Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar

Model Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar
Oleh : Sri Rahayu, S.Pd.
Selasa, 2 Juni 2026


Model pengembangan kurikulum adalah kerangka konseptual yang menggambarkan tahapan, alur, dan hubungan antar-komponen dalam proses merancang, melaksanakan, dan menyempurnakan kurikulum SD/MI/SDLB. Model berfungsi sebagai "peta jalan" agar pengembang kurikulum tidak bekerja secara acak. Menurut Ornstein & Hunkins 2018, model pengembangan kurikulum dikelompokkan menjadi 3 arus besar: model linier-rasional, model interaktif, dan model artistik. Untuk SD di Indonesia, 3 model berikut paling dominan menjadi rujukan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka 2022.


A. Model Tyler 1949: Model Rasional-Linier 4 Langkah  
Dikenal sebagai "Bapak Evaluasi Kurikulum". Model ini paling sistematis dan menjadi dasar BSNP merumuskan Kurikulum 2013 & CP Kurikulum Merdeka.
a. Struktur 4 Pertanyaan Dasar + 4 Langkah
1. Perumusan Tujuan
Tujuan pendidikan apa yang hendak dicapai? Turunkan dari Tujuan Pendidikan Nasional UU 20/2003 Pasal 3 ke Tujuan Jenjang SD PP 57/2021 Pasal 13, lalu ke Capaian Pembelajaran CP Fase A/B/C CP Bahasa Indonesia Fase B: "Mampu menyimak dan menemukan unsur cerita"
2. Pemilihan Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar apa yang dapat mencapai tujuan? Pilih isi/materi + metode + media yang paling efektif. Harus sesuai tahap operasional konkret anak SD Isi: Teks cerita fabel. Metode: Membaca nyaring + drama. Media: Boneka tangan
3. Pengorganisasian Pengalaman
Bagaimana mengorganisasi pengalaman agar efektif? Urutkan dari sederhana → kompleks, konkret → abstrak, dekat → jauh. Buat Alur Tujuan Pembelajaran ATP ATP "Cerita" Kelas 3: Pertemuan 1 unsur tokoh → Pertemuan 4 amanat
4. Evaluasi
Bagaimana menilai ketercapaian tujuan? Rancang asesmen formatif, sumatif, dan evaluasi kurikulum. Umpan balik dipakai revisi langkah 1-3 Asesmen formatif: observasi saat drama. Sumatif: menulis ulang cerita
b. Kelebihan
Sistematis, logis, mudah diukur, cocok untuk kurikulum nasional berskala besar.  
c. Kelemahan
Linier kaku. Jika di tengah jalan ada pandemi, model ini sulit "belok". Kurang mengakomodasi konteks lokal.


B. Model Taba 1962: Model Induktif-Grassroots 7 Langkah  
Hilda Taba, murid Tyler, mengkritik model Tyler yang "top-down". Taba menekankan guru sebagai pengembang kurikulum. Model ini jadi dasar Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan KOSP Kurikulum Merdeka.
a. 7 Langkah Taba dari Bawah ke Atas
1. Diagnosis Kebutuhan
Identifikasi masalah nyata di kelas. Teknik: observasi, wawancara, tes awal.   Contoh SD di NTT: Siswa Kelas 2 belum lancar membaca karena minim buku bacaan.
2. Perumusan Tujuan Khusus
 Buat tujuan operasional yang terukur dari hasil diagnosis.     Contoh: "80% siswa Kelas 2 mampu membaca 100 kata/menit akhir semester 1".
3. Pemilihan Isi
 Pilih materi yang langsung menjawab kebutuhan diagnosis.     Contoh: Pilih teks pendek tentang laut, hewan lokal NTT, bukan dongeng Eropa.
4. Pengorganisasian Isi
 Susun isi dari mudah → sulit, dikenal → asing.     Contoh: Huruf → suku kata → kata → kalimat → paragraf.
5. Pemilihan Pengalaman Belajar
Pilih metode yang sesuai isi + karakteristik anak SD.     Contoh: Metode: permainan kata, membaca berpasangan, pojok baca.
6. Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Buat jadwal, alokasi waktu, kelompok belajar.     Contoh: 15 menit literasi tiap pagi + 2x seminggu pojok baca.
7. Evaluasi dan Revisi
Uji coba, kumpulkan data, revisi langkah 1-6 jika gagal.    Contoh: Tes baca tiap bulan. Jika hanya 60% tuntas, ganti media dari buku ke audio.
b . Kelebihan
Kontekstual, memberdayakan guru, responsif terhadap kebutuhan lokal.  
c. Kelemahan
 Butuh waktu lama, menuntut guru yang kompeten. Jika guru lemah, kualitas kurikulum sekolah rendah.


C. Model Wheeler 1967: Model Siklik/Dinamis  
D.K. Wheeler mengkritik Tyler dan Taba yang linier. Menurutnya pengembangan kurikulum seperti roda yang berputar. Evaluasi bisa dilakukan di setiap tahap, dan hasilnya langsung memengaruhi tahap lain.
a. 5 Komponen Siklus Wheeler
Tujuan → Isi → Metode → Evaluasi → Umpan Balik → Revisi Tujuan → Kembali ke Isi.
b. Ilustrasi di SD Saat Pandemi 2020
1. Tujuan Awal
CP Matematika Kelas 4 "operasi perkalian bersusun".
2. Isi + Metode
Diajarkan tatap muka pakai kelereng.
3. Evaluasi
Pandemi → sekolah tutup. Evaluasi: tujuan tidak tercapai jika tetap tatap muka.
4. Umpan Balik
Orang tua, guru, siswa tidak siap daring untuk materi abstrak.
5. Revisi Tujuan
Tujuan diubah jadi "operasi perkalian sederhana 1-2 digit".
6. Revisi Isi + Metode
 Ganti ke video pendek + lembar kerja rumah sederhana.  
Siklus ini berputar terus sampai kondisi normal.
b. Kelebihan
Fleksibel, adaptif terhadap perubahan cepat, realistis.  
c. Kelemahan
 Sulit diprediksi, bisa "kebablasan" revisi sehingga tujuan awal kabur.

D. Model Backward Design Wiggins & McTighe 2005  
Dikenal "Understanding by Design UbD". Alurnya terbalik dari Tyler: mulai dari evaluasi, baru ke tujuan, terakhir ke metode.
a. 3 Tahap Backward Design
1. Tahap 1 - Identifikasi Hasil yang Diinginkan
 Tentukan "bukti pemahaman" apa. Contoh SD: Siswa mampu menjelaskan daur air lewat poster, bukan hafalan definisi.
2. Tahap 2 - Tentukan Bukti Penerimaan
Rancang rubrik asesmen kinerja dulu. Baru buat CP dan TP.
3. Tahap 3 - Rencanakan Pengalaman Belajar
Baru pilih metode PjBL, eksperimen, dll.
b. Kelebihan
Fokus pada pemahaman mendalam, bukan hafalan. Sangat cocok untuk P5 dan asesmen kinerja SD.  

E. Model ADDIE  
Asal dari desain pembelajaran, kini dipakai untuk pengembangan modul ajar SD.
a. 5 Tahap
Analyze → Design → Develop → Implement → Evaluate.  Mirip Taba, tapi lebih teknis untuk produk: modul ajar, LKPD, video.



DAFTAR PUSTAKA
Kemendikbudristek. (2022). Buku panduan pengembangan kurikulum operasional satuan pendidikan (Bab 3: Model pengembangan KOSP SD). Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Nicholls, A., & Nicholls, S. H. (1978). Developing a curriculum: A practical guide (2nd ed., Bab 3: Factors in model selection). London: George Allen & Unwin.
Ornstein, A. C., & Hunkins, F. P. (2018). Curriculum: Foundations, principles, and issues (7th ed., Bab 10: Curriculum development models). New York: Pearson.
Taba, H. (1962). Curriculum development: Theory and practice (Bab 3–10: Model 7 langkah). New York: Harcourt, Brace & World.
Tyler, R. W. (1949). Basic principles of curriculum and instruction (Bab 1–5: Model 4 langkah). Chicago: University of Chicago Press.
Wheeler, D. K. (1967). Curriculum process. London: University of London Press. [Bab 4–6: Model siklik]
Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding by design (2nd ed., Bab 1–3: Backward design untuk pendidikan dasar). Alexandria, VA: ASCD.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab