FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS GARAM
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS GARAM
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Jum'at, 7 Agustus 2026
Kualitas garam ditentukan oleh karakteristik fisik, kimia, dan mikrobiologi produk akhir. Kualitas garam yang baik ditandai dengan kadar NaCl tinggi, kadar pengotor rendah, iodium stabil, serta bebas dari cemaran. Secara garis besar faktor yang memengaruhi kualitas garam dibagi menjadi 4 kelompok: faktor bahan baku, faktor proses, faktor lingkungan, dan faktor pasca panen.
A. Faktor Bahan Baku
Kualitas air laut dan kondisi lokasi produksi sangat menentukan mutu awal garam.
1. Kualitas Air Laut
Air laut ideal memiliki kadar garam ±3,5%, salinitas 30-35 ppt, dan minim pencemaran. Air laut yang tercemar limbah industri, domestik, atau mengandung logam berat akan menurunkan mutu garam dan berisiko tidak memenuhi SNI cemaran logam.
2. Musim dan Curah Hujan
Pada musim hujan air laut lebih encer karena pengenceran air tawar. Hal ini menyebabkan waktu penguapan lebih lama dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroalga serta bakteri.
3. Kandungan Pengotor Alami
Air laut mengandung ion Ca²⁺, Mg²⁺, dan SO₄²⁻. Jika kadarnya tinggi, garam hasil panen akan pahit, higroskopis, dan kadar NaCl rendah.
B. Faktor Proses Pengolahan
Tahapan pengolahan dari penampungan hingga pengeringan sangat menentukan kemurnian.
a. Metode Penguapan
1. Penguapan matahari: tergantung cuaca. Hasilnya kadar NaCl ±85-92% dengan banyak pengotor.
2. Penguapan buatan/vakum: menghasilkan kadar NaCl >99% karena suhu dan tekanan terkontrol.
b. Proses Konsentrasi dan Kristalisasi
Jika air tua tidak dipindahkan tepat waktu ke kolam kristalisasi, akan terjadi pengendapan gipsum `CaSO₄·2H₂O` bersama NaCl sehingga mutu turun.
c. Proses Pemurnian
Pencucian dengan brine atau air jenuh NaCl dapat melarutkan MgCl₂ dan MgSO₄ tanpa melarutkan NaCl. Penambahan `Na₂CO₃` dan `NaOH` akan mengendapkan Ca dan Mg. Semakin baik pemurnian, semakin tinggi kadar NaCl.
d. Kontaminasi Alat dan Tenaga Kerja
Penggunaan alat dari logam yang berkarat, lantai tanah, atau tenaga kerja tanpa APD dapat menyebabkan cemaran fisik, logam, dan mikroba.
e. Penambahan Iodium dan Anti-kempal
Ketepatan dosis `KIO₃` dan homogenitas pencampuran memengaruhi kadar iodium akhir. Penambahan bahan anti-kempal `Na₄Fe(CN)₆` mencegah penggumpalan.
C. Faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan saat produksi dan penyimpanan memengaruhi stabilitas mutu.
1. Intensitas Matahari dan Angin
Semakin tinggi radiasi matahari dan kecepatan angin, proses penguapan semakin cepat. Namun paparan matahari berlebih dapat menyebabkan fotodegradasi iodium.
2. Kelembaban Udara
Kelembaban tinggi menyebabkan garam bersifat higroskopis, menyerap air, dan menggumpal. MgCl₂ dan MgSO₄ sangat higroskopis sehingga mutu turun.
3. Suhu Penyimpanan
Suhu tinggi mempercepat penguapan iodium dan reaksi oksidasi. Suhu ideal penyimpanan <30°C.
4. Cahaya
Cahaya, terutama sinar UV, mengoksidasi ion iodida `I⁻` menjadi iodin `I₂` yang mudah menguap. Ini menyebabkan susut iodium hingga 50%.
D. Faktor Pasca Panen: Pengemasan dan Distribusi
a. Jenis Kemasan
Kemasan harus kedap udara, kedap cahaya, dan tidak reaktif. Plastik PP atau PE tebal lebih baik daripada karung goni. Kemasan terbuka menyebabkan penyerapan air dan kerusakan iodium.
b. Lama dan Cara Penyimpanan
Penyimpanan di tempat lembab, dekat bahan kimia, atau di atas lantai langsung akan menurunkan mutu. Garam harus disimpan di tempat kering, sejuk, dan tertutup rapat.
c. Lama Distribusi
Semakin lama distribusi dari produsen ke konsumen, semakin besar susut iodium. Oleh karena itu SNI menetapkan kadar iodium produsen 30-80 mg/kg agar di konsumen masih 20-40 mg/kg.
d. Cara Pemasakan di Rumah Tangga
Penambahan garam di awal memasak, pemanasan >100°C, dan penambahan bahan asam menyebabkan susut iodium 15-60%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
2. Fellows, P.J. Food Processing Technology: Principles and Practice. 4th Ed. Woodhead Publishing.
3. Potter, N.N. & Hotchkiss, J.H. Food Science. 5th Ed. New York: Springer.
4. Badan Standardisasi Nasional. SNI 3556:2016 Garam Konsumsi Beryodium. BSN.
5. Kusnandar, F. "Faktor-Faktor yang Memengaruhi Mutu Garam Rakyat di Indonesia." Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol. 21, No. 1, 2010.
6. Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Petunjuk Teknis Peningkatan Mutu Garam Rakyat. KKP RI, 2020.
7. Diosady, L.L., et al. "Stability of Iodine in Iodized Salt During Storage and Cooking." Food and Nutrition Bulletin, Vol. 18, No. 4, 1997.
8. World Health Organization. Guidance: Fortification of Food-Grade Salt with Iodine. Geneva: WHO, 2014.
Komentar
Posting Komentar