Pewarna Sintesis

PEWARNA SINTETIS
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Selasa, 18 Agustus 2026


Pewarna sintetis adalah zat warna yang dibuat melalui proses sintesis kimia dari bahan-bahan organik maupun anorganik di laboratorium atau industri kimia. Senyawa ini umumnya tidak terdapat di alam atau merupakan hasil replikasi struktur kimia dari pewarna alami. 

A. Pengertian
Menurut Cahyadi (2009), pewarna sintetis merupakan zat warna yang dibuat melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat dan senyawa organik lainnya. Menurut Winarno (2002), pewarna sintetis didefinisikan sebagai bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan dengan intensitas tinggi dan stabilitas yang baik.


B.Karakteristik Umum Pewarna Sintetis
1. Struktur Kimia: Kebanyakan memiliki gugus kromofor seperti azo -N=N-, triphenylmethane, xanthene, dan quinoline yang menghasilkan warna kuat.
2. Kelarutan: Umumnya larut dalam air berbentuk garam natrium, sehingga mudah diaplikasikan pada minuman dan produk berbasis air.
3. Stabilitas Tinggi: Lebih tahan terhadap panas, cahaya, pH, dan oksidasi dibandingkan pewarna alami.
4. Intensitas Warna Kuat: Dibutuhkan dalam konsentrasi sangat kecil, 0,01 - 0,1%, untuk menghasilkan warna yang diinginkan.
5. Warna Seragam: Tidak dipengaruhi oleh varietas bahan baku sehingga menghasilkan konsistensi warna antar batch.

C. Contoh Pewarna Sintetis yang Diizinkan di Indonesia
Mengacu pada Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019, beberapa pewarna sintetis yang diizinkan beserta Indeks Warna/CI adalah:
1.Tartrazin CI 19140 Kuning Minuman, permen, mie instan
2.Allura Red AC CI 16035 Merah Jingga Sirup, selai, sosis
3.Carmoisin CI 14720 Merah Selai, minuman, es krim
4.Eritrosin CI 45430 Merah Muda Kue, hiasan kue
5.Brilliant Blue FCF CI 42090 Biru Minuman, permen, obat
6.Indigotin CI 73015 Biru Permen, minuman
7.Fast Green FCF CI 42053 Hijau Es krim, minuman

D.Kelebihan Pewarna Sintetis
1. Stabilitas Proses: Tahan terhadap pemanasan, penyimpanan, cahaya, dan perubahan pH sehingga cocok untuk industri pangan skala besar.
2. Efisiensi Biaya: Harga lebih murah dan dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
3. Konsistensi: Menghasilkan warna yang seragam dan dapat diprediksi.
4. Tersedia Sepanjang Waktu: Tidak tergantung musim dan ketersediaan bahan baku pertanian.

E.Kekurangan dan Risiko Pewarna Sintetis
1. Potensi Toksisitas: Proses sintesis dapat meninggalkan residu logam berat seperti arsen, timbal, dan merkuri yang bersifat toksik.
2. Reaksi Alergi dan Hiperaktivitas: Beberapa penelitian melaporkan tartrazin dan carmoisin dapat memicu hiperaktivitas pada anak sensitif.
3. Potensi Karsinogenik: Penggunaan berlebihan dan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kanker.
4. Penyalahgunaan: Sering disalahgunakan dengan pewarna tekstil dan kulit seperti Rhodamin B dan Metanil Yellow yang tidak food grade. Pewarna tekstil ini mengandung senyawa berbahaya dan dilarang dalam pangan.

F. Aspek Keamanan dan Regulasi
Penggunaan pewarna sintetis wajib memenuhi prinsip berikut:
1.  ADI / Acceptable Daily Intake: Batas konsumsi harian yang aman ditetapkan oleh JECFA dan BPOM.
2.  Food Grade: Hanya pewarna dengan kode CI tertentu yang diizinkan. Pewarna non-food grade dilarang.
3.  Labeling: Wajib dicantumkan pada label kemasan sesuai Peraturan BPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/MENKES/PER/IX/1988, pewarna seperti Rhodamin B, Metanil Yellow, dan Orange II dilarang digunakan dalam makanan.


DAFTAR PUSTAKA
1. Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2. Cahyadi, W. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara.
4. Tranggono. 1990. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM.
5. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2019. Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: BPOM.
6. Kementerian Kesehatan RI. 1988. Peraturan Menkes RI No. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan.
7. Basrah, M. 1987. Pengaruh Pengolahan terhadap Perubahan Warna Bahan Pangan. Jurnal Teknologi Pertanian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Proses Metatesis Dalam Fonologi Bahasa Indonesia