IDENTIFIKASI HAMA
IDENTIFIKASI HAMA
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Sabtu, 1 Agustus 2026
Identifikasi hama adalah proses pengenalan dan penetapan nama suatu organisme hama berdasarkan ciri-ciri morfologi, gejala serangan, dan perilaku biologi. Identifikasi yang tepat merupakan langkah awal yang sangat penting dalam Pengendalian Hama Terpadu / PHT, karena kesalahan identifikasi dapat menyebabkan penggunaan pestisida yang tidak tepat sasaran, pemborosan biaya, dan kegagalan pengendalian.
A. TUJUAN IDENTIFIKASI HAMA
1. Menentukan jenis hama secara tepat agar pengendalian yang dilakukan sesuai dengan biologi hama tersebut.
2. Membedakan hama dengan musuh alami untuk menghindari pembunuhan serangga bermanfaat.
3. Menentukan tingkat kerusakan yang ditimbulkan dan hubungannya dengan ambang ekonomi.
4. Menjadi dasar peramalan serangan dan penyusunan strategi pengendalian.
B. METODE IDENTIFIKASI HAMA
Identifikasi dilakukan melalui 2 pendekatan utama:
a. Identifikasi Berdasarkan Gejala Serangan / Symptom-based Identification
Dilakukan ketika hama tidak ditemukan secara langsung di lapangan. Petugas mengamati kerusakan pada tanaman.
Gejala Jenis Kerusakan Contoh Hama Penyebab
1.Daun berlubang tidak beraturan Pengunyah Ulat grayak Spodoptera litura
2.Daun menguning dan mengering dari ujung Pengisap Wereng coklat Nilaparvata lugens
3.Adanya lorong putih berkelok pada daun Penambang Lalat pengorok daun Liriomyza sp.
4.Buah berlubang dan ada kotoran Penggerek Penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella
5.Tanaman rebah, batang berlubang Penggerek batang Penggerek batang padi Scirpophaga innotata
b. Identifikasi Berdasarkan Morfologi Hama / Morphological Identification
Dilakukan dengan mengamati ciri-ciri fisik hama secara langsung menggunakan lup atau mikroskop. Ciri yang diamati:
1. Stadia: Telur, larva/ nimfa, pupa, imago/dewasa
2. Bentuk tubuh: Panjang, lebar, warna, pola
3. Jumlah kaki: 3 pasang untuk serangga, 4 pasang untuk tungau
4. Keberadaan sayap: Jumlah, bentuk, dan pertulangan sayap
5. Alat mulut: Tipe menggigit, mengisap, atau menusuk
6. Ciri khas: Adanya duri, bulu, corak, dan organ khusus
Contoh: Untuk membedakan wereng coklat dan wereng punggung putih, dilihat dari adanya garis putih di punggung pada wereng punggung putih Sogatella furcifera.
C. KUNCI DETERMINASI / DICHOTOMOUS KEY
Kunci determinasi adalah alat bantu berupa daftar ciri yang disusun berpasangan. Pengguna memilih salah satu dari dua pernyataan yang paling sesuai hingga sampai pada nama spesies.
Contoh kunci sederhana untuk hama daun:
1. Hama memiliki sayap .................................... 2
Hama tidak memiliki sayap ............................. 3
2. Sayap bersisik ......................................... Lepidoptera / Ulat
Sayap transparan ....................................... Homoptera / Wereng
3. Tubuh bulat, 8 kaki .................................... Arachnida / Tungau
Tubuh memanjang, tidak berkaki ....................... Nematoda
D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN IDENTIFIKASI
1. Pengetahuan taksonomi dasar dari petugas
2. Ketersediaan spesimen yang lengkap dan tidak rusak
3. Buku panduan dan literatur identifikasi yang relevan
4. Alat bantu: lup 10x, mikroskop, kamera
E. PERBEDAAN IDENTIFIKASI HAMA DENGAN PENYAKIT DAN GULMA
Kesalahan umum adalah mengira gejala akibat hama sebagai penyakit. Perbedaannya:
1. Hama: Kerusakan mekanis, ada bekas gigitan, kotoran, atau hama ditemukan.
2. Penyakit: Adanya bercak, jamur, busuk, dan tidak ada bekas gigitan.
3. Gulma: Adanya tanaman lain yang tumbuh bersama tanaman utama.
DAFTAR PUSTAKA
Borror, D.J., Triplehorn, C.A., & Johnson, N.F. 1992. An Introduction to the Study of Insects. 6th Edition. USA: Saunders College Publishing.
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Jakarta: PT Ichtiar Baru - Van Hoeve.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hill, D.S. 1983. Agricultural Insect Pests of the Tropics and Their Control. 2nd Edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Rauf, A., et al. 2000. Panduan Pengenalan Hama dan Musuh Alami pada Tanaman Sayuran. Bogor: Departemen Pertanian. Hal 15-50.
Komentar
Posting Komentar