BIOLOGI HAMA
BIOLOGI HAMA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Sabtu, 1 Agustus 2026
Biologi hama adalah ilmu yang mempelajari siklus hidup, perilaku, fisiologi, dan reproduksi organisme hama. Pemahaman biologi hama merupakan dasar penting dalam penyusunan strategi pengendalian, karena setiap tahap perkembangan dan perilaku hama memiliki kelemahan yang dapat dimanfaatkan untuk menekan populasinya.
A. KONSEP DASAR BIOLOGI HAMA
Biologi hama mencakup semua aspek kehidupan hama mulai dari telur hingga mati. Perbedaan biologi antar spesies menyebabkan perbedaan dalam cara merusak, kecepatan berkembang biak, dan respons terhadap pengendalian.
B. SIKLUS HIDUP HAMA
Siklus hidup hama secara umum dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan Kelas Insecta:
1. Metamorfosis Sempurna / Holometabola
Melalui 4 stadia: Telur → Larva → Pupa → Imago/Dewasa . Ciri: Bentuk larva sangat berbeda dengan imago.
Contoh:
a) Ordo Lepidoptera: Ulat grayak Spodoptera litura Telur 3-5 hari → Larva 14-21 hari → Pupa 7-10 hari → Ngengat 7-10 hari. Total 1 generasi ± 30-40 hari.
b) Ordo Coleoptera: Kumbang bubuk beras Sitophilus oryzae . Telur diletakkan di dalam biji → Larva makan dari dalam → Pupa di dalam biji → Kumbang keluar.
c)Ordo Diptera: Lalat buah Bactrocera dorsalis . Telur di dalam buah → Larva/maggot makan daging buah → Pupa di dalam tanah → Lalat dewasa.
2. Metamorfosis Tidak Sempurna / Hemimetabola
Melalui 3 stadia: Telur → Nimfa → Imago/Dewasa . Ciri: Nimfa bentuknya mirip imago tetapi lebih kecil dan belum bersayap sempurna.
Contoh:
a) Ordo Homoptera: Wereng coklat Nilaparvata lugens Telur 6-9 hari → Nimfa 5 instar, 12-15 hari → Wereng dewasa 15-30 hari. 1 generasi ± 30 hari.
b) Ordo Orthoptera: Belalang Valanga nigricornis Telur di dalam tanah → Nimfa 5-6 instar → Belalang dewasa.
C. FISIOLOGI REPRODUKSI HAMA
1. Daya Reproduksi Tinggi: 1 betina wereng dapat menghasilkan 300-600 telur. Hal ini menyebabkan potensi ledakan populasi.
2. Perkawinan dan Peletakan Telur: Betina meletakkan telur pada bagian tanaman yang sesuai. Ada yang di permukaan daun, di dalam jaringan, atau di dalam tanah.
3. Parthenogenesis: Reproduksi tanpa perkawinan. Contoh: Kutu daun dapat berkembang biak secara partenogenesis sehingga 1 individu dapat membentuk koloni besar
D. PERILAKU / ETOLOGI HAMA
Perilaku hama mempengaruhi keberhasilan pengendalian.
1. Pola Makan
a. Polifag: Makan banyak jenis tanaman. Contoh: Ulat grayak
b. Oligofag: Makan beberapa jenis tanaman sekerabat. Contoh: Penggerek batang padi
c. Monofag: Hanya makan 1 jenis tanaman. Contoh: Penggerek buah kakao
2. Aktivitas Harian
a. Nocturnal: Aktif malam hari. Contoh: Ulat, ngengat
b. Diurnal: Aktif siang hari. Contoh: Kumbang, belalang
3. Migrasi
Beberapa hama melakukan migrasi jarak jauh mengikuti angin dan musim. Contoh: Wereng coklat bermigrasi dari Jawa ke Kalimantan.
4. Preferensi Inang
Hama tertarik pada warna, bau, dan senyawa kimia tanaman. Tanaman dengan N tinggi lebih disukai.
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIOLOGI HAMA
1. Suhu: Menentukan kecepatan perkembangan. Pada suhu optimal, siklus hidup lebih pendek.
2. Kelembaban: Mempengaruhi daya tetas telur dan kelangsungan hidup nimfa.
3. Nutrisi Tanaman Inang: Kualitas makanan mempengaruhi fekunditas dan ukuran tubuh.
4. Fotoperiode: Panjang siang hari mempengaruhi diapause dan migrasi.
F. PENERAPAN BIOLOGI HAMA DALAM PENGENDALIAN
Pengetahuan biologi digunakan untuk menentukan waktu dan cara pengendalian yang tepat.
1. Pengendalian pada stadia rentan: Menyemprot insektisida saat larva instar awal lebih efektif.
2. Pemutusan siklus hidup: Pembajakan tanah untuk mematikan pupa di dalam tanah.
3. Perangkap: Menggunakan feromon seks untuk menangkap imago jantan.
4. Sanitasi: Memusnahkan sisa tanaman yang berisi telur atau pupa.
DAFTAR PUSTAKA
Borror, D.J., Triplehorn, C.A., & Johnson, N.F. 1992. An Introduction to the Study of Insects. 6th Edition. USA: Saunders College Publishing.
Pedigo, L.P. 2002. Entomology and Pest Management. 4th Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Jakarta: PT Ichtiar Baru - Van Hoeve.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Chapman, R.F. 1998. The Insects: Structure and Function. 4th Edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Komentar
Posting Komentar