PENGENDALIAN FISIK DENGAN AIR DAN KELEMBABAN

 PENGENDALIAN FISIK DENGAN AIR DAN KELEMBABAN
Oleh : SRI RAHAYU, S Pd.
Selasa, 1 Sept 2026.


Pengendalian dengan air merupakan salah satu metode pengendalian fisik yang memanfaatkan sifat air sebagai faktor pembatas bagi pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup Organisme Pengganggu Tanaman / OPT.  Prinsip dasarnya adalah memodifikasi ketersediaan air dan kelembaban di lingkungan pertanaman sehingga menjadi tidak sesuai bagi OPT, tetapi tetap optimal bagi tanaman. Air dapat digunakan untuk menenggelamkan, menghanyutkan, membunuh, atau menghambat OPT.

A. JENIS-JENIS PENGENDALIAN DENGAN AIR DAN MEKANISMENYA
1. Penggenangan / Flooding
Merupakan pengisian lahan dengan air setinggi 5-10 cm selama periode tertentu.  Mekanisme: menyebabkan kekurangan oksigen pada OPT tanah, mematikan secara lemas, dan menghambat perkecambahan biji gulma dan spora patogen.Efektif pada tanah liat yang dapat menahan air. Tidak dapat diterapkan pada lahan tadah hujan.
Target:  
a. Keong mas Pomacea canaliculata pada pertanaman padi. Penggenangan 7-10 hari dapat menekan populasi.  
b. Nematoda tular tanah dan patogen bakteri seperti Ralstonia solanacearum.  
c. Gulma pada persemaian.  

2. Pengeringan / Drying
Merupakan pengosongan air dari lahan secara sengaja pada waktu tertentu.  Mekanisme: menyebabkan dehidrasi pada OPT yang membutuhkan kelembaban tinggi dan memutus siklus hidup OPT perairan.  Pengeringan juga memperbaiki aerasi tanah dan perakaran tanaman
Target:  
a. Wereng batang coklat Nilaparvata lugens pada padi. Pengeringan berselang 3-5 hari dapat menekan populasi.  
b. Penyakit blas Pyricularia oryzae dan hawar daun bakteri Xanthomonas oryzae.  
c. Jentik nyamuk dan inang perantara OPT.  
.

3. Penyiraman dengan Air Bertekanan Tinggi / High Pressure Water Spray
Menggunakan semprotan air dengan tekanan 40-80 psi untuk menyemprot bagian tanaman.  Mekanisme: tekanan air secara fisik menghantam, melepas, dan menjatuhkan OPT dari permukaan tanaman. Selain itu dapat merusak tubuh OPT yang bertubuh lunak.  Target: kutu daun Aphis gossypii, kutu kebul Bemisia tabaci, tungau Tetranychus spp., dan thrips.  Waktu aplikasi: pagi hari agar tanaman cepat kering dan menghindari penyakit jamur.  Kelemahan: penggunaan berlebihan dapat merusak daun muda.

4. Pengairan Alur / Furrow Irrigation dan Irigasi Tetes
Pengaturan cara pemberian air untuk menciptakan mikroiklim yang tidak disukai OPT.  Mekanisme: menjaga kelembaban tajuk tetap rendah sehingga menekan perkembangan penyakit jamur.  Target: penyakit embun tepung Oidium, penyakit busuk daun Phytophthora.  Irigasi tetes juga mengurangi percikan air yang menyebarkan spora patogen.

5. Perendaman Benih dan Bahan Tanam
Benih, umbi, dan stek direndam dalam air pada suhu ruang atau air hangat.  Mekanisme: melarutkan dan mematikan patogen yang menempel di permukaan benih.  Target: bakteri Xanthomonas pada benih padi, jamur pada benih sayuran.  Contoh: perendaman benih padi dalam air hangat 52°C selama 10 menit.

6. Pengaturan Kelembaban Relatif di Gudang dan Rumah Kasa
Mekanisme: menurunkan kelembaban gudang di bawah 60% RH untuk menghambat pertumbuhan jamur dan perkembangbiakan kutu gudang.  Metode: ventilasi, penggunaan desikan, dan pengeringan produk sebelum simpan.  Target: kutu gudang Sitophilus, ngengat gudang, dan jamur pascapanen Aspergillus, Penicillium.


B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
1.  Jenis OPT dan Fase Hidup: Telur dan pupa umumnya lebih tahan terhadap perubahan air dibanding larva dan imago.
2.  Lama dan Frekuensi Pemberian: Penggenangan dan pengeringan harus sesuai durasi. Terlalu lama dapat merusak tanaman.
3.  Jenis Tanah dan Topografi: Tanah liat cocok untuk penggenangan, tanah berpasir cepat kering.
4.  Musim dan Iklim: Efektivitas penyiraman bertekanan menurun saat musim hujan karena kelembaban tinggi.


C. KELEBIHAN PENGENDALIAN DENGAN AIR
1.  Ramah lingkungan: Tidak meninggalkan residu kimia.
2.  Biaya relatif rendah: Memanfaatkan sumber daya air yang ada.
3.  Efek ganda: Selain mengendalikan OPT juga memenuhi kebutuhan air tanaman.
4.  Tidak menimbulkan resistensi pada OPT.

D. KELEMAHAN PENGENDALIAN DENGAN AIR
1.  Tergantung ketersediaan air: Tidak dapat diterapkan pada lahan tadah hujan.
2.  Risiko meningkatkan penyakit: Kelembaban tinggi dapat memicu penyakit jamur dan bakteri.
3.  Efektivitas terbatas: Tidak efektif untuk OPT yang tahan terhadap perubahan kadar air.
4.  Memerlukan pengaturan yang tepat: Penggenangan berlebihan dapat menyebabkan tanaman kekurangan oksigen.


DAFTAR PUSTAK
1. Oka, I.N. 2005. Pengantar Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 
2. Untung, K. 2006. Pengantar Hama Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 
3. Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology. 5th Edition. Elsevier Academic Press, USA. 
4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 20l17. Panduan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit Padi. Kementerian Pertanian RI.
5. Heong, K.L., et al. 1995. Water management and pest management in rice. In: Rice Pest Science and Management. IRRI, Philippines.  
6. Morse, J.G., et al. 1987. Impact of sprinkler irrigation on citrus pest management. Journal of Economic Entomology, 80(2): 379-384. DOI: 10.1093/jee/80.2.379.  
7. Hoffmann, M.P., et al. 1991. The role of water in the management of insect pests. In: CRC Handbook of Pest Management in Agriculture. CRC Press.  
8. Liu, Y.B., et al. 2009. Effects of irrigation on disease development in vegetable crops. Crop Protection, 28(10): 869-875. DOI: 10.1016/j.cropro.2009.06.005.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab