HERBISIDA
l
Herbisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan gulma secara selektif maupun non-selektif. Herbisida merupakan komponen utama dalam pengendalian kimiawi gulma pada sistem pertanian modern. Menurut Zimdahl 2018, penggunaan herbisida yang tepat dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja hingga 70% dan menurunkan biaya pengendalian gulma.
A. KLASIFIKASI HERBISIDA
Klasifikasi herbisida didasarkan pada 4 kriteria utama:
1. Berdasarkan Cara Kerja / Mode of Action
a. Herbisida Kontak
Membunuh jaringan tanaman yang terkena semprotan secara langsung. Tidak ditranslokasikan. Ciri: Gejala nekrosis muncul 1-3 hari setelah aplikasi. Contoh: Paraquat, Diquat, Oxyfluorfen. Kelebihan: Bekerja cepat. Kekurangan: Tidak efektif untuk gulma perenial berumbi/rimpang.
b. Herbisida Sistemik / Translokasi
Diserap oleh daun, akar, atau batang lalu ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman melalui xilem dan floem. Ciri: Gejala muncul 7-14 hari setelah aplikasi. Contoh: Glifosat, 2,4-D, Metsulfuron-methyl. Efektif untuk gulma tahunan dan perenial.
2. Berdasarkan Selektivitas
a. Herbisida Selektif
Dapat membunuh gulma tertentu tanpa merusak tanaman budidaya pada dosis yang dianjurkan. Selektivitas terjadi karena perbedaan morfologi, fisiologi, dan metabolisme. Contoh: 2,4-D untuk mengendalikan gulma daun lebar pada jagung dan padi. Metsulfuron-methyl untuk teki pada padi.
b. Herbisida Non-selektif
Membunuh semua jenis vegetasi yang terkena. Contoh: Glifosat, Paraquat, Amonium-glufosinat. Digunakan untuk lahan sebelum tanam, pematang, dan perkebunan.
3. Berdasarkan Waktu Aplikasi
a. Pra-tanam / Pre-plant: Diaplikasikan sebelum pengolahan tanah terakhir. Contoh: Glifosat.
b. Pra-tumbuh / Pre-emergence: Setelah tanam tetapi sebelum gulma dan tanaman berkecambah. Membentuk lapisan di permukaan tanah. Contoh: Butachlor, Pendimethalin.
c. Pasca-tumbuh / Post-emergence: Setelah gulma dan tanaman tumbuh. Contoh: Fenoksaprop-p-ethyl, 2,4-D.
4. Berdasarkan Cara Penyerapan
a. Herbisida Daun / Foliar: Diserap melalui daun. Contoh: Glifosat, 2,4-D.
b. Herbisida Tanah / Soil: Diserap melalui akar dari larutan tanah. Contoh: Alachlor, Atrazin.
B. MEKANISME KERJA HERBISIDA
Herbisida bekerja dengan mengganggu proses fisiologi penting pada tanaman. Golongan utama berdasarkan HRAC:
1. Penghambat Fotosintesis: Golongan Triazin, Urea. Contoh: Atrazin. Gejala: Klorosis.
2. Penghambat Pembelahan Sel: Golongan Dinitroanilin. Contoh: Pendimethalin. Gejala: Akar bengkak.
3. Penghambat Sintesis Asam Amino: Golongan Glisin. Contoh: Glifosat menghambat enzim EPSPS.
4. Hormon Sintetik / Pengatur Tumbuh: Golongan Fenoksi. Contoh: 2,4-D menyebabkan pertumbuhan abnormal.
5. Penghambat Pigmen: Golongan Isoxazolidinon. Contoh: Clomazone. Gejala: Daun memutih.
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS HERBISIDA
1. Faktor Herbisida: Dosis, formulasi, dan sifat kimia.
2. Faktor Gulma: Jenis, umur, dan tingkat pertumbuhan. Gulma muda lebih peka.
3. Faktor Tanaman: Varietas toleran dan fase pertumbuhan.
4. Faktor Lingkungan: Suhu, kelembaban, curah hujan, dan jenis tanah.
5. Faktor Aplikasi: Volume semprot, ukuran droplet, dan waktu aplikasi.
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGGUNAAN HERBISIDA
a.Kelebihan:
1. Efektif dan cepat menekan populasi gulma luas.
2. Menghemat tenaga kerja dan biaya jangka panjang.
3. Dapat digunakan pada lahan yang sulit diolah secara mekanis.
b.Kekurangan:
1. Resistensi gulma: Penggunaan herbisida golongan sama secara terus menerus menyebabkan gulma resisten. Contoh: Echinochloa crus-galli resisten terhadap Butachlor.
2. Pencemaran lingkungan: Residu di tanah dan air.
3. Keracunan: Berbahaya bagi manusia dan biota non-sasaran jika tidak sesuai dosis.
4. Biaya awal tinggi.
E. PRINSIP PENGGUNAAN HERBISIDA YANG AMAN DAN BIJAKSANA
1. 5 Tepat: Tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, tepat sasaran.
2. Rotasi herbisida: Mengganti golongan herbisida untuk mencegah resistensi.
3. Menggunakan APD: Masker, sarung tangan, baju lengan panjang.
4. Mengintegrasikan dengan metode lain: Bagian dari Pengendalian Terpadu Gulma.
DAFTAR PUSTAKA
1. Zimdahl, R.L. 2018. Fundamentals of Weed Science. 5th Edition. Academic Press. USA.
2. Moesdijono, S., Suhardjo, & Wibowo, S. 2006. Ilmu Gulma. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
3. Tjitrosemito, G. 2003. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Penebar Swadaya. Jakarta.
4. Ashton, F.M., & Crafts, A.S. 1981. Mode of Action of Herbicides. 2nd Edition. John Wiley & Sons. USA.
5. Powles, S.B., & Yu, Q. 2010. Evolution in Action: Plants Resistant to Herbicides. Annual Review of Plant Biology, 61: 317-347. https://doi.org/10.1146/annurev-arplant-042809-112130
6. Heap, I. 2023. The International Survey of Herbicide Resistant Weeds. http://www.weedscience.org
7. Sastroutomo, S.S. 1998. Resistensi Gulma terhadap Herbisida di Indonesia. Jurnal Ilmu Gulma dan Pengendalian Gulma Indonesia, 5(1): 1-8.
8. Mortensen, D.A., et al. 2000. Weed Population Responses to Weed Control Tactics: Interaction of Tillage and Herbicide Use. Weed Science, 48(4): 529-536.
Komentar
Posting Komentar