Tahap Anal Menurut Sigmund Freud
Tahap Anal (1-3 Tahun) Menurut Sigmund Freud
oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Kamis, 15 Januari 2026
A. Definisi Tahap Anal
Tahap anal adalah suatu tahap dalam perkembangan psikososial manusia di mana anak-anak belajar untuk mengontrol buang air besar dan kecil, serta mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan dan mengikuti aturan-aturan. Tahap anal menurut Sigmund Freud adalah tahap kedua dalam perkembangan psikososial manusia, yang terjadi pada usia 1-3 tahun. Pada tahap ini, anak-anak memperoleh kepuasan melalui kontrol atas buang air besar dan kecil.
B. Karakteristik
Karakteristik tahap anal menurut Sigmund Freud adalah sebagai berikut:
1. Kontrol atas buang air besar dan kecil: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk mengontrol buang air besar dan kecil, serta mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan dan mengikuti aturan-aturan.
2. Konflik dengan orang tua: Anak-anak pada tahap anal mengalami konflik dengan orang tua tentang aturan-aturan kebersihan dan disiplin.
3. Pengembangan kemampuan ego: Anak-anak pada tahap anal mengembangkan kemampuan ego, seperti kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dan mengikuti aturan-aturan.
4. Pengembangan rasa tanggung jawab: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri dan mengembangkan rasa tanggung jawab.
5. Pengembangan kemampuan sosial: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengembangkan kemampuan sosial.
C. Konflik Tahap Anal
1. Keinginan untuk memiliki kontrol: Anak-anak pada tahap anal memiliki keinginan untuk memiliki kontrol atas buang air besar dan kecil, serta mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan dan mengikuti aturan-aturan.
2. Kebutuhan orang tua untuk mengajarkan: Orang tua memiliki kebutuhan untuk mengajarkan anak tentang aturan-aturan kebersihan dan disiplin, serta membantu anak mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
3. Konflik antara keinginan dan kebutuhan: Konflik terjadi antara keinginan anak untuk memiliki kontrol dan kebutuhan orang tua untuk mengajarkan, sehingga anak-anak mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
D. Tujuan Tahap Anal
1. Mengembangkan kemampuan ego: Tujuan utama tahap anal adalah untuk membantu anak-anak mengembangkan kemampuan ego, seperti kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dan mengikuti aturan-aturan.
2. Mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk menunda kepuasan dan menghadapi frustrasi, sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
3. Mengembangkan kemampuan sosial: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengembangkan kemampuan sosial, seperti kemampuan untuk bekerja sama dan mengikuti aturan-aturan.
4. Mengembangkan rasa tanggung jawab: Anak-anak pada tahap anal belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri dan mengembangkan rasa tanggung jawab.
E. Mekanisme Pertahanan Tahap Anal
1. Represi: Anak-anak pada tahap anal mungkin menggunakan represi untuk menekan keinginan mereka untuk buang air besar atau kecil, sehingga mereka tidak harus menghadapi konflik dengan orang tua.
2. Denial: Anak-anak pada tahap anal mungkin menggunakan denial untuk menolak bahwa mereka memiliki keinginan untuk buang air besar atau kecil, sehingga mereka tidak harus menghadapi konflik dengan orang tua.
3. Proyeksi: Anak-anak pada tahap anal mungkin menggunakan proyeksi untuk memproyeksikan keinginan mereka untuk buang air besar atau kecil kepada orang lain, sehingga mereka tidak harus menghadapi konflik dengan orang tua.
4. Regresi: Anak-anak pada tahap anal mungkin menggunakan regresi untuk kembali ke tahap perkembangan sebelumnya, sehingga mereka tidak harus menghadapi konflik dengan orang tua.
5. Reaksi formasi: Anak-anak pada tahap anal mungkin menggunakan reaksi formasi untuk mengembangkan perilaku yang berlawanan dengan keinginan mereka, sehingga mereka tidak harus menghadapi konflik dengan orang tua.
F. Hasil
1. Kemampuan mengontrol diri sendiri: Anak-anak yang berhasil melewati tahap anal akan memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dan mengikuti aturan-aturan.
2. Kemampuan menunda kepuasan: Anak-anak yang berhasil melewati tahap anal akan memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan dan menghadapi frustrasi.
3. Kemampuan sosial: Anak-anak yang berhasil melewati tahap anal akan memiliki kemampuan sosial yang baik, seperti kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengikuti aturan-aturan.
4. Kemampuan ego: Anak-anak yang berhasil melewati tahap anal akan memiliki kemampuan ego yang kuat, seperti kemampuan untuk mengontrol diri sendiri dan menghadapi frustrasi.
G. Fiksasi
1. Kesulitan mengontrol diri sendiri: Anak-anak yang mengalami fiksasi tahap anal memiliki kesulitan dalam mengontrol diri sendiri. Mereka mungkin memiliki kebiasaan buruk seperti menghisap jari atau menggenggam benda.
2. Kesulitan mengikuti aturan-aturan: Anak-anak yang mengalami fiksasi tahap anal memiliki kesulitan dalam mengikuti aturan-aturan dan mengikuti instruksi.
3. Kecemasan dan stres: Anak-anak yang mengalami fiksasi tahap anal mungkin mengalami kecemasan dan stres karena kesulitan mereka dalam mengontrol diri sendiri.
4. Masalah perilaku: Anak-anak yang mengalami fiksasi tahap anal mungkin memiliki masalah perilaku, seperti agresivitas atau menarik diri.
H. Gangguan
1. Fiksasi anal: Fiksasi anal adalah suatu kondisi di mana anak-anak tidak dapat melewati tahap anal, sehingga mereka tetap memiliki keinginan yang kuat untuk buang air besar atau kecil, serta tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
2. Kecemasan anal: Kecemasan anal adalah suatu kondisi di mana anak-anak mengalami kecemasan yang berlebihan terkait dengan buang air besar atau kecil, sehingga mereka tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
3. Gangguan kepribadian anal: Gangguan kepribadian anal adalah suatu kondisi di mana anak-anak memiliki kepribadian yang terlalu ketat atau terlalu santai, sehingga mereka tidak dapat mengembangkan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
4. Gangguan perilaku anal: Gangguan perilaku anal adalah suatu kondisi di mana anak-anak memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial, seperti buang air besar atau kecil di tempat yang tidak tepat.
I. Pengobatan
1. Terapi Psikoanalisis: Terapi psikoanalisis adalah suatu proses terapi yang bertujuan untuk membantu anak-anak memahami dan mengatasi kesulitan mereka dalam mengontrol diri sendiri dan mengikuti aturan-aturan.
2. Analisis Mimpi: Analisis mimpi adalah suatu teknik yang digunakan dalam terapi psikoanalisis untuk memahami keinginan dan konflik anak-anak yang tidak disadari.
3. Teknik Asosiasi Bebas: Teknik asosiasi bebas adalah suatu teknik yang digunakan dalam terapi psikoanalisis untuk membantu anak-anak mengungkapkan keinginan dan konflik mereka yang tidak disadari.
4. Transferensi: Transferensi adalah suatu proses yang terjadi dalam terapi psikoanalisis di mana anak-anak mengembangkan perasaan dan sikap yang terkait dengan orang tua mereka terhadap terapis.
5. Interpretasi: Interpretasi adalah suatu proses yang digunakan dalam terapi psikoanalisis untuk membantu anak-anak memahami dan mengatasi kesulitan mereka dalam mengontrol diri sendiri dan mengikuti aturan-aturan.
J. Kritik
1. Kurangnya bukti empiris: Beberapa peneliti mengkritik bahwa teori tahap anal Freud tidak memiliki bukti empiris yang cukup untuk mendukungnya.
2. Kurangnya definisi yang jelas: Beberapa peneliti mengkritik bahwa definisi tahap anal Freud tidak jelas dan tidak spesifik.
3. Kurangnya aplikasi praktis: Beberapa peneliti mengkritik bahwa teori tahap anal Freud tidak memiliki aplikasi praktis yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kurangnya perhatian pada faktor lingkungan: Beberapa peneliti mengkritik bahwa teori tahap anal Freud tidak memperhatikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.
5. Kurangnya perhatian pada perbedaan individu: Beberapa peneliti mengkritik bahwa teori tahap anal Freud tidak memperhatikan perbedaan individu dan menganggap bahwa semua anak mengalami tahap anal dengan cara yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
- Eysenck, H. J. (1952). The Scientific Study of Personality. London: Routledge.
- Fonagy, P., & Target, M. (2003). Psychoanalytic Theories: Perspectives from Developmental Psychopathology. London: Whurr Publishers.
- Freud, S. (1915). Instincts and their Vicissitudes. International Journal of Psycho-Analysis, 6(2), 131-154.
- Freud, S. (1923). The Ego and the Id. London: Hogarth Press.
- Freud, S. (1933). New Introductory Lectures on Psycho-Analysis. International Journal of Psycho-Analysis, 14(1), 1-34.
- Kline, P. (1984). Psychology and Freudian Theory: An Introduction. London: Routledge.
- Westen, D. (1998). The Scientific Status of Freudian Theory. American Psychologist, 53(6), 633-645. 😊

Komentar
Posting Komentar