DAMPAK EKONOMI GULMA

 



Dampak ekonomi gulma adalah kerugian finansial yang ditimbulkan akibat kehadiran gulma dalam sistem usahatani. Dampak ini menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan pengendalian gulma secara rasional.


A. KOMPONEN DAMPAK EKONOMI GULMA

1. Kehilangan Hasil Tanaman / Yield Loss  

Persaingan gulma terhadap unsur hara, air, cahaya, dan ruang menyebabkan penurunan produktivitas tanaman.  

a.Secara global: Menurut FAO 2010, kehilangan hasil akibat gulma mencapai 34% dari potensi produksi tanaman pangan di dunia. 

b. Di Indonesia: 

1)- Padi: 20% - 60%. Jika tidak dikendalikan pada periode kritis 15-45 HST, kehilangan hasil dapat mencapai 80%. 

  2) Jagung: 30% - 60%.

  3)Kedelai: 25% - 50%.

   4)Sayuran: 40% - 90% karena periode kritisnya pendek dan nilai ekonominya tinggi.

Faktor yang menentukan besarnya kehilangan hasil: jenis gulma, kepadatan, waktu muncul, dan daya saing tanaman.


2. Penurunan Mutu Hasil  

Gulma menurunkan nilai jual komoditas melalui 3 cara:

a.Kontaminasi fisik: Biji gulma tercampur pada gabah, jagung, kedelai. Contoh: Fimbristylis miliacea pada gabah menurunkan kelas mutu beras.

b. Kontaminasi kimia: Beberapa gulma beracun seperti Lantana camara dan Jatropha gossypifolia menyebabkan produk susu dan daging memiliki rasa dan bau tidak enak jika dikonsumsi ternak.

c. Kerusakan mekanis: Gulma berduri dan merambat menyebabkan luka pada buah dan umbi saat panen.


3. Peningkatan Biaya Produksi  

Secara umum biaya pengendalian gulma mencapai 20% - 30% dari total biaya produksi tanaman semusim. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengendalikan gulma. Komponen biaya meliputi:

a. Biaya tenaga kerja: Penyiangan manual. Dapat mencapai 30-40% dari total biaya tenaga kerja.

b. Biaya herbisida dan alat aplikasi: Pembelian herbisida, knapsack sprayer, dan APD.

c. Biaya operasional: Penggunaan traktor untuk pengolahan tanah tambahan karena gulma.


4. Gangguan Operasional dan Pascapanen  

a.Kesulitan pemanenan: Gulma merambat seperti Mikania micrantha melilit tanaman sehingga mempersulit pemanenan dan meningkatkan biaya panen.

b.Peningkatan biaya pengeringan dan penyimpanan: Hasil panen yang tercampur gulma memiliki kadar air lebih tinggi sehingga rawan jamur dan memerlukan biaya pengeringan lebih besar.

c.Penurunan efisiensi irigasi: Gulma air seperti Eichhornia crassipes menyumbat saluran sehingga meningkatkan biaya pembersihan.


5. Kehilangan Peluang Ekonomi / Opportunity Cost  

Lahan yang didominasi gulma invasif seperti Imperata cylindrica tidak dapat ditanami, sehingga petani kehilangan pendapatan selama lahan tersebut tidak produktif.




B. KONSEP EKONOMI DALAM PENGENDALIAN GULMA

1. Ambang Ekonomi Gulma / Weed Economic Threshold, WET  

Adalah kepadatan populasi gulma dimana biaya pengendalian sama dengan kerugian hasil yang dicegah.  

Rumus:

WET = \frac{Biaya Pengendalian}{Harga Hasil \times  Kehilangan Hasil per Satuan Gulma}

Jika kepadatan gulma di bawah WET, maka pengendalian tidak layak secara ekonomi.


2. Rasio Biaya-Manfaat / Cost Benefit Ratio  

Pengendalian gulma layak dilakukan jika nilai tambahan hasil yang diperoleh lebih besar dari biaya pengendalian.




C. CONTOH PERHITUNGAN KERUGIAN EKONOMI

Kasus pada tanaman padi 1 hektar:  

Potensi hasil: 6 ton/ha. Harga gabah: Rp5.000/kg.  

Jika gulma menyebabkan kehilangan hasil 40% = 2,4 ton.  

Kerugian = 2.400 kg x Rp5.000 = Rp12.000.000/ha/musim.  

Jika biaya pengendalian Rp1.500.000/ha, maka pengendalian masih sangat menguntungkan.



DAFTAR PUSTAKA

1.  Moesdijono, S., Suhardjo, & Wibowo, S. 2006. Ilmu Gulma. RajaGrafindo Persada. Jakarta. 

2.  Tjitrosemito, G. 2003. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Penebar Swadaya. Jakarta. 

3.  Zimdahl, R.L. 2018. Fundamentals of Weed Science. 5th Edition. Academic Press. USA. 

4.  Radosevich, S.R., Holt, J.S., & Ghersa, C.M. 2007. Weed Ecology: Implications for Management. 3rd Edition. John Wiley & Sons. USA.

5.  Oerke, E.C. 2006. Crop Losses to Pests. Journal of Agricultural Science, 144(1): 31-43. https://doi.org/10.1017/S0021859605005708

6.  Gunawan, B., & Harahap, I. 2015. Dampak Kompetisi Gulma terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung. Jurnal Agronomi Indonesia, 43(2): 112-118.

7.  Rao, A.N., et al. 2017. Weed Management in Major Food Crops of the World. Crop Protection, 95: 11-19.

8.  Swanton, C.J., & Weise, S.F. 1991. Integrated Weed Management: The Rationale and Approach. Weed Technology, 5(3): 657-663.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab