Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar
Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar
Oleh : Sri Rahayu, S.Pd.
Selasa, 2 Juni 2026
Faktor yang memengaruhi pengembangan kurikulum adalah seluruh unsur internal maupun eksternal yang menjadi pertimbangan, pendorong, penghambat, atau penentu dalam proses perancangan, pelaksanaan, dan penyempurnaan kurikulum SD/MI/SDLB. Menurut Zais 1976 dan Ornstein & Hunkins 2018, pengembangan kurikulum tidak terjadi dalam ruang hampa. Kurikulum adalah cerminan interaksi kompleks antara manusia, ilmu, masyarakat, dan lingkungan. Tanpa analisis faktor ini, kurikulum berisiko "tidak membumi" atau gagal implementasi.Mengacu pada teori Zais 1976, Tyler 1949, dan PP No. 57/2021, faktor dapat dikelompokkan menjadi 7:
A. Faktor Filosofis / Philosophical Factors
Aliran filsafat dan nilai yang diyakini bangsa menjadi dasar tujuan dan isi kurikulum.
Pengaruh ke SD Indonesia:
1. Pancasila sebagai Landasan
Sila 1 → mapel Pendidikan Agama. Sila 2 → PPKn + P5 "Kebhinekaan Global". Sila 3 → tema "Bersatu". Sila 5 → proyek "Kewirausahaan" untuk keadilan sosial.
2. Aliran Progresivisme Dewey
nak belajar lewat pengalaman. Maka SD Kelas 1-3 pakai pembelajaran tematik + bermain 70%.
3. Aliran Esensialisme Bagley
Sekolah harus ajarkan hal esensial. Maka Kurikulum Merdeka potong 20% materi, fokus literasi-numerasi.
Dampak jika diabaikan adalah Kurikulum kehilangan jati diri. Siswa pintar tapi tidak berkarakter, tidak cinta tanah air.
B. Faktor Psikologis / Psychological Factors
Karakteristik perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan sosial peserta didik usia 6-12 tahun.
1. Kognitif
Berpikir logis untuk benda nyata, belum abstrak Isi harus konkret. Hindari rumus tanpa peraga Pecahan diajarkan pakai kue, bukan $\frac{1}{2} + \frac{1}{3}$ langsung
2. Perhatian
Rentang fokus 15-20 menit Metode variatif tiap 15 menit. Ganti ceramah → diskusi → permainan 1 jam pelajaran = 3 kegiatan
3. Motivasi
Butuh pujian, takut gagal Penilaian narasi, bukan angka merah. Banyak asesmen formatif Rapor: "Ananda sudah berani bertanya"
4. Sosial
Suka kerja kelompok, meniru teman Metode kooperatif, P5 kerja kelompok Proyek kelompok 4-5 siswa
Dampak jika diabaikan adalah Anak SD stres, benci sekolah, daya serap rendah karena materi "di atas usianya".
C. Faktor Sosiokultural / Sociocultural Factors
a. Makna
Nilai, norma, adat, bahasa, kondisi ekonomi, dan masalah yang hidup di masyarakat.
b. Pengaruh ke SD
1. Kemajemukan
Indonesia 700+ bahasa daerah. Maka ada muatan lokal 20% + P5 "Kebhinekaan Global".
2. Masalah Sosial
Bullying, perundungan, narkoba masuk SD → kurikulum masuk PPKn + P5 "Bhinneka Tunggal Ika".
3. Kondisi Ekonomi Ortu
Ortu buruh tidak mampu beli HP → kurikulum SD tidak boleh 100% digital. Tetap sediakan LKS cetak.
4. Budaya Lokal
SD di Bali masuk "Tari Pendet", SD di Minang masuk "Tambo". Tujuannya anak cinta budaya sendiri.
c. Dampak jika diabaikan
Kurikulum dianggap "asing" oleh masyarakat. Ortu tidak mendukung, siswa tidak nyambung.
D. Faktor Iptek dan Perkembangan Ilmu Science & Technology Factors
a. Makna
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang sangat cepat.
b. Pengaruh ke SD
1. Ledakan Informasi
Google, ChatGPT, YouTube. Maka SD ajarkan literasi informasi: "mana hoaks mana fakta" sejak Kelas 4.
2. Perubahan Konsep IPA: Dulu Pluto planet, sekarang planet kerdil. Kurikulum harus update setiap 5 tahun.
3. Teknologi Pembelajaran
Ada LCD, Chromebook, PMM. Maka guru SD dilatih buat modul ajar digital, tapi tetap sediakan opsi non-digital untuk 3T.
4. Abad 21 - 4C
Critical thinking, Communication, Collaboration, Creativity jadi kompetensi wajib lulusan SD.
c. Dampak jika diabaikan
Lulusan SD "gaptek", tidak siap SMP/SMA, tertinggal dari dunia kerja.
E. Faktor Yuridis/Perundang-undangan Legal Factors
a. Makna
Peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang mengikat.
b. Pengaruh ke SD
1. UU Sisdiknas No. 20/2003
Pasal 3 = tujuan, Pasal 17-18 = struktur SD 6 tahun, Pasal 38 = kewenangan kurikulum.
2. PP No. 57/2021
Pasal 13 = tujuan SD, Pasal 39 = proses pengembangan kurikulum.
3. Permendikbud
No. 22/2016 Standar Proses, No. 23/2016 Standar Penilaian, Kep. BSKAP No. 008/2022 = CP Nasional.
4. Wajib Belajar 9 Tahun
Maka kurikulum SD harus tuntas dipahami semua anak, tidak boleh terlalu sulit/elitis.
c. Dampak jika diabaikan
KOSP sekolah ditolak Dinas, guru bisa kena sanksi administratif, lulusan tidak diakui.
F. Faktor Sumber Daya / Resource Factors
a. Makna
Ketersediaan sarana, prasarana, dana, waktu, dan tenaga pendidik.
b. Kondisi SD Indonesia sangat beragam
1. Guru
Guru mapel, S1 PGSD 1 guru = 6 mapel, D2 SD 3T butuh modul ajar lebih sederhana, ATP lebih rinci
2. Sarana
LCD, lab IPA, perpustakaan Papan tulis, minim buku Kurikulum Merdeka sediakan "Modul Ajar 1 lembar" + buku digital
3. Dana BOSS
Cukup untuk P5 Pas-pasan untuk operasional Tema P5 SD 3T pilih yang bahan dari alam: "Gaya Hidup Berkelanjutan"
4. Waktu Guru
Ada guru piket, TU bantu admin Guru merangkap TU Kurikulum Merdeka potong administrasi RPP 13 komponen
c. Dampak jika diabaikan
Kurikulum "cantik di atas kertas" tapi guru tidak bisa laksanakan. Terjadi "kesenjangan implementasi".
G. Faktor Evaluasi dan Umpan Balik Evaluation & Feedback Factors
a. Makna
Hasil asesmen, penelitian, dan umpan balik dari semua pemangku kepentingan.
b. Pengaruh ke SD
1. Hasil AKM 2021-2024
50% siswa SD lemah literasi-numerasi → BSKAP revisi CP: fokus 3 kompetensi inti baca, tulis, hitung.
2. Survei Guru 2022
54% guru copy-paste modul → BSKAP sediakan modul ajar siap pakai di PMM.
3. Protes Ortu
Ortu bingung rapor narasi → Kemendikbud buat template rapor + sosialisasi ke komite.
4. Penelitian Internasional PISA
Indonesia peringkat 72/79 → kurikulum diperkuat HOTS, bukan hafalan.
c. Dampak jika diabaikan
Kurikulum tidak pernah membaik. Kesalahan Kurikulum 2013 "terlalu padat" diulang lagi
DAFTAR PUSTAKA
Banks, J. A. (2019). An introduction to multicultural education (10th ed.). New York: Pearson.
Fullan, M. (2007). The new meaning of educational change . New York: Teachers College Press.
Kemendikbudristek. (2023). Laporan hasil asesmen kompetensi minimum AKM SD 2022-2023. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Ornstein, A. C., & Hunkins, F. P. (2018). Curriculum: Foundations, principles, and issues 7th ed. New York: Pearson.
Piaget, J. (1952). The origins of intelligence in children (M. Cook, Trans.) . New York: International Universities Press.
Tyler, R. W. (1949). Basic principles of curriculum and instruction. Chicago: University of Chicago Press.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Pasal 2, 3, 38. https://peraturan.bpk.go.id/Details/43078/uu-no-20-tahun-2003
Zais, R. S. (1976). Curriculum: Principles and foundations . New York: Harper & Row.
Komentar
Posting Komentar