Tahap Oral Menurut Sigmund Freud



oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.


A. Definisi
Tahap oral adalah tahap pertama dalam teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud, yang terjadi pada masa kanak-kanak awal (0-1 tahun). Pada tahap ini, anak-anak memperoleh kepuasan melalui mulut, seperti menyusu dan makan.

B. Karakteristik Tahap Oral
Karakteristik tahap oral menurut Sigmund Freud adalah:
- Kebutuhan yang kuat untuk menyusu dan makan: Anak-anak pada tahap oral memiliki kebutuhan yang kuat untuk menyusu dan makan, karena mereka masih dalam proses perkembangan dan memerlukan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang.
- Memperoleh kepuasan melalui mulut: Anak-anak pada tahap oral memperoleh kepuasan melalui mulut, seperti mengisap jari atau benda lainnya, karena mereka belum memiliki kemampuan untuk memperoleh kepuasan melalui cara lain.
- Ketergantungan yang kuat pada orang tua atau pengasuh: Anak-anak pada tahap oral memiliki ketergantungan yang kuat pada orang tua atau pengasuh, karena mereka masih dalam proses perkembangan dan memerlukan perawatan dan perlindungan dari orang lain.
- Belum memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan: Anak-anak pada tahap oral belum memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan dan ingin segera mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena mereka masih dalam proses perkembangan dan belum memiliki kemampuan untuk mengontrol diri.


C. Konflik Tahap Oral
Konflik tahap oral menurut Sigmund Freud adalah:
- Konflik antara kebutuhan untuk menyusu dan kebutuhan untuk menjadi mandiri: Anak-anak pada tahap oral memiliki kebutuhan yang kuat untuk menyusu dan makan, tetapi mereka juga mulai menyadari bahwa mereka tidak dapat selalu bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini menyebabkan konflik antara kebutuhan untuk menyusu dan kebutuhan untuk menjadi mandiri.
- Konflik antara keinginan untuk menerima dan keinginan untuk memberikan: Anak-anak pada tahap oral memiliki keinginan untuk menerima kasih sayang dan perhatian dari orang lain, tetapi mereka juga mulai menyadari bahwa mereka juga dapat memberikan kasih sayang dan perhatian kepada orang lain. Hal ini menyebabkan konflik antara keinginan untuk menerima dan keinginan untuk memberikan.
- Konflik antara kebutuhan untuk kontrol dan kebutuhan untuk bergantung: Anak-anak pada tahap oral memiliki kebutuhan untuk kontrol atas lingkungan mereka, tetapi mereka juga menyadari bahwa mereka tidak dapat selalu mengontrol segala sesuatu. Hal ini menyebabkan konflik antara kebutuhan untuk kontrol dan kebutuhan untuk bergantung pada orang lain

Akibat dari Konflik Tahap Oral:
- Jika konflik tahap oral tidak diatasi dengan baik, anak-anak dapat mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan untuk mengatur diri sendiri dan menghadapi stres.
- Mereka juga dapat mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain.
- Dalam beberapa kasus, konflik tahap oral yang tidak diatasi dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian.


D. Hasil Tahap Oral
a. Jika Berhasil
 Hasil tahap oral menurut Sigmund Freud adalah:
- Kepercayaan diri yang kuat: Anak-anak yang berhasil melewati tahap oral dengan baik akan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dengan lebih baik.
- Kemampuan untuk menerima dan memberikan kasih sayang: Anak-anak yang berhasil melewati tahap oral dengan baik akan memiliki kemampuan untuk menerima dan memberikan kasih sayang kepada orang lain, serta memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain.
- Kemampuan untuk mengatur diri sendiri: Anak-anak yang berhasil melewati tahap oral dengan baik akan memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri dan menghadapi stres dengan lebih baik.
- Kemampuan untuk menunda kepuasan: Anak-anak yang berhasil melewati tahap oral dengan baik akan memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan dan menghadapi frustrasi dengan lebih baik.
- Kemampuan untuk menghadapi perubahan: Anak-anak yang berhasil melewati tahap oral dengan baik akan memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan dan menghadapi ketidakpastian dengan lebih baik.

b. Jika Tahap Oral Tidak Berhasil
- Jika tahap oral tidak berhasil, anak-anak dapat mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan untuk mengatur diri sendiri dan menghadapi stres.
- Mereka juga dapat mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain.
- Dalam beberapa kasus, kegagalan tahap oral dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian.


E. Fiksasi Tahap Oral
a. Definisi
Fiksasi tahap oral menurut Sigmund Freud adalah suatu kondisi di mana individu tetap terjebak dalam tahap oral dan tidak dapat melanjutkan ke tahap perkembangan selanjutnya. Hal ini dapat terjadi jika individu tidak dapat mengatasi konflik tahap oral dengan baik.

b. Ciri-ciri Fiksasi Tahap Oral
- Ketergantungan yang berlebihan pada orang lain: Individu yang mengalami fiksasi tahap oral cenderung memiliki ketergantungan yang berlebihan pada orang lain dan memerlukan perhatian dan kasih sayang yang terus-menerus.
- Kebutuhan yang tidak terpuaskan untuk menerima: Individu yang mengalami fiksasi tahap oral memiliki kebutuhan yang tidak terpuaskan untuk menerima kasih sayang, perhatian, dan pujian dari orang lain.
- Perilaku yang egois: Individu yang mengalami fiksasi tahap oral cenderung memiliki perilaku yang egois dan hanya memikirkan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.
- Kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat: Individu yang mengalami fiksasi tahap oral cenderung memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain karena mereka terlalu bergantung pada orang lain.

c. Contoh Fiksasi Tahap Oral
- Makan berlebihan: Makan berlebihan dapat menjadi contoh fiksasi tahap oral karena individu yang makan berlebihan cenderung memiliki kebutuhan yang tidak terpuaskan untuk menerima makanan dan memiliki ketergantungan yang berlebihan pada makanan.
- Ketergantungan pada orang lain: Ketergantungan pada orang lain dapat menjadi contoh fiksasi tahap oral karena individu yang bergantung pada orang lain cenderung memiliki kebutuhan yang tidak terpuaskan untuk menerima perhatian dan kasih sayang dari orang lain.


F. Implikasi Tahap Oral dalam Kehidupan Dewasa
Tahap oral dapat memiliki implikasi yang signifikan dalam kehidupan dewasa. Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, karena mereka masih memiliki kebutuhan yang kuat untuk menerima kasih sayang dan perhatian dari orang lain.
Implikasi tahap oral dalam kehidupan dewasa menurut Sigmund Freud adalah:
- Ketergantungan pada orang lain: Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki ketergantungan yang kuat pada orang lain, seperti pasangan, keluarga, atau teman, untuk memenuhi kebutuhan emosi dan psikologis mereka.
- Kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat: Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, karena mereka mungkin memiliki kebutuhan yang kuat untuk menerima kasih sayang dan perhatian dari orang lain.
- Perilaku yang berlebihan: Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki perilaku yang berlebihan, seperti makan berlebihan, 
- Kesulitan dalam mengatur emosi: Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam mengatur emosi mereka sendiri, seperti menghadapi stres, kecemasan, atau depresi.
- Kesulitan dalam menghadapi perubahan: Individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian, karena mereka mungkin memiliki kebutuhan yang kuat untuk kontrol dan keamanan.

Contoh Kasus
- Seorang individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan pasangan mereka, karena mereka masih memiliki kebutuhan yang kuat untuk menerima kasih sayang dan perhatian dari pasangan mereka.
- Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengatur emosi mereka sendiri dan mungkin memiliki perilaku yang impulsif, seperti membeli barang-barang yang tidak perlu atau menghabiskan uang secara berlebihan.
- Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk batasan yang sehat dengan orang lain dan mungkin memiliki kesulitan dalam mengatakan "tidak" kepada orang lain, sehingga mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengatur waktu dan prioritas mereka sendiri.
- Seorang individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki perilaku yang berlebihan, seperti makan berlebihan, ketika mereka menghadapi stres atau kecemasan.
- Seorang individu yang memiliki fiksasi pada tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, karena mereka mungkin memiliki kebutuhan yang kuat untuk menerima kasih sayang dan perhatian dari orang lain.


G. Gangguan
a. Definiai
 Gangguan tahap oral menurut Sigmund Freud adalah suatu kondisi di mana individu memiliki kesulitan dalam mengatasi konflik-konflik yang terkait dengan tahap oral, sehingga menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Jenis Gangguan Tahap Oral
- Gangguan Makan: Gangguan makan, seperti anorexia nervosa, bulimia nervosa, atau binge eating disorder, dapat menjadi contoh gangguan tahap oral.
- Gangguan Kecemasan: Gangguan kecemasan, seperti gangguan kecemasan umum atau gangguan kecemasan sosial, dapat menjadi contoh gangguan tahap oral.
- Gangguan Depresi: Gangguan depresi, seperti depresi mayor atau gangguan bipolar, dapat menjadi contoh gangguan tahap oral.
- Gangguan Kepribadian: Gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian narsisistik atau gangguan kepribadian borderline, dapat menjadi contoh gangguan tahap oral.

c. Gejala Gangguan Tahap Oral
- Ketergantungan pada orang lain: Individu yang memiliki gangguan tahap oral mungkin memiliki ketergantungan yang kuat pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan emosi dan psikologis mereka.
- Perilaku yang berlebihan: Individu yang memiliki gangguan tahap oral mungkin memiliki perilaku yang berlebihan, seperti makan berlebihan, minum alkohol, atau menggunakan narkoba, untuk memenuhi kebutuhan emosi dan psikologis mereka.
- Kesulitan dalam mengatur emosi: Individu yang memiliki gangguan tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam mengatur emosi mereka sendiri, seperti menghadapi stres, kecemasan, atau depresi.
- Kesulitan dalam membentuk hubungan: Individu yang memiliki gangguan tahap oral mungkin memiliki kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain.


H. Pengobatan
a. Definisi
Pengobatan tahap oral menurut Sigmund Freud adalah suatu proses yang bertujuan untuk membantu individu memahami dan mengatasi konflik-konflik yang terkait dengan tahap oral. 

b. Metode
Berikut adalah beberapa metode pengobatan yang digunakan oleh Freud:
1. Terapi Psikoanalitik: Terapi psikoanalitik adalah metode pengobatan yang digunakan oleh Freud untuk membantu individu memahami dan mengatasi konflik-konflik yang tidak disadari. Terapi ini melibatkan proses analisis yang mendalam tentang pikiran, perasaan, dan perilaku individu.
2. Analisis Mimpi: Analisis mimpi adalah suatu metode yang digunakan oleh Freud untuk memahami konflik-konflik yang tidak disadari. Mimpi dianggap sebagai suatu cara untuk mengungkapkan konflik-konflik yang tidak disadari.
3. Teknik Asosiasi Bebas: Teknik asosiasi bebas adalah suatu metode yang digunakan oleh Freud untuk membantu individu mengungkapkan konflik-konflik yang tidak disadari. Individu diminta untuk mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran mereka tanpa ada sensor atau kontrol.
4. Transferensi: Transferensi adalah suatu proses yang terjadi dalam terapi psikoanalitik di mana individu mengembangkan perasaan dan sikap yang terkait dengan orang lain (seperti orang tua) terhadap terapis.
5. Interpretasi: Interpretasi adalah suatu proses yang digunakan oleh Freud untuk membantu individu memahami konflik-konflik yang tidak disadari. Terapis memberikan interpretasi tentang pikiran, perasaan, dan perilaku individu untuk membantu mereka memahami konflik-konflik yang tidak disadari.

c. Tujuan Pengobatan
Tujuan pengobatan tahap oral menurut Freud adalah, untuk membantu individu:
- Mengatasi konflik-konflik yang terkait dengan tahap oral
- Mengembangkan kemampuan untuk mengatur emosi dan perilaku
- Meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan untuk memahami diri sendiri
- Mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan orang lain

d. Keterbatasan Pengobatan
Pengobatan tahap oral menurut Freud memiliki beberapa keterbatasan, seperti:
- Terapi psikoanalitik dapat memakan waktu yang lama dan memerlukan komitmen yang kuat dari individu
- Terapi psikoanalitik dapat memicu perasaan yang tidak nyaman atau bahkan trauma
- Terapi psikoanalitik tidak selalu efektif untuk semua individu


I. Kritik dan Kontroversi
a. Secara Umum
Kritik teori tahap oral menurut Sigmund Freud adalah:
- Kurangnya bukti empiris: Beberapa peneliti telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memiliki bukti empiris yang cukup untuk mendukungnya.
- Kurangnya definisi yang jelas: Beberapa peneliti telah mengkritik bahwa definisi tahap oral Freud tidak jelas dan tidak spesifik.
- Kurangnya aplikasi praktis: Beberapa peneliti telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memiliki aplikasi praktis yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
- Kurangnya perhatian pada faktor lingkungan: Beberapa peneliti telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan individu.
- Kurangnya perhatian pada perbedaan individu: Beberapa peneliti telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan perbedaan individu dan menganggap bahwa semua individu mengalami tahap oral dengan cara yang sama.

b. Kritik dari Perspektif Psikologi Modern
- Teori kelekatan: Teori kelekatan yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan pentingnya kelekatan antara anak dan pengasuh.
- Teori perkembangan kognitif: Teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan perkembangan kognitif individu.
- Teori sosial-kognitif: Teori sosial-kognitif yang dikembangkan oleh Albert Bandura telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan peran lingkungan sosial dalam mempengaruhi perilaku individu.

c. Kritik dari Perspektif Feminisme
- Kurangnya perhatian pada pengalaman perempuan: Beberapa peneliti feminisme telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan pengalaman perempuan dan menganggap bahwa pengalaman laki-laki sebagai norma.
- Kurangnya perhatian pada peran sosial: Beberapa peneliti feminisme telah mengkritik bahwa teori tahap oral Freud tidak memperhatikan peran sosial yang dapat mempengaruhi pengalaman individu.



J. Penelitian Modern
Penelitian modern tentang tahap oral menurut Sigmund Freud telah berkembang dan memperluas pemahaman kita tentang perkembangan psikologis manusia. Berikut beberapa temuan penelitian modern:
1. Teori Kelekatan (Attachment Theory)
Penelitian oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth menunjukkan bahwa kelekatan antara anak dan pengasuh utama memengaruhi kemampuan seseorang membentuk relasi sehat di masa depan. Ini mendukung gagasan Freud bahwa pengalaman masa kanak-kanak sangat menentukan pembentukan kepribadian dan kesehatan mental di masa dewasa ¹.
2. Studi ACE (Adverse Childhood Experiences)
Studi ACE oleh CDC dan Kaiser Permanente membuktikan bahwa trauma masa kecil (seperti kekerasan atau kehilangan orang tua) berkorelasi dengan depresi, kecanduan, hingga penyakit fisik di usia dewasa. Ini mendukung gagasan Freud bahwa pengalaman masa kanak-kanak memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan mental ¹.
3..Neurosains Kognitif
Penelitian neurosains kognitif menemukan bahwa banyak keputusan dan penilaian kita dibuat di luar kesadaran, melibatkan bagian otak seperti amigdala dan korteks prefrontal bawah sadar. Ini mendukung gagasan Freud tentang alam bawah sadar ¹.
4. Terapi Psikoanalitik
Terapi psikoanalitik modern masih menggunakan konsep-konsep Freud, seperti alam bawah sadar, untuk memahami akar masalah psikologis seseorang.


DAFTAR PUSTAKA
Freud, S. (1915). Instincts and their Vicissitudes. International Journal of Psycho-Analysis, 6(2), 131-154.
Freud, S. (1923). The Ego and the Id. London: Hogarth Press.
Freud, S. (1933). New Introductory Lectures on Psycho-Analysis. International Journal of Psycho-Analysis, 14(1), 1-34.
Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.
Ainsworth, M. D. S. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. New York: International Universities Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Nama Sayuran Dalam Bahasa Arab