JENIS-JENIS BAHAN MAKAN FUNGSIONAL
JENIS-JENIS BAHAN MAKAN FUNGSIONAL
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Jum'at, 4 Sept 2026
Jenis-jenis bahan makanan fungsional diklasifikasikan berdasarkan cara perolehannya dan tingkat modifikasi yang dilakukan terhadap bahan pangan tersebut. Klasifikasi ini mengacu pada BPOM RI, IFIC, dan konsep yang dikembangkan di Jepang mengenai Food for Specified Health Use / FOSHU.
A. Pangan Fungsional Konvensional / Natural Functional Foods
Pangan fungsional konvensional adalah bahan makanan yang secara alami mengandung komponen fungsional dalam jumlah signifikan tanpa melalui proses modifikasi atau fortifikasi. Komponen fungsionalnya memang sudah ada secara alami dalam bahan tersebut.
a.Ciri-ciri:
1. Berasal langsung dari alam, baik nabati maupun hewani.
2. Dikonsumsi dalam bentuk aslinya atau dengan pengolahan minimal.
3. Efek kesehatannya sudah dikenal secara tradisional dan didukung bukti ilmiah.
b.Contoh:
1. Buah dan Sayur: Jeruk kaya vitamin C dan flavonoid, tomat mengandung likopen, brokoli mengandung glukosinolat dan sulforafan.
2. Kacang-kacangan dan Biji-bijian: Kedelai mengandung isoflavon dan protein, oat mengandung beta-glukan, kacang komak mengandung serat pangan tinggi.
3. Makanan Laut: Ikan salmon dan sarden mengandung asam lemak omega-3 EPA dan DHA.
4. Rempah dan Herbal: Kunyit mengandung kurkumin, jahe mengandung gingerol, bawang putih mengandung allicin.
5. Minuman: Teh hijau mengandung katekin, kopi mengandung asam klorogenat.
B. Pangan Fungsional Termodifikasi / Modified Functional Foods
Pangan fungsional termodifikasi adalah bahan makanan yang sengaja dimodifikasi melalui proses teknologi pangan untuk meningkatkan, menambah, atau mengurangi komponen tertentu sehingga memiliki efek fungsional.
a Ciri-ciri:
1. Melalui proses fortifikasi, suplementasi, eliminasi, atau substitusi.
2. Komponen fungsional ditambahkan atau ditingkatkan kadarnya.
b.Contoh:
1. Fortifikasi: Susu difortifikasi vitamin D dan kalsium, margarin difortifikasi fitosterol, garam beryodium, tepung terigu difortifikasi zat besi dan asam folat.
2. Suplementasi: Jus buah ditambah probiotik, sereal sarapan ditambah serat inulin, air mineral ditambah mineral.
3. Eliminasi: Produk susu rendah laktosa untuk intoleransi laktosa, makanan rendah natrium untuk hipertensi, produk bebas gluten untuk celiac.
4. Substitusi: Mayones rendah lemak dengan pengganti lemak berupa inulin, daging dengan pengganti daging nabati berbasis protein kedelai.
5. Peningkatan Bioavailabilitas: Telur omega-3 yang dihasilkan dari pakan ayam yang diperkaya biji rami.
C. Pangan Fungsional Fermentasi / Fermented Functional Foods
Merupakan sub-kelompok khusus dari pangan termodifikasi. Produk ini dihasilkan melalui proses fermentasi oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan komponen bioaktif baru seperti probiotik, peptida bioaktif, dan asam organik.
a Ciri-ciri:
1. Mengandung mikroorganisme hidup yang bermanfaat atau metabolit hasil fermentasi.
2. Memiliki efek probiotik dan prebiotik.
b Contoh:
1. Produk Susu Fermentasi: Yogurt, kefir, yakult mengandung Lactobacillus dan Bifidobacterium.
2. Produk Nabati Fermentasi: Tempe mengandung isoflavon dan peptida, oncom, tape singkong.
3. Produk Lain: Kimchi, kombucha, miso, kecap fermentasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2. Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
3. BPOM RI. Pedoman Klaim Kesehatan pada Label Pangan. Jakarta: BPOM, 2005.
4. Goldberg, I. Functional Foods: Designer Foods, Pharmafoods, Nutraceuticals. Chapman & Hall, 1994.
5. International Food Information Council Foundation. Functional Foods Fact Sheet. IFIC, 2013.
6. González, M.R., et al. "Kefir: A symbiotic yogurt with potential benefits for human health." Nutrients, 2022.
7. Saputra, D. et al. "Kandungan Serat Pangan pada Kacang Komak sebagai Alternatif Pangan Fungsional." Jurnal Pangan Fungsional, 2013.
Komentar
Posting Komentar