Formulasi Pestisida
FORMULASI PESTISIDA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Sabtu, 15 Agustus 2026
Formulasi pestisida adalah bentuk sediaan atau racikan pestisida yang terdiri atas bahan aktif dengan bahan pembawa, bahan pelarut, bahan pengemulsi, bahan pembasah, dan bahan tambahan lain yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, kemudahan aplikasi, keamanan, dan stabilitas penyimpanan pestisida.
A.Tujuan utama formulasi adalah:
1. Memudahkan penanganan dan aplikasi di lapangan
2. Meningkatkan daya sebar, daya lekat, dan daya tembus pada tanaman atau OPT sasaran
3. Mengurangi fitotoksisitas terhadap tanaman
4. Menjamin kestabilan bahan aktif selama penyimpanan
B. Klasifikasi Formulasi Pestisida Berdasarkan Bentuk Fisik
Secara umum formulasi pestisida dibedakan menjadi 2 kelompok besar:
a. Formulasi Padat / Solid Formulations
1. WP - Wettable Powder / Tepung yang Dapat Dibasahi : Serbuk halus yang dapat disuspensikan dalam air. Memerlukan pengadukan terus menerus. Contoh: Dithane M-45 80 WP, Daconil 75 WP
2. SP - Soluble Powder / Tepung yang Larut dalam Air : Serbuk yang larut sempurna dalam air tanpa residu. Contoh: Indovin 85 SP, Rackus 85 SP
3. G - Granule / Granul : Butiran berukuran 0,25 - 2,4 mm. Diaplikasikan dengan cara ditabur di tanah. Efektif untuk nematisida dan herbisida. Contoh: Basamid 98 G
4. SD - Soluble Dust / Serbuk Larut : Serbuk yang larut dan digunakan untuk perlakuan benih. Contoh: Ridomil 35 SD
b. Formulasi Cair / Liquid Formulations
1. EC - Emulsifiable Concentrate / Pekatan yang Dapat Di-emulsikan : Bahan aktif dilarutkan dalam pelarut organik + emulsifier. Jika dicampur air akan membentuk emulsi berwarna putih susu. Contoh: Darmabas 500 EC
2. SC - Suspension Concentrate / Suspensi Pekat : Bahan aktif padat disuspensikan dalam air. Tidak memerlukan pelarut organik. Lebih aman bagi lingkungan. Contoh: Perevathon 50 SC
3. SL / AS - Soluble Liquid / Aqueous Solution / Larutan : Bahan aktif larut sempurna dalam air. Contoh: Rambo 480 AS
4. ULV - Ultra Low Volume : Formulasi pekat yang diaplikasikan tanpa pengenceran dengan volume sangat rendah.
5. ME - Micro Emulsion : Emulsi dengan ukuran partikel sangat kecil sehingga lebih stabil dan penetrasi lebih baik.
C. Komponen dalam Formulasi Pestisida
Setiap formulasi terdiri atas:
1. Bahan Aktif: senyawa kimia yang bersifat toksik terhadap OPT
2. Bahan Pembawa/Carrier: padat seperti kaolin, bentonit, atau cair seperti air, xilen
3. Pelarut/Solvent: untuk melarutkan bahan aktif pada formulasi cair
4. Emulsifier: agar bahan aktif dan air dapat bercampur
5. Wetting Agent: meningkatkan pembasahan pada permukaan daun
6. Stabilizer, Adhesive, Safener: untuk kestabilan dan keamanan
D. Faktor yang Dipertimbangkan dalam Pemilihan Formulasi
1. Jenis OPT sasaran dan bagian tanaman yang diserang
2. Alat aplikasi yang tersedia: sprayer, duster, granular applicator
3. Kondisi lingkungan: formulasi EC mudah menguap pada suhu tinggi, WP dapat menyumbat nozzle
4. Keamanan: formulasi SC dan SL lebih ramah lingkungan dibanding EC karena tidak menggunakan pelarut organik
5. Mutu: kemasan masih asli, label lengkap, belum kedaluwarsa
DAFTAR PUSTAKA
1. Djojosumarto, P. 2008. Pestisida & Aplikasinya. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
2. Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius.
3. Moekasan, T.K., & Prabaningrum, L. 2021. Penggunaan dan Penanganan Pestisida yang Baik dan Benar. IAARD Press. ISBN: 978-602-344-312-3
4. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kestra / JPK, Volume 5, Nomor 2, Tahun 2025.
5. ADIBRATA JURNAL Vol. 4 No. 3, Desember 2024. ISSN: 2776-3943.
Komentar
Posting Komentar