Perkembangan Ilmu Gizi
oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Senin, 26 Januari 2026
A. Penemuan Vitamin: Awal Perkembangan Ilmu Gizi
Penemuan vitamin oleh Casimir Funk pada tahun 1912 menandai awal perkembangan ilmu gizi. Vitamin adalah zat-zat yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk menjaga kesehatan. Berikut adalah beberapa tahapan penting dalam penemuan vitamin:
- Vitamin A (1913): Penemuan vitamin A oleh Elmer McCollum dan Margaret Davis pada tahun 1913 membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya vitamin dalam gizi.
- Vitamin D (1922): Penemuan vitamin D oleh Edward Mellanby pada tahun 1922 memperluas pengetahuan tentang vitamin dan penyakit rickets.
- Vitamin E (1922): Penemuan vitamin E oleh Herbert Evans dan Katherine Bishop pada tahun 1922 membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya vitamin E dalam gizi.
- Vitamin K (1929): Penemuan vitamin K oleh Henrik Dam pada tahun 1929 memperluas pengetahuan tentang vitamin dan penyakit koagulasi darah.
B. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1940-an: Penemuan Asam Amino
Tahun 1940-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dengan penemuan asam amino. Asam amino adalah komponen dasar protein yang sangat penting bagi kesehatan manusia.
a. Penemuan Asam Amino
Pada tahun 1940-an, ilmuwan seperti Linus Pauling dan Robert B. Corey melakukan penelitian tentang struktur protein dan menemukan bahwa protein terdiri dari asam amino. Mereka menemukan bahwa asam amino adalah komponen dasar protein yang sangat penting bagi kesehatan manusia.
b. Asam Amino Esensial
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ada beberapa asam amino yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia dan harus diperoleh dari makanan. Asam amino esensial ini termasuk:
- Histidin
- Isoleusin
- Leusin
- Lisin
- Metionin
- Fenilalanin
- Treonin
- Triptofan
- Valin
C. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1950-an: Penemuan Mineral
Tahun 1950-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dalam penemuan mineral. Mineral adalah zat-zat anorganik yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk menjaga kesehatan. Berikut adalah beberapa tahapan penting dalam penemuan mineral:
- Penemuan Kalsium (1950-an): Penemuan kalsium sebagai mineral esensial bagi kesehatan tulang dan gigi membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya kalsium dalam gizi.
- Penemuan Fosfor (1950-an): Penemuan fosfor sebagai mineral esensial bagi kesehatan tulang dan gigi memperluas pengetahuan tentang mineral dan kesehatan.
- Penemuan Besi (1950-an): Penemuan besi sebagai mineral esensial bagi produksi hemoglobin membuka jalan bagi pemahaman tentang pentingnya besi dalam gizi.
- Penemuan Seng (1950-an): Penemuan seng sebagai mineral esensial bagi kesehatan kulit dan sistem imun memperluas pengetahuan tentang mineral dan kesehatan.
D. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1960-an: Penemuan Gizi Seimbang
Tahun 1960-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dengan penemuan gizi seimbang. Gizi seimbang adalah konsep yang menekankan pentingnya keseimbangan antara karbohidrat, protein, dan lemak dalam makanan.
a. Penemuan Gizi Seimbang
Pada tahun 1960-an, ilmuwan seperti Ancel Keys dan Donald S. McLaughlin melakukan penelitian tentang hubungan antara gizi dan kesehatan. Mereka menemukan bahwa gizi seimbang sangat penting bagi kesehatan manusia dan dapat membantu mencegah penyakit kronis seperti jantung dan diabetes.
b. Konsep Gizi Seimbang
Gizi seimbang terdiri dari:
- Karbohidrat: 55-65% dari total kalori
- Protein: 10-15% dari total kalori
- Lemak: 20-30% dari total kalori
c. Rekomendasi Gizi Seimbang
Rekomendasi gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1968 adalah:
- Karbohidrat: 55-75% dari total kalori
- Protein: 10-15% dari total kalori
- Lemak: 15-30% dari total kalori
E. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1970-an: Penemuan Serat
Tahun 1970-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dalam penemuan serat. Serat adalah komponen makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan.
a. Penemuan Serat
Pada tahun 1970-an, ilmuwan seperti Denis Burkitt dan Hugh Trowell melakukan penelitian tentang peran serat dalam gizi. Mereka menemukan bahwa serat dapat membantu mencegah penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker kolon.
b. Jenis-jenis Serat
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ada beberapa jenis serat, termasuk:
- Serat larut (soluble fiber): dapat larut dalam air dan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah.
- Serat tidak larut (insoluble fiber): tidak dapat larut dalam air dan dapat membantu mencegah konstipasi.
c. Sumber Serat
Sumber serat yang baik termasuk:
- Sayuran
- Buah-buahan
- Biji-bijian
- Kacang-kacangan
F. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1980-an: Penemuan Antioksidan
Tahun 1980-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dengan penemuan antioksidan. Antioksidan adalah zat-zat yang dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
a. Penemuan Antioksidan
Pada tahun 1980-an, ilmuwan seperti Denham Harman dan Bruce Ames melakukan penelitian tentang peran antioksidan dalam kesehatan manusia. Mereka menemukan bahwa antioksidan dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan dapat membantu mencegah penyakit kronis seperti kanker dan jantung.
b. Jenis Antioksidan
Terdapat beberapa jenis antioksidan, termasuk:
- Vitamin C
- Vitamin E
- Beta-karoten
- Polifenol
- Flavonoid
c. Fungsi Antioksidan
Antioksidan memiliki beberapa fungsi, termasuk:
- Melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas
- Mengurangi risiko penyakit kronis seperti kanker dan jantung
- Meningkatkan sistem imun
- Melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV
G. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 1990-an: Penemuan Gizi Fungsional
Tahun 1990-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dalam penemuan gizi fungsional. Gizi fungsional adalah konsep yang menekankan pentingnya gizi dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.
a. Penemuan Gizi Fungsional
Pada tahun 1990-an, ilmuwan seperti Stephen DeFelice dan Mark L. Dreher melakukan penelitian tentang peran gizi dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Mereka menemukan bahwa gizi fungsional dapat membantu mencegah penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan kanker.
b. Konsep Gizi Fungsional
Gizi fungsional terdiri dari beberapa komponen, termasuk:
- Antioksidan: zat-zat yang dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
- Asam lemak omega-3: asam lemak yang dapat membantu menurunkan kadar trigliserida darah.
- Serat: komponen makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan.
c. Sumber Gizi Fungsional
Sumber gizi fungsional yang baik termasuk:
- Buah-buahan
- Sayuran
- Biji-bijian
- Ikan
- Kacang-kacangan
H. Perkembangan Ilmu Gizi Tahun 2000-an: Penemuan Gizi Personal
Tahun 2000-an merupakan periode penting dalam perkembangan ilmu gizi, terutama dengan penemuan gizi personal. Gizi personal adalah konsep yang menekankan pentingnya gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
a. Penemuan Gizi Personal
Pada tahun 2000-an, ilmuwan seperti David J. Jenkins dan Walter C. Willett melakukan penelitian tentang peran gizi dalam kesehatan individu. Mereka menemukan bahwa gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dapat membantu mencegah penyakit kronis dan meningkatkan kualitas hidup.
b. Konsep Gizi Personal
Gizi personal terdiri dari beberapa komponen, termasuk:
- Genetik: mempelajari bagaimana genetik individu mempengaruhi kebutuhan gizi.
- Lingkungan: mempelajari bagaimana lingkungan individu mempengaruhi kebutuhan gizi.
- Gaya hidup: mempelajari bagaimana gaya hidup individu mempengaruhi kebutuhan gizi.
c. Aplikasi Gizi Personal
Gizi personal telah diaplikasikan dalam beberapa bidang, termasuk:
- Nutrigenomik: mempelajari bagaimana gizi mempengaruhi ekspresi genetik.
- Nutrigenetik: mempelajari bagaimana genetik individu mempengaruhi kebutuhan gizi.
- Gizi olahraga: mempelajari bagaimana gizi dapat membantu meningkatkan performa olahraga.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ames, B. N. (1983). Dietary carcinogens and anticarcinogens. Science, 221(4617), 1256-1264.
Burkitt, D. P. (1978). Colonic Disease: The Fiber Story. Nutrition Reviews, 36(8), 233-237.
Burkitt, D. P., & Trowell, H. C. (1975). Refined Carbohydrate Foods and Disease: Some Implications of Dietary Fibre. London: Academic Press.
DeFelice, S. L. (1995). The Nutraceutical Revolution: Its Impact on Food Industry. Trends in Food Science & Technology, 6(2), 59-61.
Dreher, M. L. (1999). Food Industry and Nutraceuticals. Nutrition Reviews, 57(8), 241-247.
Gibson, R. S. (2005). Principles of Nutritional Assessment. Oxford University Press.
Harman, D. (1981). The aging process. Proceedings of the National Academy of Sciences, 78(11), 7124-7128.
Hasler, C. M. (2000). The Changing Face of Functional Foods. Journal of the American College of Nutrition, 19(5), 499S-506S.
Jenkins, D. J. (2007). The Glycemic Index: A Physiological Classification of Carbohydrates. Journal of Nutrition, 137(3), 594S-597S.
Jenkins, D. J., & Willett, W. C. (2003). Personalized Nutrition: A New Approach to Health. American Journal of Clinical Nutrition, 78(3), 529S-536S.
Keys, A. (1968). Coronary Heart Disease in Seven Countries. American Heart Association.
McCollum, E. V. (1957). A History of Nutrition. Boston: Houghton Mifflin.
McLaughlin, D. S. (1969). Nutrition and Health. Journal of Nutrition Education, 1(1), 1-6.
Milner, J. A. (2000). Functional Foods: The US Perspective. American Journal of Clinical Nutrition, 71(6), 1654S-1658S.
Pauling, L. (1940). The Nature of the Chemical Bond. Cornell University Press.
Shils, M. E., & Shike, M. (2006). Modern Nutrition in Health and Disease. Lippincott Williams & Wilkins.
Trowell, H. C. (1976). Definition of Dietary Fiber and Hypotheses That It Is a Protective Factor in Certain Diseases. American Journal of Clinical Nutrition, 29(4), 417-427.
Underwood, E. J. (1977). Trace Elements in Human and Animal Nutrition. New York: Academic Press.
WHO. (2018). Nutrition. World Health Organization.
Whitney, E. N., & Rolfes, S. R. (2018). Understanding Nutrition. 15th ed. Boston: Cengage Learning.
Willett, W. C. (2006). Eat, Drink, and Be Healthy: The Harvard Medical School Guide to Healthy Eating. New York: Free Press.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar