Biopestisida
BIOPESTISIDA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Sabtu, 15 Agustus 2026
Biopestisida adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari organisme hidup atau produk metabolitnya yang dapat digunakan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman / OPT. Biopestisida merupakan alternatif dari pestisida sintetik kimia dalam rangka mendukung pertanian berkelanjutan dan Pengendalian Hama Terpadu / PHT. Penggunaan biopestisida bertujuan menekan populasi OPT tanpa menimbulkan resistensi, residu berbahaya, dan pencemaran lingkungan.
A. Ciri-Ciri Biopestisida
1. Bahan aktif alami: Berasal dari mikroorganisme, tumbuhan, atau nematoda
2. Spesifik sasaran: Umumnya hanya menyerang jenis OPT tertentu sehingga aman bagi musuh alami
3. Mudah terurai / biodegradable: Tidak meninggalkan residu jangka panjang di tanah dan hasil panen
4. Tidak menimbulkan resistensi cepat: Mekanisme kerja kompleks sehingga OPT sulit beradaptasi
5. Kerja relatif lambat: Dibanding pestisida kimia, biopestisida memerlukan waktu 3-7 hari untuk menunjukkan gejala
B. Jenis-Jenis Biopestisida
Berdasarkan asal bahan aktifnya, biopestisida dikelompokkan menjadi 4 golongan:
a. Biopestisida Mikroba
Menggunakan mikroorganisme patogen terhadap OPT.
1. Jamur Entomopatogen: Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Trichoderma sp. : Sasaran: ulat, wereng, jamur patogen tanaman. Mekanisme: menginfeksi dan mematikan dari dalam.
2. Bakteri: Bacillus thuringiensis / Bt : Sasaran: ulat pada kubis, tomat, jagung. Menghasilkan toksin kristal yang melumpuhkan saluran pencernaan larva.
3. Virus: Nuclear Polyhedrosis Virus / NPV : Sasaran: ulat grayak, ulat krop. Menyebabkan penyakit pada serangga.
4. Bakteri Antagonis: Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis : Sasaran: penyakit bakteri dan jamur pada tanaman.
b. Biopestisida Nabati
Berasal dari ekstrak bagian tanaman yang memiliki senyawa bioaktif.
Contoh:
1. Nimba / Neem (Azadirachta indica): Mengandung azadirachtin, bersifat antifeedant dan penghambat pertumbuhan
2. Tembakau (Nicotiana tabacum): Mengandung nikotin, bersifat racun kontak
3. Sereh Wangi, Gadung, Bawang Putih: Bersifat repelen dan fungisida
4. Jarak, Sirsak, Lengkuas: Mengandung senyawa insektisida dan akarisida
c. Biopestisida dari Nematoda
Menggunakan nematoda entomopatogen genus Steinernema dan Heterorhabditis. Sasaran: larva yang hidup di dalam tanah seperti uret dan penggerek.
d. Biopestisida dari Pheromone dan Hormon
Menggunakan zat pengganggu perkawinan dan pengatur tumbuh serangga. Sasaran: memutus siklus hidup OPT tanpa membunuh langsung.
C. Kelebihan Penggunaan Biopestisida
1. Aman bagi lingkungan: Mudah terurai dan tidak mencemari tanah serta air
2. Aman bagi manusia: Toksisitas rendah, tidak meninggalkan residu berbahaya pada hasil panen
3. Melestarikan musuh alami: Selektif sehingga predator dan parasitoid tidak mati
4. Mencegah resistensi: Mekanisme kerja berbeda dengan pestisida kimia
5. Mendukung PHT: Dapat diintegrasikan dengan pengendalian kultur teknis dan hayati
D. Kekurangan dan Tantangan
1. Kerja lambat: Memerlukan waktu untuk menginfeksi dan membunuh OPT
2. Peka terhadap lingkungan: Sinar UV, suhu tinggi, dan hujan dapat menurunkan efektivitas
3. Penyimpanan khusus: Kebanyakan harus disimpan di tempat sejuk dan kering
4. Spesifisitas tinggi: Satu jenis biopestisida hanya efektif untuk OPT tertentu
5. Ketersediaan: Produksi massal dan distribusi masih terbatas
E. Cara Aplikasi Biopestisida
1. Waktu aplikasi: Pagi hari 08.00-10.00 atau sore hari 16.00-17.00 untuk menghindari sinar UV
2. Dosis: Mengikuti anjuran label. Untuk nabati umumnya 2-5 ml/liter
3. Frekuensi: 5-7 hari sekali, tergantung tekanan OPT
4. Pencampuran: Hindari mencampur dengan pestisida kimia, fungisida, dan air dengan pH tinggi
5. Penambahan perekat: Dapat ditambah perekat alami agar menempel lebih lama pada daun
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida & Aplikasinya. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Kanisius. .
Moekasan, T.K., & Prabaningrum, L. 2021. Penggunaan dan Penanganan Pestisida yang Baik dan Benar. IAARD Press. ISBN: 978-602-344-312-3
Laba, I.W. 2009. Sejarah Perkembangan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman di Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kestra / JPK, Volume 5, Nomor 2, Tahun 2025.
ADIBRATA JURNAL Vol. 4 No. 3, Desember 2024. ISSN: 2776-3943.
Komentar
Posting Komentar