan bernilai (uang, fasilitas, informasi) menurut Resource Dependence Theory (Pfeffer & Salancik, 1978).
2. Kekuasaan Personal
a. Charisma
Daya tarik personal yang luar biasa.
b. Reputation
Reputasi dan kredibilitas yang dibangun dari waktu ke waktu.
D. DINAMIKA KEKUASAAN DALAM KELOMPOK
Penelitian oleh Keltner, Gruenfeld, & Anderson (2003) dalam Approach/Inhibition Theory of Power menunjukkan bahwa kekuasaan tinggi mengaktifkan sistem approach (fokus pada reward, tindakan, dan disinhibisi), sedangkan kekuasaan rendah mengaktifkan sistem inhibition (fokus pada ancaman dan kehati-hatian). Akibatnya, pemegang kekuasaan tinggi cenderung kurang berempati dan kurang mampu mengambil perspektif orang lain.
1. Hierarki Kekuasaan dan Stratifikasi
Hampir semua kelompok, bahkan kelompok tanpa struktur formal, secara spontan membentuk hierarki kekuasaan (dominance hierarchy). Hierarki ini muncul melalui proses diferensiasi status berdasarkan kontribusi, keahlian, dan dominasi. Berger, Cohen, & Zelditch (1972) dalam Expectation States Theory menjelaskan bahwa kelompok membentuk ekspektasi tentang kompetensi anggota berdasarkan karakteristik status (gender, usia, pendidikan), dan memberikan lebih banyak kekuasaan kepada yang dianggap berstatus tinggi. Fungsi Hierarki: mengurangi konflik perebutan kekuasaan, memberikan prediktabilitas, dan meningkatkan koordinasi. Namun hierarki yang terlalu curam dan kaku mengurangi partisipasi dan kreativitas.
2. Kekuasaan dan Konformitas
Kekuasaan dalam kelompok digunakan untuk menegakkan norma dan mendorong konformitas melalui dua proses menurut Deutsch & Gerard (1955):
a. Pengaruh Normatif (Normative Influence)
Anggota konform karena ingin diterima dan menghindari penolakan. Kekuasaan reward, coercive, dan referent bekerja melalui mekanisme ini.
b. Pengaruh Informasional (Informational Influence)
Anggota konform karena menganggap kelompok memiliki informasi yang benar. Kekuasaan expert dan informational bekerja melalui mekanisme ini.
3. Proses Korupsi Kekuasaan (The Corrupting Effect of Power)
Penelitian klasik oleh Kipnis (1972) menunjukkan bahwa kekuasaan yang tinggi dapat merusak pemimpin. Pemimpin dengan kekuasaan tinggi cenderung:
a. Meremehkan kontribusi bawahan dan melebih-lebihkan kontribusi diri sendiri.
b. Menjaga jarak psikologis dengan bawahan.
c. Menggunakan lebih banyak taktik pengaruh yang keras.
E. TAKTIK-TAKTIK PENGARUH: BAGAIMANA KEKUASAAN DIGUNAKAN?
Penelitian meta-analisis oleh Higgins, Judge, & Ferris (2003) menunjukkan taktik lunak seperti rational persuasion dan inspirational appeal lebih efektif menghasilkan komitmen daripada taktik keras.
Yukl & Falbe (1990) dan Yukl, Seifert, & Chavez (2008) mengidentifikasi 9-11 taktik pengaruh yang digunakan pemegang kekuasaan dalam kelompok:
1. Taktik Keras (Hard Tactics):
a. Pressure (tekanan, paksaan)
b. Legitimating (menggunakan aturan formal)
c. Coalition (membentuk koalisi)
2. Taktik Lunak (Soft Tactics):
a. Rational Persuasion (persuasi rasional menggunakan data dan logika) - taktik paling efektif dan paling sering digunakan.
b. Inspirational Appeal (menggunakan visi dan emosi)
c. Consultation (melibatkan target dalam perencanaan)
d. Ingratiation (menjilat, pujian)
e. Personal Appeal (permintaan personal)
f. Exchange (pertukaran, tawar-menawar)
F. KEKUASAAN, KEKOHESIVAN, DAN EFEKTIVITAS KELOMPOK
1. Kekuasaan dan Kohesivitas
Kekuasaan yang didistribusikan secara adil dan berbasis expert dan referent meningkatkan kohesivitas. Kekuasaan yang terpusat secara ekstrem dan berbasis coercive mengurangi kohesivitas dan meningkatkan konflik.
2. Kekuasaan dan Efektivitas:
Podsakoff et al. (2006) dalam meta-analisis menunjukkan bahwa penggunaan kekuasaan posisi (reward kontingen) secara adil berkorelasi positif dengan kinerja, sedangkan coercive berkorelasi negatif. Expert dan referent power berkorelasi paling kuat dengan efektivitas kelompok dan kepemimpinan transformasional.
DAFTAR PUSTAKA
Baron, R. A., & Byrne, D. (2005). Social psychology (10th ed.). Pearson.
Berger, J., Cohen, B. P., & Zelditch, M. (1972). Status characteristics and social interaction. American Sociological Review, 37(3), 241–255. https://doi.org/10.2307/2093465
Deutsch, M., & Gerard, H. B. (1955). A study of normative and informational social influences upon individual judgment. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 51(3), 629–636. https://doi.org/10.1037/h0046408
Forsyth, D. R. (2018). Group dynamics (7th ed.). Cengage Learning.
Freeman, L. C. (1979). Centrality in social networks: Conceptual clarification. Social Networks, 1(3), 215–239. https://doi.org/10.1016/0378-8733(78)90021-7
French, J. R. P., & Raven, B. H. (1959). The bases of social power. In D. Cartwright (Ed.), Studies in social power (pp. 150–167). Institute for Social Research.
Higgins, C. A., Judge, T. A., & Ferris, G. R. (2003). Influence tactics and work outcomes: A meta-analysis. Journal of Organizational Behavior, 24(1), 89–106. https://doi.org/10.1002/job.181
Keltner, D., Gruenfeld, D. H., & Anderson, C. (2003). Power, approach, and inhibition. Psychological Review, 110(2), 265–284. https://doi.org/10.1037/0033-295X.110.2.265
Kipnis, D. (1972). Does power corrupt? Journal of Personality and Social Psychology, 24(1), 33–41. https://doi.org/10.1037/h0033390
Liden, R. C., Wayne, S. J., & Stilwell, D. (1993). A longitudinal study on the early development of leader-member exchanges. Journal of Applied Psychology, 78(4), 662–674. https://doi.org/10.1037/0021-9010.78.4.662
Pfeffer, J., & Salancik, G. R. (1978). The external control of organizations: A resource dependence perspective. Harper & Row.
Podsakoff, P. M., & Schriesheim, C. A. (1985). Field studies of French and Raven's bases of power: Critique, reanalysis, and suggestions for future research. Psychological Bulletin, 97(3), 387–411. https://doi.org/10.1037/0033-2909.97.3.387
Podsakoff, P. M., Bommer, W. H., Podsakoff, N. P., & MacKenzie, S. B. (2006). Relationships between leader reward and punishment behavior and subordinate attitudes, perceptions, and behaviors: A meta-analytic review of existing and new research. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 99(2), 113–142. https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2005.09.002
Raven, B. H. (1965). Social influence and power. In I. D. Steiner & M. Fishbein (Eds.), Current studies in social psychology (pp. 371–382). Holt, Rinehart & Winston.
Raven, B. H. (2008). The bases of power and the power/interaction model of interpersonal influence. Analyses of Social Issues and Public Policy, 8(1), 1–22. https://doi.org/10.1111/j.1530-2415.2008.00159.x
Yukl, G. (2013). Leadership in organizations (8th ed.). Pearson.
Yukl, G., & Falbe, C. M. (1990). Influence tactics and objectives in upward, downward, and lateral influence attempts. Journal of Applied Psychology, 75(2), 132–140. https://doi.org/10.1037/0021-9010.75.2.132
Yukl, G., & Falbe, C. M. (1991). Importance of different power sources in downward and lateral relations. Journal of Applied Psychology, 76(3), 416–423. https://doi.org/10.1037/0021-9010.76.3.416
Yukl, G., Seifert, C. F., & Chavez, C. (2008). Validation of the extended Influence Behavior Questionnaire. The Leadership Quarterly, 19(5), 609–621. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2008.07.006
Komentar
Posting Komentar