KOMPONEN HASIL TANAMAN


  1. Definisi Konseptual

Komponen hasil didefinisikan sebagai rangkaian sifat kuantitatif tanaman yang secara berurutan terbentuk mulai fase vegetatif hingga generatif, yang perkalian antarkomponen tersebut setara dengan hasil ekonomis per satuan luas. Konsep ini didasarkan pada prinsip bahwa hasil akhir adalah akumulasi dari komponen yang terbentuk lebih dulu, sehingga perbaikan pada komponen awal akan berdampak kaskade pada komponen berikutnya. Komponen hasil adalah unsur-unsur pembentuk hasil ekonomis suatu tanaman yang secara kuantitatif menentukan besar kecilnya produksi akhir per satuan luas. Analisis komponen hasil merupakan pendekatan agronomis untuk memecah hasil panen menjadi faktor-faktor pembentuknya sehingga faktor pembatas dapat diidentifikasi dan diperbaiki.



  1. Macam dan Urutan Komponen Hasil

Urutan komponen hasil bersifat spesifik per komoditas, namun pola umumnya mengikuti hierarki berikut:

a. Komponen Hasil Umum untuk Tanaman Biji-Bijian

Untuk padi, jagung, gandum, kedelai, rumusan umumnya:

Hasil = Populasi tanaman/ha × Komponen 1 × Komponen 2 × Komponen 3 × Bobot biji


1. Populasi tanaman per satuan luas  

   Jumlah tanaman yang hidup dan produktif per m² atau ha. Ditentukan oleh daya kecambah benih, jarak tanam, dan tingkat kematian tanaman. Merupakan komponen hasil paling awal dan paling stabil.

2. Jumlah organ pembawa hasil per tanaman  

   a) Pada serealia: jumlah malai/tanaman atau jumlah tongkol/tanaman.  

  b)  Pada legum: jumlah polong/tanaman.  

   Komponen ini terbentuk pada fase vegetatif akhir dan sangat dipengaruhi oleh percabangan, anakan, dan kondisi lingkungan saat primordia bunga terbentuk.

3. Jumlah biji/butir per organ pembawa hasil  

   Jumlah gabah bernas/malai pada padi, jumlah biji/tongkol pada jagung, jumlah biji/polong pada kedelai. Terbentuk pada fase pembungaan dan sangat sensitif terhadap cekaman abiotik: kekeringan, suhu tinggi, defisiensi hara saat antesis.

4. Bobot biji/butir  

   Dinyatakan sebagai bobot 1000 butir atau bobot biji tunggal. Terbentuk pada fase pengisian biji/grain filling. Ditentukan oleh laju fotosintesis, luas daun bendera, durasi pengisian, dan efisiensi translokasi asimilat dari sumber ke sink.


b. Komponen Hasil Khusus Komoditas Lain

  1.  Tanaman umbi

Populasi tanaman × jumlah umbi/tanaman × bobot rata-rata umbi

  1.  Tanaman buah

Populasi tanaman × jumlah buah/tanaman × bobot rata-rata buah  

  1.  Tanaman daun

Populasi tanaman × jumlah daun/tanaman × luas rata-rata daun × SLA



  1. . Sifat Komponen Hasil

  1.  Sifat kompensasi:

Jika satu komponen rendah, komponen lain cenderung meningkat. Contoh: populasi rendah → jumlah anakan/tanaman meningkat. Namun kompensasi terbatas dan tidak dapat menutup kehilangan hasil total.

  1.  Sensitivitas fase

Setiap komponen terbentuk pada fase fenologi spesifik dan hanya sensitif terhadap cekaman pada fase tersebut. Cekaman vegetatif menurunkan populasi dan jumlah malai. Cekaman generatif menurunkan jumlah biji/malai dan bobot biji.

  1.  Heritabilitas

Bobot biji memiliki heritabilitas tinggi, lebih dikendalikan genetik. Jumlah malai dan jumlah biji/malai memiliki heritabilitas rendah, lebih dipengaruhi lingkungan dan manajemen.



  1. . Hubungan dengan Indeks Panen

Komponen hasil menentukan hasil biologis. Hasil ekonomis diperoleh setelah dikalikan Indeks Panen HI:  

Hasil ekonomis = Hasil biologis × HI  

Peningkatan komponen hasil tanpa peningkatan HI hanya menambah biomassa vegetatif, tidak menambah hasil panen.



DAFTAR PUSTAKA

Fischer, R.A. 1985. Number of Kernels in Wheat Crops and the Influence of Solar Radiation and Temperature. Journal of Agricultural Science, 105(2): 447-461.  

Egli, D.B. 1998. Seed Biology and the Yield of Grain Crops. CABI Publishing, Wallingford.  

. Gardner, F.P., Pearce, R.B., & Mitchell, R.L. 1991. Physiology of Crop Plants. Iowa State University Press, Ames. 

. Kato, Y., Abe, J., Kamoshita, A., & Yamagishi, J. 2006. Genotypic Variation in Root Growth Angle in Rice and Its Association with Drought Tolerance in Upland Fields. Plant and Soil, 287: 117-129.  

Muchow, R.C. & Sinclair, T.R. 1994. Nitrogen Response of Leaf Photosynthesis and Canopy Radiation Use Efficiency in Field-Grown Maize and Sorghum. Crop Science, 34(1): 721-727.  

. Peng, S., Cassman, K.G., Virmani, S.S., Sheehy, J., & Khush, G.S. 1999. Yield Potential Trends of Tropical Rice Since the Release of IR8 and the Challenge of Increasing Rice Yield Potential. Crop Science, 39(6): 1552-1559.  

. Soedomo, H. 1993. Dasar-Dasar Agronomi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.  

. Yoshida, S. 1981. Fundamentals of Rice Crop Science. International Rice Research Institute, Los Baños. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab