DIAGNOSIS PENYAKIT TANAMAN
DIAGNOSIS PENYAKIT TANAMAN
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Minggu, 2 Agustus 2026
Diagnosis penyakit tanaman adalah proses penentuan penyebab penyakit secara tepat berdasarkan gejala, tanda, dan hasil uji laboratorium. Diagnosis yang akurat merupakan langkah awal yang paling penting sebelum menentukan tindakan pengendalian.Menurut Agrios (2005), diagnosis yang salah akan menyebabkan pengendalian yang salah, sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar.
A. PRINSIP DASAR DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan pada 3 hal utama:
1. Gejala / Symptoms : Reaksi internal tanaman terhadap penyakit yang dapat diamati, misalnya klorosis, nekrosis, layu, kerdil.
2. Tanda / Signs : Bukti keberadaan patogen itu sendiri, misalnya miselium jamur, spora, lendir bakteri, tubuh buah jamur.
3. Riwayat dan Kondisi Lapang / History : Informasi tentang varietas, umur tanaman, pola tanam, cuaca, dan riwayat penyakit sebelumnya.
B. TAHAPAN DIAGNOSIS PENYAKIT TANAMAN
Tahap 1: Diagnosis Lapang / Field Diagnosis
Dilakukan secara langsung di lapangan. Bertujuan untuk menduga penyebab penyakit secara cepat.
Yang diamati:
1. Pola penyebaran: Acak, berkelompok, atau merata di seluruh hamparan.
2. Bagian tanaman yang sakit: Akar, batang, daun, bunga, buah.
3. Tipe gejala: Bercak, hawar, busuk, layu, mosaik, puru.
4. Adanya tanda patogen: Tepung putih pada embun tepung, lendir bakteri saat batang direndam air, konidia jamur pada bercak.
Keterbatasan: Diagnosis lapang bersifat dugaan dan dapat tertukar dengan gejala defisiensi hara atau kerusakan mekanis.
Tahap 2: Pengambilan Sampel
Sampel harus representatif, berasal dari bagian tanaman yang menunjukkan gejala awal sampai lanjut, dan tidak busuk total. Sampel dimasukkan ke kantong plastik, diberi label, dan segera dibawa ke laboratorium.
Tahap 3: Diagnosis Laboratorium / Laboratory Diagnosis
Dilakukan untuk memastikan dan mengidentifikasi patogen penyebab secara pasti. Metode yang digunakan:
1. Isolasi dan Kultur
Jaringan sakit disterilkan permukaan lalu ditanam pada media PDA untuk jamur atau NA untuk bakteri. Tujuannya mendapatkan biakan murni patogen.
2. Uji Mikroskopis
Pengamatan morfologi spora, konidia, hifa, sel bakteri, dan nematoda menggunakan mikroskop.
3. Uji Serologi / Serological Test
Menggunakan prinsip antigen-antibodi untuk mendeteksi virus dan bakteri. Contoh: ELISA / Enzyme Linked Immunosorbent Assay, Dot Blot. Cepat dan spesifik.
4. Uji Molekuler / Molecular Test
Mendeteksi DNA atau RNA patogen. Sangat sensitif dan spesifik. Contoh: PCR / Polymerase Chain Reaction, LAMP, qPCR. Digunakan untuk virus, viroid, dan bakteri yang sulit dikultur.
5. Uji Patogenisitas / Postulat Koch
Merupakan pembuktian terakhir bahwa organisme yang diisolasi benar-benar penyebab penyakit. Tahapannya: 1. Patogen diisolasi dari tanaman sakit.z 2. Patogen dikultur dalam biakan murni, 3. Biakan murni diinokulasikan ke tanaman sehat sejenis., 4. Tanaman menunjukkan gejala yang sama., 5. Patogen diisolasi kembali dari tanaman yang baru sakit dan identik dengan isolat awal.
C. PERAN DIAGNOSIS DALAM PENGENDALIAN
1. Menentukan jenis pestisida yang tepat. Fungisida tidak efektif untuk bakteri.
2. Menentukan apakah penyakit menular sehingga perlu karantina.
3. Menjadi dasar peramalan dan pemetaan epidemi.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. (2005). Plant Pathology. 5th Edition. Elsevier Academic Press, San Diego.
Schaad, N.W., Jones, J.B., & Chun, W. (2001). Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteria. 3rd Edition. APS Press.
Widodo. (2011). Pengantar Fitopatologi. Bayumedia Publishing, Malang.
Lopez, M.M. et al. (2003). "Molecular tools for detection of plant pathogenic bacteria". International Microbiology, 6(4): 249-264. DOI: 10.1007/s10123-003-0146-9
Boonham, N. et al. (2014). "Methods in virus diagnostics: from ELISA to next generation sequencing". Virus Research, 186: 20-31. DOI: 10.1016/j.virusres.2013.12.007
Komentar
Posting Komentar