PENGENDALIAN FISIK DENGAN KELEMBAPAN
PENGENDALIAN FISIK DENGAN KELEMBAPAN
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Rabu, 2 Sept 2026
Pengendalian dengan kelembapan adalah metode pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman / OPT dengan cara memodifikasi kadar uap air di udara / kelembapan relatif / RH dan kadar air pada media atau produk, sehingga kondisi lingkungan menjadi tidak sesuai bagi pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup OPT. Prinsip dasarnya adalah setiap OPT memiliki kisaran kelembapan optimum untuk hidup. Jamur memerlukan kelembapan tinggi untuk sporulasi dan perkecambahan spora, sedangkan hama gudang memerlukan kadar air tertentu pada biji untuk berkembang biak. Dengan mengatur kelembapan, pertumbuhan OPT dapat ditekan tanpa merusak tanaman atau produk.
A. JENIS-JENIS PENGENDALIAN DENGAN KELEMBAPAN
1. Penurunan Kelembapan untuk Pengendalian Penyakit Tanaman
Kelembapan tinggi >85% RH sangat mendukung perkecambahan spora dan infeksi patogen jamur dan bakteri. Mekanisme: Menurunkan kelembapan tajuk tanaman untuk menghambat perkecambahan spora dan penyebaran penyakit. Target: Penyakit busuk daun Phytophthora infestans, embun tepung Oidium, antraknosa Colletotrichum, hawar daun bakteri Xanthomonas.
Teknik:
a. Pengaturan jarak tanam: Jarak tanam lebar meningkatkan sirkulasi udara sehingga tajuk cepat kering.
b. Pemangkasan: Mengurangi kerapatan tajuk untuk meningkatkan ventilasi dan penetrasi sinar matahari.
c. Irigasi tetes: Menghindari pembasahan daun dibanding irigasi curah.
d. Mulsa plastik: Mencegah penguapan air dari tanah sehingga kelembapan mikro di sekitar tajuk menurun.
2. Pengaturan Kelembapan untuk Pengendalian Hama Gudang
Hama gudang memerlukan kadar air biji 12-14% dan RH 70-80% untuk berkembang biak. Mekanisme: Menurunkan kadar air produk dan kelembapan gudang di bawah ambang batas pertumbuhan OPT.Target: Kutu beras Sitophilus oryzae, kutu bubuk Rhyzopertha dominica, ngengat gudang Corcyra cephalonica, dan jamur Aspergillus flavus penghasil aflatoksin.
Teknik:
a. Pengeringan: Produk seperti jagung, gabah, dan kacang-kacangan dikeringkan sampai kadar air 10-12% sebelum disimpan.
b. Ventilasi gudang: Membuka ventilasi pada siang hari untuk menurunkan RH gudang.
c. Penggunaan desikan: Silika gel, kapur, atau arang ditempatkan di dalam gudang untuk menyerap uap air.
d. Penyimpanan kedap udara / hermetik: Menggunakan drum plastik atau karung plastik untuk menciptakan kondisi kering.
3. Peningkatan Kelembapan untuk Pengendalian Tertentu
Peningkatan kelembapan dilakukan pada kondisi tertentu untuk menguntungkan musuh alami atau menghambat OPT tertentu. Mekanisme: Menciptakan mikroiklim yang sesuai untuk perkecambahan spora jamur entomopatogen. Teknik: Penyemprotan kabut / misting pada rumah kasa di pagi dan sore hari. Target: Meningkatkan efektivitas jamur Beauveria bassiana dan Metarhizium spp. untuk mengendalikan thrips dan kutu kebul. Teknik ini harus hati-hati karena juga dapat memicu penyakit tanaman.
B. AMBANG KELEMBAPAN KRITIS UNTUK BEBERAPA OPT
1.Jamur Daun
RH Optimum >85%. RH Penghambat <70%. Spora tidak berkecambah pada RH rendah
2.Bakteri Daun
RH optimum >80% + ada air bebas. RH Penghambat <60%. Memerlukan lapisan air pada daun
3.Kutu Gudang
RH Optimum : 70-80%. RH Penghambat:. <50%. Perkembangan terhenti pada RH rendah
4.Tungau
RH Optimum : 60-80%. RH Penghambat <40%. Rentan dehidrasi pada RH rendah
5.Jamur Entomopatogen
RH optimum >90%. RH penghambat <80%. Perlu kelembapan tinggi untuk infeksi
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
1. Suhu dan Kelembapan: Keduanya berinteraksi. Suhu tinggi + RH tinggi sangat mendukung penyakit.
2. Lama Pemaparan: Penurunan kelembapan harus dipertahankan selama periode kritis infeksi.
3. Jenis Komoditas: Setiap komoditas memiliki kadar air aman penyimpanan yang berbeda.
4. Ventilasi dan Sirkulasi Udara: Faktor utama dalam menurunkan kelembapan mikro.
D. KELEBIHAN PENGENDALIAN DENGAN KELEMBAPAN
1. Tidak menggunakan bahan kimia sehingga aman bagi produk dan lingkungan.
2. Biaya operasional rendah terutama untuk ventilasi dan pengaturan jarak tanam.
3. Dapat mencegah sekaligus penyakit dan hama gudang.
4. Menjaga kualitas produk dengan mencegah tumbuhnya jamur dan aflatoksin.
E. KELEMAHAN PENGENDALIAN DENGAN KELEMBAPAN
1. Dipengaruhi iklim: Sulit mengendalikan RH di musim hujan.
2. Memerlukan monitoring: Harus diukur dengan higrometer secara rutin.
3. Efek ganda: Penurunan RH yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman mengalami stres kekeringan.
4. Investasi awal: Gudang kedap udara dan alat pengering memerlukan biaya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Oka, I.N. 2005. Pengantar Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
2. Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology. 5th Edition. Elsevier Academic Press, USA. Chapter 4: Environment and Plant Disease.
3. Hill, D.S. 1990. Pests of Stored Foodstuffs and Their Control. Belhaven Press, London.
4. Direktorat Jenderal Hortikultura. 2019. Panduan Teknis Pengendalian Pascapanen. Kementerian Pertanian RI.
5. Rotem, J., Palti, J. 1969. Irrigation and plant diseases. Annual Review of Phytopathology, 7: 267-288. DOI: 10.1146/annurev.py.07.090169.001411.
6. Magan, N., Aldred, D. 2007. Post-harvest control strategies: minimizing mycotoxins in the food chain. International Journal of Food Microbiology, 119(1-2): 131-139. DOI: 10.1016/j.ijfoodmicro.2007.07.034.
7. Hallsworth, J.E., Magan, N. 1996. Culture age, temperature, and pH affect the polyol and trehalose contents of fungal propagules. Applied and Environmental Microbiology, 62(7): 2435-2442.
8. Arthur, F.H. 1996. Grain protectants: current status and prospects for the future. Journal of Stored Products Research, 32(4): 293-302. DOI: 10.1016/S0022-474X(96)00029-1.
Komentar
Posting Komentar