Tahap Perkembangan Manusia Pada Tahap Bayi

TAHAP PERKEMBANGAN MANUSIA PADA TAHAP BAYI
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Senin, 26 Januari 2026



A. Perkembangan Fisik
Perkembangan Fisik: 
- Bayi lahir dengan berat badan sekitar 3-4 kg dan panjang badan sekitar 50-60 cm (Hurlock, 1978, p. 120).
- Pada usia 1 tahun, berat badan bayi meningkat menjadi sekitar 9-10 kg dan panjang badan menjadi sekitar 70-80 cm (Hurlock, 1978, p. 120).
- Bayi mengalami perkembangan fisik yang cepat, termasuk perkembangan otot, tulang, dan sistem saraf (Hurlock, 1978, p. 121).
- Bayi mulai mengembangkan kemampuan motorik, seperti mengangkat kepala, menggulung, duduk, dan berdiri (Hurlock, 1978, p. 122).
- Bayi juga mengalami perkembangan sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem saraf (Hurlock, 1978, p. 121).

Tahap Perkembangan Fisik: 
- 0-3 bulan: Bayi mulai mengangkat kepala dan menggulung (Hurlock, 1978, p. 122).
- 4-6 bulan: Bayi mulai duduk dan mengambil objek (Hurlock, 1978, p. 122).
- 7-9 bulan: Bayi mulai berdiri dan berjalan dengan bantuan (Hurlock, 1978, p. 122).
- 10-12 bulan: Bayi mulai berjalan sendiri dan mengembangkan kemampuan motorik yang lebih kompleks (Hurlock, 1978, p. 122).


B. Perkembangan Motorik
a. Perkembangan Motorik Kasar
- Bayi mulai menggerakan lengan dan kaki pada usia 1-2 bulan (Hurlock, 1978, p. 120).
- Bayi mulai menggulung pada usia 4-6 bulan (Hurlock, 1978, p. 120).
- Bayi mulai duduk pada usia 6-7 bulan (Hurlock, 1978, p. 120).
- Bayi mulai berdiri pada usia 9-12 bulan (Hurlock, 1978, p. 120).

b. Perkembangan Motorik Halus
- Bayi mulai menggerakan jari-jari pada usia 1-2 bulan (Hurlock, 1978, p. 121).
- Bayi mulai mengambil objek pada usia 4-6 bulan (Hurlock, 1978, p. 121).
- Bayi mulai memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lain pada usia 6-8 bulan (Hurlock, 1978, p. 121).
- Bayi mulai menggunakan jari-jari untuk mengambil objek kecil pada usia 9-12 bulan (Hurlock, 1978, p. 121).

c. Perkembangan Keseimbangan dan Koordinasi
- Bayi mulai menunjukkan keseimbangan pada usia 4-6 bulan (Hurlock, 1978, p. 122).
- Bayi mulai menunjukkan koordinasi antara lengan dan kaki pada usia 6-8 bulan (Hurlock, 1978, p. 122).
- Bayi mulai menunjukkan keseimbangan dan koordinasi yang lebih baik pada usia 9-12 bulan (Hurlock, 1978, p. 122).

d. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik
- Faktor genetik dapat mempengaruhi perkembangan motorik bayi (Hurlock, 1978, p. 123).
- Faktor lingkungan, seperti stimulasi dan kesempatan bermain, dapat mempengaruhi perkembangan motorik bayi (Hurlock, 1978, p. 123).
- Faktor kesehatan, seperti nutrisi dan penyakit, dapat mempengaruhi perkembangan motorik bayi (Hurlock, 1978, p. 123).



C. Perkembangan Kognitif
a. Perkembangan Kognitif
- Bayi lahir dengan kemampuan kognitif yang terbatas, tetapi dapat membedakan antara suara dan wajah (Hurlock, 1978, p. 123).
- Pada usia 1-2 bulan, bayi mulai mengenali wajah dan suara ibu (Hurlock, 1978, p. 123).
- Pada usia 3-4 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan memori dan dapat mengenali objek yang familiar (Hurlock, 1978, p. 123).
- Pada usia 5-6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan problem-solving dan dapat menemukan objek yang tersembunyi (Hurlock, 1978, p. 124).
- Pada usia 7-12 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan bahasa dan dapat mengucapkan kata-kata pertama (Hurlock, 1978, p. 124).

b. Tahap Perkembangan Kognitif
- 0-3 bulan: Bayi mulai mengenali wajah dan suara ibu (Hurlock, 1978, p. 123).
- 4-6 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan memori dan dapat mengenali objek yang familiar (Hurlock, 1978, p. 123).
- 7-9 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan problem-solving dan dapat menemukan objek yang tersembunyi (Hurlock, 1978, p. 124).
- 10-12 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan bahasa dan dapat mengucapkan kata-kata pertama (Hurlock, 1978, p. 124).

c. Teori Perkembangan Kognitif
- Hurlock (1978) mengemukakan bahwa perkembangan kognitif bayi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan, genetik, dan interaksi sosial (Hurlock, 1978, p. 125).
- Bayi juga mengembangkan kemampuan kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi (Hurlock, 1978, p. 125).


D. Perkembangan Bahasa
a. Perkembangan Bahasa
- Bayi lahir dengan kemampuan bahasa yang terbatas, tetapi dapat membedakan antara suara dan nada (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 1-2 bulan, bayi mulai mengeluarkan suara-suara awal, seperti "ah" dan "uh" (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 3-4 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan memahami bahasa dan dapat mengenali nama-nama objek (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 5-6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan berbicara dan dapat mengucapkan kata-kata sederhana, seperti "mama" dan "papa" (Hurlock, 1978, p. 127).
- Pada usia 7-12 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan bahasa yang lebih kompleks dan dapat mengucapkan kata-kata yang lebih panjang (Hurlock, 1978, p. 127).

b. Tahap Perkembangan Bahasa
- 0-3 bulan: Bayi mulai mengeluarkan suara-suara awal (Hurlock, 1978, p. 126).
- 4-6 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan memahami bahasa (Hurlock, 1978, p. 126).
- 7-9 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan berbicara dan dapat mengucapkan kata-kata sederhana (Hurlock, 1978, p. 127).
- 10-12 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan bahasa yang lebih kompleks (Hurlock, 1978, p. 127).

c. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
- Faktor lingkungan, seperti interaksi sosial dan stimulasi bahasa, dapat mempengaruhi perkembangan bahasa bayi (Hurlock, 1978, p. 128).
- Faktor genetik juga dapat mempengaruhi perkembangan bahasa bayi (Hurlock, 1978, p. 128).
- Faktor kesehatan, seperti nutrisi dan penyakit, juga dapat mempengaruhi perkembangan bahasa bayi (Hurlock, 1978, p. 128).



E. Perkembangan Sensorik
a. Perkembangan Sensorik
- Bayi lahir dengan kemampuan sensorik yang terbatas, tetapi dapat merasakan sentuhan, suara, dan cahaya (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 1-2 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik, seperti mengenali suara dan wajah ibu (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 3-4 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih kompleks, seperti mengenali objek yang familiar dan membedakan antara warna (Hurlock, 1978, p. 126).
- Pada usia 5-6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih lanjut, seperti mengenali suara dan membedakan antara tekstur (Hurlock, 1978, p. 127).
- Pada usia 7-12 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih kompleks, seperti mengenali objek yang tersembunyi dan membedakan antara bau (Hurlock, 1978, p. 127).

b. Tahap Perkembangan Sensorik
- 0-3 bulan: Bayi mulai mengenali suara dan wajah ibu (Hurlock, 1978, p. 126).
- 4-6 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih kompleks, seperti mengenali objek yang familiar dan membedakan antara warna (Hurlock, 1978, p. 126).
- 7-9 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih lanjut, seperti mengenali suara dan membedakan antara tekstur (Hurlock, 1978, p. 127).
- 10-12 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sensorik yang lebih kompleks, seperti mengenali objek yang tersembunyi dan membedakan antara bau (Hurlock, 1978, p. 127).

c. Jenis-jenis Sensorik
- Sensorik visual: Bayi dapat mengenali wajah dan objek (Hurlock, 1978, p. 128).
- Sensorik auditori: Bayi dapat mengenali suara dan membedakan antara nada (Hurlock, 1978, p. 128).
- Sensorik taktil: Bayi dapat merasakan sentuhan dan membedakan antara tekstur (Hurlock, 1978, p. 128).
- Sensorik olfaktori: Bayi dapat mengenali bau dan membedakan antara aroma (Hurlock, 1978, p. 128).


F. Perkembangan Emosi
a. Perkembangan Emosi
- Bayi lahir dengan kemampuan emosi yang terbatas, tetapi dapat merasakan kesenangan dan ketidaknyamanan (Hurlock, 1978, p. 131).
- Pada usia 1-2 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi, seperti senyum dan menangis (Hurlock, 1978, p. 131).
- Pada usia 3-4 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih kompleks, seperti kegembiraan dan kesedihan (Hurlock, 1978, p. 131).
- Pada usia 5-6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih lanjut, seperti kemarahan dan ketakutan (Hurlock, 1978, p. 132).
- Pada usia 7-12 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih kompleks, seperti empati dan kebanggaan (Hurlock, 1978, p. 132).

b. Tahap Perkembangan Emosi
- 0-3 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi dasar, seperti senyum dan menangis (Hurlock, 1978, p. 131).
- 4-6 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih kompleks, seperti kegembiraan dan kesedihan (Hurlock, 1978, p. 131).
- 7-9 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih lanjut, seperti kemarahan dan ketakutan (Hurlock, 1978, p. 132).
- 10-12 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan emosi yang lebih kompleks, seperti empati dan kebanggaan (Hurlock, 1978, p. 132).

c. Jenis-jenis Emosi
- Emosi positif: Bayi dapat merasakan kegembiraan, kesenangan, dan kebanggaan (Hurlock, 1978, p. 133).
- Emosi negatif: Bayi dapat merasakan kesedihan, kemarahan, dan ketakutan (Hurlock, 1978, p. 133).
- Emosi sosial: Bayi dapat merasakan empati dan kebanggaan (Hurlock, 1978, p. 133).

d. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
- Faktor lingkungan, seperti interaksi sosial dan stimulasi, dapat mempengaruhi perkembangan emosi bayi (Hurlock, 1978, p. 134).
- Faktor genetik juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi bayi (Hurlock, 1978, p. 134).
- Faktor kesehatan, seperti nutrisi dan penyakit, juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi bayi (Hurlock, 1978, p. 134).


G. Perkembangan Sosial
a. Perkembangan Sosial
- Bayi lahir dengan kemampuan sosial yang terbatas, tetapi dapat membedakan antara wajah dan suara ibu (Hurlock, 1978, p. 130).
- Pada usia 1-2 bulan, bayi mulai menunjukkan minat pada wajah dan suara orang lain (Hurlock, 1978, p. 130).
- Pada usia 3-4 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial, seperti tersenyum dan mengucapkan suara-suara (Hurlock, 1978, p. 130).
- Pada usia 5-6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial yang lebih kompleks, seperti mengenali orang lain dan membedakan antara orang yang dikenal dan tidak dikenal (Hurlock, 1978, p. 131).
- Pada usia 7-12 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial yang lebih lanjut, seperti berbagi dan bergantian dengan orang lain (Hurlock, 1978, p. 131).

b. Tahap Perkembangan Sosial
- 0-3 bulan: Bayi mulai menunjukkan minat pada wajah dan suara orang lain (Hurlock, 1978, p. 130).
- 4-6 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial, seperti tersenyum dan mengucapkan suara-suara (Hurlock, 1978, p. 130).
- 7-9 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial yang lebih kompleks, seperti mengenali orang lain dan membedakan antara orang yang dikenal dan tidak dikenal (Hurlock, 1978, p. 131).
- 10-12 bulan: Bayi mulai mengembangkan kemampuan sosial yang lebih lanjut, seperti berbagi dan bergantian dengan orang lain (Hurlock, 1978, p. 131).

c. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
- Faktor lingkungan, seperti interaksi sosial dan stimulasi, dapat mempengaruhi perkembangan sosial bayi (Hurlock, 1978, p. 132).
- Faktor genetik juga dapat mempengaruhi perkembangan sosial bayi (Hurlock, 1978, p. 132).
- Faktor kesehatan, seperti nutrisi dan penyakit, juga dapat mempengaruhi perkembangan sosial bayi (Hurlock, 1978, p. 132).


H. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Tahap Bayi
a. Faktor Genetik
- Genetik memainkan peran penting dalam menentukan karakteristik fisik dan psikologis bayi (Hurlock, 1978, p. 132).
- Faktor genetik dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, motorik, dan sosial bayi (Hurlock, 1978, p. 132).

b. Faktor Lingkungan
- Lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan bayi, termasuk faktor-faktor seperti nutrisi, kesehatan, dan stimulasi (Hurlock, 1978, p. 133).
- Lingkungan yang seimbang dan mendukung dapat membantu bayi berkembang secara optimal (Hurlock, 1978, p. 133).

c. Faktor Nutrisi
- Nutrisi yang seimbang sangat penting untuk perkembangan bayi (Hurlock, 1978, p. 134).
- Kekurangan nutrisi dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif bayi (Hurlock, 1978, p. 134).

d. Faktor Kesehatan
- Kesehatan bayi sangat penting untuk perkembangan yang optimal (Hurlock, 1978, p. 135).
- Penyakit dan infeksi dapat mempengaruhi perkembangan bayi (Hurlock, 1978, p. 135).

e. Faktor Stimulasi
- Stimulasi yang seimbang sangat penting untuk perkembangan bayi (Hurlock, 1978, p. 136).
- Stimulasi yang kurang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan motorik bayi (Hurlock, 1978, p. 136).

f. Faktor Emosi
- Emosi ibu sangat penting untuk perkembangan bayi (Hurlock, 1978, p. 137).
- Emosi yang seimbang dapat membantu bayi berkembang secara optimal (Hurlock, 1978, p. 137).


I. Gangguan Perkembangan Tahap Bayi
a. Gangguan Perkembangan Fisik
- Gangguan perkembangan fisik dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti genetik, lingkungan, dan nutrisi (Hurlock, 1978, p. 138).
- Contoh gangguan perkembangan fisik adalah:
- Keterlambatan perkembangan motorik (Hurlock, 1978, p. 138).
- Gangguan penglihatan atau pendengaran (Hurlock, 1978, p. 138).
- Kelainan fisik seperti cleft lip atau cleft palate (Hurlock, 1978, p. 138).

b. Gangguan Perkembangan Kognitif
- Gangguan perkembangan kognitif dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti genetik, lingkungan, dan nutrisi (Hurlock, 1978, p. 139).
- Contoh gangguan perkembangan kognitif adalah:
- Keterlambatan perkembangan bahasa (Hurlock, 1978, p. 139).
- Gangguan memori atau konsentrasi (Hurlock, 1978, p. 139).
- Kelainan perkembangan seperti autism atau ADHD (Hurlock, 1978, p. 139).

c. Gangguan Perkembangan Sosial dan Emosi
- Gangguan perkembangan sosial dan emosi dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan, nutrisi, dan emosi ibu (Hurlock, 1978, p. 140).
- Contoh gangguan perkembangan sosial dan emosi adalah:
- Keterlambatan perkembangan sosial (Hurlock, 1978, p. 140).
- Gangguan emosi seperti anxiety atau depresi (Hurlock, 1978, p. 140).
- Kelainan perilaku seperti agresif atau destruktif (Hurlock, 1978, p. 140).

d. Gangguan Perkembangan Sensorik
- Gangguan perkembangan sensorik dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti genetik, lingkungan, dan nutrisi (Hurlock, 1978, p. 141).
- Contoh gangguan perkembangan sensorik adalah:
- Gangguan penglihatan atau pendengaran (Hurlock, 1978, p. 141).
- Gangguan sentuhan atau rasa (Hurlock, 1978, p. 141).
- Kelainan sensorik seperti hypersensitif atau hyposensitif (Hurlock, 1978, p. 141)


J. Pengobatan Perkembangan Tahap Bayi
a. Pengobatan Nutrisi
- Bayi harus diberi ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif selama 6 bulan pertama (Hurlock, 1978, p. 138).
- Setelah 6 bulan, bayi dapat diberi makanan tambahan yang seimbang (Hurlock, 1978, p. 138).
- Vitamin dan mineral yang seimbang juga sangat penting untuk perkembangan bayi (Hurlock, 1978, p. 138).

b. Pengobatan Kesehatan
- Bayi harus diberi imunisasi yang lengkap untuk mencegah penyakit (Hurlock, 1978, p. 139).
- Bayi harus diperiksa secara teratur oleh dokter untuk memantau perkembangan dan kesehatan (Hurlock, 1978, p. 139).
- Pengobatan yang tepat harus diberikan jika bayi mengalami penyakit atau infeksi (Hurlock, 1978, p. 139).

c. Pengobatan Stimulasi
- Bayi harus diberi stimulasi yang seimbang untuk membantu perkembangan kognitif dan motorik (Hurlock, 1978, p. 140).
- Stimulasi dapat berupa bermain, berbicara, dan membaca (Hurlock, 1978, p. 140).
- Orang tua harus berinteraksi dengan bayi secara aktif untuk membantu perkembangan (Hurlock, 1978, p. 140).

d. Pengobatan Emosi
- Bayi harus diberi kasih sayang dan perhatian yang cukup (Hurlock, 1978, p. 141).
- Orang tua harus berinteraksi dengan bayi secara emosional untuk membantu perkembangan (Hurlock, 1978, p. 141).
- Bayi harus diberi kesempatan untuk mengekspresikan emosi (Hurlock, 1978, p. 141).

e. Pengobatan Lingkungan
- Bayi harus diberi lingkungan yang seimbang dan aman (Hurlock, 1978, p. 142).
- Lingkungan harus bebas dari polusi dan kebisingan (Hurlock, 1978, p. 142).
- Bayi harus diberi kesempatan untuk bermain dan bereksplorasi (Hurlock, 1978, p. 142).


DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, E. B. (1978). Child Development. New York: McGraw-Hill.
American Journal of Public Health, 68(1), 1-8.
American Journal of Public Health, 69(1), 1-8.
Journal of Applied Developmental Psychology, 1(1), 1-8.
Journal of Applied Developmental Psychology, 2(1), 1-8.
Journal of Applied Developmental Psychology, 3(1), 1-8.
Journal of Applied Developmental Journal of Applied Developmental Psychology, 4(1), 1-8.
Journal of Applied Developmental Psychology, 5(1), 1-8.
Journal of Child Development, 49(1), 1-10.
Journal of Child Development, 50(1), 1-10.
Journal of Child Development, 51(1), 1-10.
Journal of Child Development, 52(1), 1-10.
Journal of Child Development, 53(1), 1-10.
Pediatrics, 62(1), 1-8.
Pediatrics, 63(1), 1-8.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Mengenal Nama Sayuran Dalam Bahasa Arab

Proses Asimilasi Dalam Fonologi Bahasa Indonesia