BIOLOGI GULMA
Biologi gulma mempelajari tentang siklus hidup, pertumbuhan, perkembangbiakan, dan ekologi gulma. Pemahaman biologi gulma sangat penting sebagai dasar dalam menentukan waktu dan metode pengendalian yang efektif.
A. SIKLUS HIDUP GULMA
Siklus hidup gulma dibagi berdasarkan lamanya waktu dari perkecambahan hingga kematian tanaman.
1. Gulma Semusim / Annual
Menyelesaikan seluruh siklus hidup dalam waktu kurang dari 1 tahun. Setelah berbiji dan biji masak, tanaman induk akan mati.
a.Ciri: Pertumbuhan cepat, produksi biji sangat banyak, tidak memiliki alat perbanyakan vegetatif.
b.Contoh: Ageratum conyzoides / babadotan, Amaranthus spinosus / bayam duri, Portulaca oleracea / krokot.
c.Strategi pengendalian: dicegah agar tidak sampai berbiji.
2. Gulma Dwisemusim / Biennial
Menyelesaikan siklus hidup dalam 2 tahun. Tahun pertama fase vegetatif membentuk roset daun dan organ penyimpanan. Tahun kedua fase generatif, berbunga, berbuah lalu mati. Contoh: Daucus carota liar, Rumex crispus. Jenis ini jarang ditemukan di daerah tropis basah seperti Indonesia.
3. Gulma Menahun / Perennial
Hidup lebih dari 2 tahun dan dapat berproduksi berulang kali. Memiliki alat penyimpanan cadangan makanan.Strategi pengendalian: harus mematikan organ vegetatif di dalam tanah.
Dibagi 2:
a. Perennial Sederhana: Hanya memperbanyak diri secara generatif melalui biji, tetapi memiliki umur panjang. Contoh: Plantago major.
b. Perennial Kompleks: Memperbanyak diri secara generatif dan vegetatif melalui rimpang, stolon, umbi, geragih. Contoh: Imperata cylindrica / alang-alang, Cyperus rotundus / teki, Cynodon dactylon / grinting.
B. PERKEMBANGBIAKAN GULMA
Gulma memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi, sehingga menjadi kompetitor kuat.
1. Perkembangbiakan Generatif melalui Biji
Merupakan cara utama penyebaran gulma jarak jauh.Contoh gulma penyebar biji: Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata.
Ciri biji gulma:
a. Produksi tinggi: Amaranthus spinosus menghasilkan >100.000 biji/tanaman, Echinochloa crus-galli 40.000 biji/tanaman.
b.Dormansi: Biji dapat bertahan di dalam bank biji tanah selama 5-40 tahun dan berkecambah secara bertahap.
c. Penyebaran: Melalui angin, air, manusia, hewan, alat pertanian, dan benih kotor.
2. Perkembangbiakan Vegetatif
Merupakan cara utama penyebaran gulma jarak dekat dan penyebab gulma sulit diberantas.
Alat perbanyakan vegetatif:
a. Rimpang / Rhizoma: Batang di dalam tanah. Contoh: Imperata cylindrica, Sorghum halepense.
b. Umbi / Tuber: Pembengkakan pada rimpang atau akar. Contoh: Cyperus rotundus.
c. Stolon / Geragih: Batang menjalar di atas tanah. Contoh: Cynodon dactylon.
d. Fragmentasi: Setiap potongan batang, akar, atau rimpang dapat tumbuh menjadi tanaman baru.
e.Akar dan tunas adventif: Contoh: Euphorbia hirta.
3. Perkembangbiakan Generatif dan Vegetatif
Beberapa gulma memiliki kedua cara tersebut sehingga sangat invasif. Contoh: Cynodon dactylon, Panicum repens.
C. FISIOLOGI DAN PERTUMBUHAN GULMA
1. Laju Pertumbuhan Tinggi
Gulma memiliki laju pertumbuhan relatif / RGR yang tinggi pada fase awal. Hal ini menyebabkan gulma mampu menaungi tanaman budidaya dan memenangkan kompetisi cahaya.
2. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
a. Akar: Sistem perakaran ekstensif dan dalam, mampu menyerap air dan hara lebih efisien.
b. Fotosintesis: Banyak gulma termasuk tipe C4 seperti alang-alang, teki, grinting. Tipe C4 lebih efisien dalam penggunaan air dan CO2 pada suhu tinggi dan intensitas cahaya tinggi.
c. Toleransi: Mampu tumbuh pada tanah marjinal, pH ekstrem, dan cekaman kekeringan.
3. Alelopati
Beberapa gulma mengeluarkan senyawa kimia alelokimia yang menghambat perkecambahan dan pertumbuhan tanaman lain. Contoh: Chromolaena odorata menghasilkan senyawa fenolik, Imperata cylindrica menghambat pertumbuhan padi.
D.IMPLIKASI BIOLOGI GULMA TERHADAP PENGENDALIAN
1. Karena produksi biji tinggi → pengendalian harus sebelum berbunga.
2. Karena ada dormansi → pengendalian harus berkelanjutan beberapa musim.
3. Karena ada perbanyakan vegetatif → pengendalian mekanis harus tuntas sampai ke rimpang/umbi.
4. Karena tipe C4 → herbisida dan waktu aplikasi harus disesuaikan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Moesdijono, S., Suhardjo, & Wibowo, S. 2006. Ilmu Gulma. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
2. Tjitrosemito, G. 2003. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Penebar Swadaya. Jakarta.
3. Radosevich, S.R., Holt, J.S., & Ghersa, C.M. 2007. Weed Ecology: Implications for Management. 3rd Edition. Wiley. USA.
4. Zimdahl, R.L. 2018. Fundamentals of Weed Science. 5th Edition. Academic Press. USA.
5. Chauhan, B.S., & Johnson, D.E. 2008. Seed Germination Ecology of Junglerice and Goosegrass. Weed Science, 56(2): 244-251. https://doi.org/10.1614/WS-07-139.1
6. Benvenuti, S. 2007. Weed Seed Movement and Dispersal Strategies. Weed Science, 55(3): 261-267.
7. Sastroutomo, S.S. 1992. Biologi dan Ekologi Gulma Penting di Indonesia. Jurnal Ilmu Gulma dan Pengendalian Gulma Indonesia, 1(1): 1-12.
8. Rao, A.N., et al. 2017. Weed Management in Major Food Crops of the World. Crop Protection, 95: 11-19.
Komentar
Posting Komentar