Tahap Perkembangan Tahap Latensi Akhir





TAHAP LATENSI AKHIR MENURUT SIGMUND FREUD
oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Rabu, 21 Januari 2026


A. Pengertian
Tahap Latensi Akhir adalah subtahap ketiga dari Tahap Latensi (6-12 tahun) menurut Sigmund Freud. Pada tahap ini, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan sosial dan intelektual mereka, serta memahami aturan-aturan masyarakat.

B. Karakteristik Tahap Latensi Akhir
1. Mengembangkan kemampuan sosial:
- Anak-anak mulai memahami aturan-aturan masyarakat dan mengembangkan kemampuan untuk mengikuti aturan-aturan tersebut (Erikson, 1950).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan memahami perasaan orang lain (Freud, 1923).
2. Mengembangkan kemampuan intelektual:
- Anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk berpikir logis dan memecahkan masalah (Piaget, 1952).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk mengontrol impuls dan mengembangkan kemampuan untuk menunggu kepuasan (Freud, 1933).
3. Mengembangkan identitas:
- Anak-anak mulai mengembangkan identitas mereka dan memahami perbedaan antara diri sendiri dan orang lain (Erikson, 1950).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri dan menunda kepuasan (Freud, 1923).
4. Mengembangkan kemampuan untuk bekerja sama:
- Anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dan mencapai tujuan bersama (Erikson, 1950).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk memimpin dan mengikuti (Freud, 1933).


C. Konflik Tahap Latensi Akhir
a. Konflik Tahap Latensi Akhir
1. Konflik antara keinginan dan aturan:
- Anak-anak ingin melakukan apa yang mereka inginkan, namun harus mengikuti aturan-aturan masyarakat (Freud, 1923).
- Mereka harus belajar untuk mengontrol keinginan mereka dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku (Erikson, 1950).
2. Konflik antara kemandirian dan ketergantungan:
- Anak-anak ingin menjadi mandiri dan membuat keputusan sendiri, namun masih membutuhkan bantuan dan perlindungan dari orang lain (Freud, 1933).
- Mereka harus belajar untuk menyeimbangkan kemandirian dan ketergantungan (Erikson, 1950).
3. Konflik antara identitas dan peran:
- Anak-anak mulai mengembangkan identitas mereka dan memahami perbedaan antara diri sendiri dan orang lain (Erikson, 1950).
- Mereka harus belajar untuk menyeimbangkan identitas mereka dengan peran yang mereka mainkan dalam masyarakat (Freud, 1923).

b. Penyebab Konflik Tahap Latensi Akhir
1. Faktor keluarga:
- Konflik keluarga dan stres dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak (Freud, 1923).
- Orang tua yang tidak konsisten dalam memberikan aturan dan konsekuensi dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak (Erikson, 1950).
2. Faktor lingkungan:
- Lingkungan yang tidak mendukung dan tidak stabil dapat mempengaruhi perkembangan anak-anak (Freud, 1933).
- Anak-anak yang mengalami trauma atau kekerasan dapat mengalami konflik tahap latensi akhir (Erikson, 1950).


D. Proses Psikologi Tahap Latensi Akhir (10-12 tahun)
Tahap Latensi Akhir adalah subtahap ketiga dari Tahap Latensi (6-12 tahun) menurut Sigmund Freud. Pada tahap ini, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan sosial dan intelektual mereka, serta memahami aturan-aturan masyarakat.

a. Proses Psikologi Tahap Latensi Akhir
1. Pengembangan Ego:
- Anak-anak mulai mengembangkan ego mereka dan memahami perbedaan antara diri sendiri dan orang lain (Freud, 1923).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri dan menunda kepuasan (Erikson, 1950).
2. Pengembangan Kemampuan Berpikir:
- Anak-anak mulai mengembangkan kemampuan untuk berpikir logis dan memecahkan masalah (Piaget, 1952).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk mengontrol impuls dan mengembangkan kemampuan untuk menunggu kepuasan (Freud, 1933).
3. Pengembangan Kemampuan Sosial:
- Anak-anak mulai memahami aturan-aturan masyarakat dan mengembangkan kemampuan untuk mengikuti aturan-aturan tersebut (Erikson, 1950).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan memahami perasaan orang lain (Freud, 1923).
4. Pengembangan Identitas:
- Anak-anak mulai mengembangkan identitas mereka dan memahami perbedaan antara diri sendiri dan orang lain (Erikson, 1950).
- Mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri dan menunda kepuasan (Freud, 1923).

b. Mekanisme Pertahanan Ego
- Anak-anak menggunakan mekanisme pertahanan ego seperti represi, denial, dan proyeksi untuk menghadapi konflik dan stres (Freud, 1923).
- Mereka juga menggunakan mekanisme pertahanan ego seperti sublimasi dan kompensasi untuk mengembangkan kemampuan sosial dan intelektual mereka (Erikson, 1950).


E. Gangguan
1. Gangguan Perilaku:
- Anak-anak mungkin menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat, seperti agresivitas atau kenakalan (Freud, 1923).
- Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengontrol impuls dan emosi (Erikson, 1950).
2. Gangguan Emosi:
- Anak-anak mungkin mengalami emosi yang tidak stabil, seperti kecemasan atau depresi (Freud, 1933).
- Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengelola emosi dan mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan (Erikson, 1950).
3. Gangguan Sosial:
- Anak-anak mungkin memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain dan mengembangkan hubungan sosial (Freud, 1923).
- Mereka mungkin memiliki kesulitan dalam memahami aturan-aturan masyarakat dan mengikuti norma-norma sosial (Erikson, 1950).


F. Pengobatan
1. Terapi Psikodinamik:
- Terapi psikodinamik dapat membantu anak-anak memahami dan mengatasi konflik-konflik yang mereka hadapi (Freud, 1923).
- Terapi ini dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan untuk mengontrol emosi dan perilaku mereka (Erikson, 1950).
2. Terapi Kognitif-Perilaku:
- Terapi kognitif-perilaku dapat membantu anak-anak mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang tidak adaptif (Beck, 1976).
- Terapi ini dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan untuk mengatasi stres dan kecemasan (Kendall, 1994).
3. Terapi Keluarga:
- Terapi keluarga dapat membantu anak-anak dan keluarga mereka memahami dan mengatasi konflik-konflik yang mereka hadapi (Minuchin, 1974).
- Terapi ini dapat membantu anak-anak dan keluarga mereka mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif (Satir, 1967).


DAFTAR PUSTAKA
- Beck, A. T. (1995). Cognitive Therapy: Basics and Beyond. New York: Guilford Press.
- Erikson, E. H. (1950). Childhood and Society. New York: W.W. Norton & Company.
- Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society (2nd ed.). New York: W.W. Norton & Company.
- Freud, S. (1961). The Standard Edition of the Complete Psychological Works of Sigmund Freud. London: Hogarth Press.
- Freud, S. (1933). New Introductory Lectures on Psycho-Analysis. New York: W.W. Norton & Company.
- Minuchin, S. (1974). Families and Family Therapy. Cambridge, MA: Harvard University Press.
- Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. New York: International Universities Press.
- Satir, V. (1967). Conjoint Family Therapy. Palo Alto, CA: Science and Behavior Books.
- Freud, S. (1923). The Ego and the Id. International Journal of Psycho-Analysis, 4(2), 133-154.
- Kendall, P. C. (1994). Treating anxiety disorders in children: Results of a randomized clinical trial. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 62(1), 100-110.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Nama Sayuran Dalam Bahasa Arab