PENANGANAN SUSU
PENANGANAN SUSU
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Selasa, 4 Agustus 2026
Penanganan susu adalah seluruh kegiatan yang dilakukan mulai dari sebelum pemerahan, saat pemerahan, hingga sebelum diolah di industri. Tujuan utama penanganan susu adalah menjaga mutu, mencegah kontaminasi mikroba, dan memperpanjang kesegaran susu karena susu merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri.Prinsip dasar penanganan susu adalah: Bersih, Cepat, dan Dingin.
A.PENANGANAN SEBELUM PEMERAHAN
Tahap ini menentukan mutu mikrobiologis susu awal.
1. Kesehatan Ternak
Sapi perah harus sehat, tidak menderita mastitis. Pemerahan dari ambing yang sakit dapat meningkatkan jumlah sel somatik dan bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan E. coli
2. Kebersihan Kandang dan Lingkungan
Kandang harus bersih, kering, berventilasi baik, dan bebas dari kotoran. Pakan dan air minum harus bersih untuk mencegah kontaminasi silang.
3. Kebersihan Petugas
Petugas pemerahan wajib mencuci tangan dengan sabun, menggunakan pakaian kerja bersih, dan tidak menderita penyakit menular.
4. Kebersihan Peralatan
Semua peralatan yang kontak langsung dengan susu seperti ember, saringan, milk can, dan mesin perah harus dicuci dan disterilkan. Bahan yang dianjurkan adalah stainless steel karena tidak berkarat dan mudah dibersihkan.
B. PENANGANAN SAAT PEMERAHAN
1. Persiapan Ambing
Ambing dan puting susu dicuci dengan air bersih lalu dikeringkan dengan lap bersih sekali pakai. 2-3 pancaran pertama dibuang karena mengandung mikroba paling banyak.
2. Metode Pemerahan
a. Pemerahan Manual: Dilakukan dengan tangan bersih dan gerakan yang benar untuk menghindari luka pada puting.
b. Pemerahan Mesin: Lebih higienis dan cepat. Mesin harus dirawat dan divakum dengan tekanan sesuai standar untuk mencegah trauma puting.
3. Penyaringan
Susu yang baru diperah segera disaring untuk memisahkan kotoran fisik seperti bulu dan debu.
C. PENANGANAN SETELAH PEMERAHAN
Ini adalah tahap paling kritis untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
1. Pendinginan Cepat
Susu harus segera didinginkan ke suhu ≤4°C dalam waktu maksimal 2 jam setelah pemerahan. Prinsipnya: setiap kenaikan suhu 1°C dapat menggandakan jumlah bakteri dalam 20 menit. Alat: Bulk Milk Cooler atau perendaman milk can dalam air es.
2. Penyimpanan Sementara
Susu disimpan dalam tangki tertutup pada suhu 4°C. Pengadukan dilakukan secara perlahan untuk mencegah kerusakan globula lemak.
3. Transportasi
Susu diangkut dengan mobil tangki berpendingin refrigerated truck ke pabrik pengolahan. Selama transportasi suhu harus tetap terjaga ≤4°C.
D.PENANGANAN DI TINGKAT INDUSTRI
1. Penerimaan dan Uji Mutu
Di pabrik dilakukan uji organoleptik, uji alkohol, uji keasaman, uji berat jenis, dan uji residu antibiotik. Susu yang tidak memenuhi SNI 01-3141-2011 ditolak.
2. Standarisasi
Kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak disesuaikan sesuai jenis produk yang akan dibuat.
3. Pengolahan Lanjutan
Susu kemudian dipasteurisasi, UHT, atau diolah menjadi produk lain sesuai prosedur.
E.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGANAN
1. Waktu: Semakin cepat didinginkan, semakin baik mutunya.
2. Suhu: Suhu rendah menghambat pertumbuhan mikroba psikrofilik dan mesofilik.
3. Kebersihan: Kontaminasi awal menentukan jumlah bakteri total. 1 bakteri pada awalnya dapat menjadi jutaan dalam beberapa jam.
4. Kemasan: Menggunakan wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi dan penyerapan bau.
F. AKIBAT PENANGANAN YANG BURUK
1. Kerusakan Mikrobiologis: Asam, menggumpal, bau tengik akibat lipase dan protease bakteri.
2. Kerusakan Kimia: Oksidasi lemak menyebabkan rasa tengik.
3. Penolakan oleh Industri: Susu tidak memenuhi standar mutu dan harga jual turun.
DAFTAR PUSTAKA
1. Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi. Edisi Revisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
2. Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., Wootton, M. Ilmu Pangan. Terjemahan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2009.
3. Walstra, P., Wouters, J.T.M., Geurts, T.J. Dairy Science and Technology. 2nd Edition. Boca Raton: CRC Press. 2006.
4. Badan Standardisasi Nasional. SNI 01-3141-2011: Susu Segar. BSN. 2011.
5. Kementerian Pertanian RI. Bahan Ajar Menangani Susu. Pusat Pendidikan Pertanian. 2022.
6. Fox, P.F., McSweeney, P.L.H. Dairy Chemistry and Biochemistry. 2nd Edition. Springer. 2015.
7. FAO. Guidelines for Milk Hygiene. Food and Agriculture Organization. 2018.
Komentar
Posting Komentar