PENGENDALIAN FISIK DENGAN SUARA

PENGENDALIAN FISIK DENGAN SUARA 
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Rabu, 2 Sept 2026


Pengendalian dengan suara adalah metode pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman / OPT dengan memanfaatkan gelombang suara atau getaran akustik untuk mengganggu, mengusir, menekan, atau mematikan OPT. Prinsip dasarnya adalah memanfaatkan sifat biologis OPT yang sensitif terhadap frekuensi, intensitas, dan pola suara tertentu. Suara dapat menyebabkan stres fisiologis, mengganggu komunikasi, menghambat perkawinan, atau menyebabkan kerusakan organ pada OPT.Metode ini termasuk dalam kelompok pengendalian fisik non-kimiawi dan mulai banyak dikembangkan dalam rangka pertanian berkelanjutan.

A. JENIS-JENIS PENGENDALIAN DENGAN SUARA DAN MEKANISMENYA
1. Pengusiran dengan Suara Ultrasonik
Menggunakan gelombang suara dengan frekuensi >20.000 Hz yang tidak dapat didengar manusia tetapi dapat didengar oleh serangga dan mamalia kecil. Mekanisme:  Gelombang ultrasonik menyebabkan gangguan pada sistem saraf, organ pendengaran, dan orientasi OPT. Menyebabkan stres, penurunan nafsu makan, dan pengusiran dari area pertanaman.  Peralatan: Alat pemancar ultrasonik dengan daya 10-25 watt, dipasang pada tiang setinggi 1,5-2 m.  Efektivitas menurun jika OPT sudah terbiasa / habituasi. Perlu perubahan pola frekuensi secara berkala. Target:   Tikus sawah Rattus argentiventer dan tikus rumah Rattus rattus., Burung pemakan biji seperti pipit dan emprit.  , Kelelawar dan serangga gudang tertentu.  


2. Pengusiran dengan Suara Audiosonik / Suara Ledakan
Menggunakan suara dengan frekuensi 20 Hz - 20.000 Hz yang dapat didengar manusia. Mekanisme:  Suara keras yang tiba-tiba menyebabkan rasa takut dan respon menghindar pada OPT vertebrata.  Target: Burung pemakan padi Lonchura spp., burung pemakan buah, dan hama mamalia.  Kelemahan: Dapat menimbulkan polusi suara dan protes masyarakat.
Teknik:  
a. Meriam gas / gas gun: Menghasilkan suara ledakan 120-130 dB setiap 5-15 menit.  
b. Perekam suara predator: Memutar suara burung pemangsa untuk mengusir burung pemakan padi.  
c. Perekam suara bahaya: Suara teriakan burung saat terancam digunakan untuk mengusir kawanan burung.  


3. Penghambatan Perkawinan dengan Suara Getaran
Memanfaatkan suara pada frekuensi yang mengganggu komunikasi seksual serangga. Mekanisme:  Banyak serangga menggunakan getaran substrat untuk komunikasi kawin. Pemancaran getaran buatan dapat mengacaukan proses perkawinan sehingga menurunkan populasi.  Teknik: Alat vibrator dipasang pada batang tanaman.  Target: Wereng batang coklat Nilaparvata lugens dan wereng hijau Nephotettix virescens pada padi. Penelitian menunjukkan penurunan keberhasilan kawin sampai 60-80%.  Status: Masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.

4. Pengendalian dengan Suara Frekuensi Tinggi untuk Hama Gudang
Mekanisme:  Gelombang suara intensitas tinggi menyebabkan kerusakan pada membran sel dan organ tubuh serangga kecil.  Target: Kutu gudang Sitophilus dan ngengat gudang pada biji-bijian.  Masih bersifat eksperimental di laboratorium.



B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN
1.  Frekuensi dan Intensitas: Setiap OPT memiliki rentang frekuensi sensitif yang berbeda. Tikus sensitif pada 25-40 kHz.
2.  Jarak dan Hambatan: Efektivitas menurun dengan jarak dan adanya hambatan seperti tanaman rapat dan bangunan.
3.  Habituasi: OPT dapat menjadi kebal jika pola suara tidak diubah. Diperlukan variasi frekuensi dan jeda waktu.
4.  Kondisi Lingkungan: Angin kencang dan hujan dapat mengurangi efektivitas penyebaran suara.
5.  Luas Area: Efektif untuk lahan sempit sampai sedang <2 ha per alat.


C. KELEBIHAN PENGENDALIAN DENGAN SUARA
1.  Ramah lingkungan: Tidak meninggalkan residu kimia dan tidak membunuh musuh alami.
2.  Aman bagi manusia dan tanaman: Tidak menyebabkan keracunan.
3.  Dapat bekerja 24 jam: Terutama alat otomatis.
4.  Biaya operasional rendah setelah investasi awal alat.

D. KELEMAHAN PENGENDALIAN DENGAN SUARA
1.  Efektivitas tidak konsisten: Sangat dipengaruhi habituasi OPT.
2.  Jangkauan terbatas: Gelombang suara mudah terhalang vegetasi dan bangunan.
3.  Spesifik: Satu frekuensi tidak efektif untuk semua jenis OPT.
4.  Polusi suara: Penggunaan suara keras dapat mengganggu masyarakat sekitar.
5.  Harga alat relatif mahal dan memerlukan sumber listrik atau tenaga surya.


DAFTAR PUSTAKA
1. Oka, I.N. 2005. Pengantar Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia21. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. l
2. Untung, K. 2006. Pengantar Hama Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 
3. Pedigo, L.P. & Rice, M.E. 2009. Entomology and Pest Management. 6th Edition. Pearson Prentice Hall, USA. l
4. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2016. Panduan Teknis Pengendalian Tikus Terpadu. Kementerian Pertanian RI. 

5. Mankin, R.W., et al. 2011. Acoustic detection and automated monitoring of insects in agricultural systems. Journal of Economic Entomology, 104(4): 1137-1148. DOI: 10.1603/EC10414.  
6. Cocroft, R.B., Rodriguez, R.L. 2005. The diversity of auditory modalities in arthropods. Annual Review of Entomology, 50: 561-583. DOI: 10.1146/annurev.ento.50.071803.130349.  
7. Sudarmaji, et al. 2014. Efficacy of ultrasonic devices for controlling rice field rat. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 33(1): 29-34.  
8. Gorresen, P.M., et al. 2015. Effectiveness of acoustic deterrents for reducing bird damage to crops. Crop Protection, 78: 172-179. DOI: 10.1016/j.cropro.2015.09.004.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab