Dosis Pestisida
DOSIS APLIKASI PESTISIDA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Sabtu, 15 Agustus 2026
Dosis aplikasi pestisida adalah jumlah bahan aktif atau formulasi pestisida yang diberikan per satuan luas, per satuan volume air, atau per tanaman pada waktu tertentu agar dapat mengendalikan OPT secara efektif tanpa menimbulkan dampak negatif. Penentuan dosis yang tepat merupakan bagian dari prinsip "Tepat Dosis dan Konsentrasi" dalam pengelolaan pestisida.
A. Istilah Penting dalam Dosis
1. Dosis: Jumlah pestisida per satuan luas. Contoh: 2 kg/ha, 500 g/ha
2. Konsentrasi: Jumlah pestisida per satuan volume larutan. Contoh: 2 ml/liter, 1 g/liter
3. Takaran: Jumlah pestisida yang digunakan untuk satu kali aplikasi pada alat tertentu. Contoh: 32 ml/tangki 16 liter
4. Dosis Anjuran: Dosis yang tercantum pada label dan telah diuji efektivitas serta keamanannya
5. Bahan Aktif / b.a: Zat kimia yang bersifat toksik. Pada label tertulis sebagai "% b.a"
B. Cara Penentuan Dosis Aplikasi
Dosis ditentukan berdasarkan 4 acuan utama:
1. Anjuran pada Label Kemasan
Merupakan acuan utama dan sah secara hukum. Contoh: "Perevathon 50 SC 2 ml/liter" artinya untuk tangki 16 liter dibutuhkan $2 \, \text{ml} \times 16 = 32 \, \text{ml}$. Di lapangan sering terjadi penyimpangan, misalnya dosis dinaikkan menjadi 45-50 ml/16 liter yang justru berisiko.
2. Ambang Pengendalian / Ambang Ekonomi
Pestisida baru diaplikasikan jika populasi OPT telah mencapai ambang yang menyebabkan kerugian ekonomi. Tujuannya menghindari aplikasi yang tidak perlu.
3. Stadia dan Kepadatan OPT Sasaran
Stadia larva/nimfa memerlukan dosis lebih rendah dibanding stadia dewasa. Serangan berat memerlukan dosis mendekati batas atas anjuran.
4. Jenis Tanaman dan Luas Daun
Tanaman berdaun lebar memerlukan volume semprot lebih banyak dibanding tanaman berdaun sempit.
C. Faktor yang Mempengaruhi Dosis Efektif
1. Sifat Pestisida: Pestisida sistemik umumnya dosisnya lebih rendah dibanding kontak
2. Formulasi: Formulasi SC dan EC memiliki efektivitas lebih tinggi sehingga dosis dapat lebih rendah
3. Alat Aplikasi: Alat ULV menggunakan volume air sangat sedikit tetapi konsentrasi tinggi
4. Kondisi Lingkungan: Suhu tinggi dan angin kencang meningkatkan penguapan sehingga efektivitas menurun
5. Kualitas Air: Air dengan pH tinggi dapat menghidrolisis bahan aktif organofosfat dan karbamat sehingga efektivitas turun
D. Akibat Kesalahan Dosis
1. Overdosis / Dosis Berlebih
Dampak: pemborosan biaya, residu tinggi, keracunan operator dan konsumen, resistensi dan resurgensi hama, pencemaran tanah dan air. Contoh: penggunaan 45-50 ml/16 liter padahal anjuran 32 ml/16 liter
2. Underdosis / Dosis Kurang
Dampak: OPT tidak mati, seleksi alam terjadi sehingga populasi OPT menjadi resisten terhadap pestisida tersebut
E. Prinsip Keamanan Dosis
1. Selalu menggunakan alat ukur: gelas ukur, timbangan, tutup botol berskala
2. Tidak menggunakan "kira-kira" atau tutup botol sembarangan
3. Mencatat dosis, waktu, dan frekuensi aplikasi untuk monitoring
4. Melakukan rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi akibat penggunaan dosis subletal berulang
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida & Aplikasinya. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius.
Moekasan, T.K., & Prabaningrum, L. 2021. Penggunaan dan Penanganan Pestisida yang Baik dan Benar. IAARD Press. ISBN: 978-602-344-312-3
ADIBRATA JURNAL Vol. 4 No. 3, Desember 2024. ISSN: 2776-3943.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kestra / JPK, Volume 5, Nomor 2, Tahun 2025..
Laba, I.W. 2009. Sejarah Perkembangan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman di Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian.
Komentar
Posting Komentar