PENDEKATAN KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

PENDEKATAN KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Selasa, 2 Juni 2026


Pendekatan kurikulum adalah cara pandang dan strategi yang digunakan dalam merancang, mengembangkan, serta mengimplementasikan kurikulum agar sesuai dengan tujuan, karakteristik peserta didik, dan tuntutan zaman. Pendekatan menentukan "bagaimana" isi kurikulum dipilih, diorganisasi, dan disampaikan.  Di Indonesia, pendekatan kurikulum SD/MI/SDLB mengalami evolusi seiring perubahan paradigma pendidikan nasional. Menurut Ornstein & Hunkins 2018, pendekatan kurikulum dikelompokkan berdasarkan 3 poros: berpusat pada subjek, berpusat pada peserta didik, dan berpusat pada masalah masyarakat.

A. Evolusi Pendekatan Kurikulum SD Indonesia 1994-2026
1. Kurikulum 1994, 1994
Pendekatan Berbasis Mata Pelajaran Subject-Centered GBPP rinci per mapel. Guru = pemberi ceramah. Fokus hafalan Fragmentasi ilmu, siswa pasif, konten padat
2. KBK, 2004
Pendekatan Berbasis Kompetensi CBC Fokus pada "apa yang bisa dilakukan siswa". Kompetensi = pengetahuan + keterampilan + sikap SK/KD terlalu banyak: 400+ per jenjang. Guru sulit mencapai semua
3. KTSP, 2006
Pendekatan Berbasis Kompetensi + Desentralisasi Sekolah diberi kewenangan 20% muatan lokal sesuai potensi daerah Kesenjangan kualitas antar daerah. Sekolah 3T kesulitan
4. Kurikulum 2013, 2013
Pendekatan Tematik Terpadu + Saintifik 5M Mapel diintegrasikan dalam tema. Metode: Mengamati, Menanya, Mengumpulkan data, Mengasosiasi, Mengomunikasikan Tema tidak selalu relevan dengan mapel eksak Matematika, IPA. Guru kesulitan penilaian autentik
5. Kurikulum Merdeka, 2022-Sekarang
Pendekatan Capaian Pembelajaran CP + Esensialisme + Fleksibilitas CP dirumuskan per fase, bukan per kelas. Konten esensial dipangkas 20%. Guru bebas urutkan materi & buat modul ajar Butuh guru yang melek asesmen formatif + desain pembelajaran berdiferensiasi


B. 4 Pendekatan Inti yang Digunakan di Kurikulum SD Saat Ini
1. Pendekatan Berbasis Capaian Pembelajaran CP Outcome-Based Education OBE
a.Landasan Teori
 Spady 1994. Pendidikan dimulai dari "lulusan seperti apa yang diinginkan", baru ditarik mundur ke materi dan metode.
b. Ciri di Kurikulum Merdeka 2022
1. CP per Fase, bukan per Kelas
 Fase A = Kelas 1-2, Fase B = Kelas 3-4, Fase C = Kelas 5-6. Contoh CP Bahasa Indonesia Fase B: "Mampu menyimak teks narasi dan menemukan unsur cerita". Guru Kelas 3 boleh ajarkan di semester 1, guru Kelas 4 ajarkan penguatan di semester 2.
2. Alur Tujuan Pembelajaran ATP
Guru menjabarkan CP jadi Tujuan Pembelajaran TP yang lebih operasional. ATP boleh lintas semester.
3. Implication
 Fleksibilitas. Siswa yang lambat tidak "ketinggalan kelas", karena targetnya capaian di akhir fase.
c. Kelebihan
Mengurangi "kejar target KD", fokus pada penguasaan kompetensi mendalam.

2. Pendekatan Tematik Terpadu Integrated Thematic Approach
a. Landasan Teori
 Fogarty 1991. Mata pelajaran diintegrasikan ke dalam tema agar pembelajaran bermakna dan sesuai tahap berpikir konkret anak SD.
b. Ciri di Kurikulum 2013 & Kurikulum Merdeka Kelas 1-3
1. Tema sebagai Payung
 Misal Tema 1 Kelas 2 "Hidup Rukun". Dalam 1 tema, siswa belajar Bahasa Indonesia = membaca teks rukun, Matematika = penjumlahan jumlah teman rukun, SBdP = lagu rukun, PPKn = nilai sila 2.
2. Pembelajaran Holistik
 Anak tidak memisahkan "ini pelajaran Matematika, ini Bahasa". Semua terasa seperti 1 pengalaman utuh.
3. Sesuai Piaget
Anak usia 6-9 tahun tahap pra-operasional ke konkret awal. Berpikirnya masih global, belum mampu membedakan mapel secara tajam.
c. Kelebihan
 Mengurangi beban siswa, meningkatkan retensi memori karena konteksnya sama.  
Kelas 4-6 pendekatan tematik dilonggarkan. Mapel IPA+IPS digabung jadi IPAS, tapi Matematika, Bahasa Indonesia tetap berdiri sendiri karena sifatnya abstrak.

3. Pendekatan Saintifik Scientific Approach 5M
a. Landasan Hukum
Permendikbud No. 22/2016 tentang Standar Proses. Wajib diterapkan di semua mapel SD.
b. 5 Langkah Sintaks Saintifik
1. Mengamati
Siswa melihat fenomena. Contoh: mengamati bayangan benda kena matahari.
2. Menanya
Siswa mengajukan pertanyaan "Mengapa bayangan pagi lebih panjang?". 
3. Mengumpulkan Informasi/Eksperimen
Siswa ukur panjang bayangan tiap jam pakai meteran.
4. Mengasosiasi/Mengolah Data
Siswa buat tabel, cari pola hubungan waktu vs panjang bayangan.
5. Mengomunikasikan
 Siswa presentasi hasil + kesimpulan: "Bayangan terpendek saat matahari di atas kepala".
c. Kelebihan
Melatih scientific literacy dan bernalar kritis, salah satu dimensi Profil Pelajar Pancasila.

4. Pendekatan Pembelajaran Berdiferensiasi Differentiated Instruction
a. Landasan Teori
 Carol Ann Tomlinson 2001. Tidak ada 2 anak yang cara belajarnya sama. Kurikulum harus "lentur" mengakomodasi keragaman.
b. 3 Aspek Diferensiasi di SD Kurikulum Merdeka
1. Diferensiasi Konten
Siswa dengan kemampuan tinggi dapat teks bacaan lebih panjang + soal HOTS. Siswa lain dapat teks lebih pendek + gambar.
2. Diferensiasi Proses
Siswa visual belajar lewat video + mind map. Siswa kinestetik belajar lewat praktik + drama.
3. Diferensiasi Produk
 Tugas akhir boleh pilih: buat poster, buat video, buat drama, atau tulis esai.
c. Implication
 Guru tidak wajib RPP 1 lembar untuk 30 siswa. RPP/Modul Ajar dirancang dengan "jalur" berbeda untuk kelompok siswa.


C. Pendekatan Penunjang Lain di SD
1. Pendekatan Kontekstual CTL Contextual Teaching Learning  
Belajar dikaitkan dengan dunia nyata anak. 7 komponen: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian autentik. Contoh: pecahan diajarkan lewat membagi pizza, bukan rumus.
2. Pendekatan Bermain sambil Belajar Learning Through Play  
Permendikbud No. 137/2014: Untuk Kelas 1-2, 70% waktu = bermain edukatif. Bermain lego = belajar geometri + kerja sama. Ini sesuai teori Vygotsky: bermain adalah "zona perkembangan proksimal" anak.
3. Pendekatan Esensialisme dalam Kurikulum Merdeka  
Prinsip: "Less is More". Materi yang tidak esensial dipotong 20%. Fokus pada literasi, numerasi, dan karakter. Tujuannya agar guru punya waktu untuk pembelajaran mendalam, bukan mengejar halaman buku.


D. Tantangan Implementasi Pendekatan di Lapangan
1. Kesenjangan Pemahaman
Banyak guru masih mengartikan "tematik" = tempel gambar tema, tapi mapel tetap diajarkan terpisah.
2. Beban Guru
 Berdiferensiasi butuh waktu membuat 3 versi LKPD. Solusi: Kemendikbud sediakan "Perangkat Ajar" di PMM.
3. Penilaian
Menilai proyek tematik + sikap + kognitif sekaligus butuh rubrik yang jelas agar objektif.


DAFTAR PUSTAKA
Fogarty, R. (1991). How to integrate the curricula [Model 10 cara integrasi kurikulum, termasuk tematik]. Arlington Heights, IL: IRI/Skylight.
Johnson, E. B. (2002). Contextual teaching and learning: What it is and why it’s here to stay [7 komponen CTL]. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
Kemendikbud. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah [Lampiran: Pendekatan saintifik 5M]. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/120439/permendikbud-no-22-tahun-2016
Kemendikbudristek. (2022). Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang capaian pembelajaran [Konsep CP per fase]. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.
Piaget, J. (1952). The origins of intelligence in children (M. Cook, Trans.) [Dasar psikologis pendekatan tematik & konkret]. New York: International Universities Press.
Spady, W. G. (1994). Outcome-based education: Critical issues and answers [Konsep OBE/CP]. Alexandria, VA: American Association of School Administrators.
Tomlinson, C. A. (2001). How to differentiate instruction in mixed-ability classrooms (2nd ed.) [Prinsip diferensiasi konten, proses, produk]. Alexandria, VA: ASCD.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab