KONSEP AMBANG EKONOMI PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN

 KONSEP AMBANG EKONOMI PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN  

Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.

Senin, 3 Agustus 2026





Pengendalian hama secara terus-menerus dan tanpa dasar akan menyebabkan pemborosan biaya, resistensi hama, dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu diperlukan konsep pengambilan keputusan rasional. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Stern et al. 1959 sebagai dasar Pengendalian Hama Terpadu / Integrated Pest Management.


A.PENGERTIAN AMBANG EKONOMI

1. Ambang Ekonomi / Economic Threshold, ET  

Adalah tingkat kepadatan populasi hama pada saat tindakan pengendalian harus dilakukan untuk mencegah populasi hama mencapai Ambang Ekonomi Kerugian.  Sederhananya: "Titik kapan kita harus semprot". Pedigo 2002

2. Ambang Ekonomi Kerugian / Economic Injury Level, EIL  

Adalah tingkat kepadatan populasi hama terendah yang dapat menyebabkan kerusakan ekonomi. Kerusakan ekonomi adalah jumlah kerusakan yang besarnya sama dengan biaya pengendalian.  

Sederhananya: "Titik impas rugi". Jika populasi sudah mencapai EIL, maka petani sudah mulai rugi. Stern et al. 1959


Hubungan ET dan EIL:  

$ET < EIL$  

ET adalah peringatan dini. Pengendalian dilakukan pada saat ET agar populasi tidak sempat mencapai EIL.




B. KOMPONEN PENYUSUN EIL

EIL dihitung dengan rumus yang dikemukakan oleh Stern et al. 1959:

EIL = \frac{C}{V \times I \times D \times K}

Keterangan:  

C = Biaya pengendalian per satuan luas. Misal: Rp/ha  

V = Nilai pasar komoditas per satuan hasil. Misal: Rp/kg  

I = Kerusakan yang ditimbulkan per individu hama. Misal: % daun rusak/ekor hama  

D = Penurunan hasil per satuan kerusakan. Misal: % hasil turun/% daun rusak  

K = Efektivitas pengendalian. Kisaran 0 - 1




C. PRINSIP PENGGUNAAN AMBANG EKONOMI

1.  Pemantauan / Monitoring Rutin  

    Populasi hama harus dipantau secara berkala menggunakan metode sampling. Tanpa data populasi, ET tidak dapat digunakan. Untung 2001

2.  Pengambilan Keputusan  

    a. Jika Populasi < ET : Tidak perlu pengendalian. Lakukan pengamatan lanjutan.  

    b.Jika Populasi = ET : Siapkan pengendalian.  

    c.Jika Populasi > ET : Lakukan pengendalian segera.  

    d.Jika Populasi > EIL : Kerugian sudah terjadi. Pengendalian untuk mencegah kerugian lebih besar.

3.  Bersifat Spesifik Lokasi dan Waktu  

    Nilai ET dan EIL berbeda untuk setiap jenis hama, tanaman, varietas, musim, dan harga pasar. Tidak ada nilai ET yang universal.




E. CONTOH PENERAPAN PADA PADI

a Kasus: Wereng batang coklat Nilaparvata lugens pada padi.  

b.Diketahui:  

C = Rp 500.000/ha untuk insektisida + tenaga kerja  

V = Rp 5.000/kg gabah  

I = 0,01 kg gabah hilang/ekor wereng  

D = 1  

K = 0,8

EIL = \frac{500.000}{5.000 \times 0,01 \times 1 \times 0,8} = \frac{500.000}{40} = 12.500 \text{ ekor/ha}

c.Jika 1 rumpun = 20 rumpun/m² = 200.000 rumpun/ha  . Maka $EIL = 12.500 / 200.000 = 0,0625$ ekor/rumpun  . ET biasanya ditetapkan 80% dari EIL = 0,05 ekor/rumpun.  Artinya: Jika ditemukan rata-rata 1 wereng per 20 rumpun, maka pengendalian harus dilakukan. Sastrosiswojo 2002




F. KELEBIHAN DAN KETERBATASAN KONSEP

a.Kelebihan:  

1.  Pengendalian lebih rasional dan hemat biaya.  

2.  Mengurangi penggunaan pestisida yang tidak perlu.  

3.  Menjaga musuh alami tetap ada di lahan.


b.Keterbatasan:  

1.  Sulit menghitung nilai I dan D secara tepat di lapangan.  

2.  Membutuhkan tenaga terlatih untuk monitoring.  

3.  Tidak memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan.




DAFTAR PUSTAKA

1.  Stern, V.M., et al. 1959. The Integrated Pest Control Concept. Hilgardia, 29(2): 81-101.

2.  Pedigo, L.P. 2002. Entomology and Pest Management. 4th Edition. Prentice Hall. USA. 

3.  Untung, K. 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 

4.  Sastrosiswojo, S. 2002. Pengantar Entomologi Pertanian. ITB Press. Bandung. 

5.  Higley, L.G., & Pedigo, L.P. 1996. The Economic Injury Level Concept and Environmental Quality: A New Perspective. American Entomologist, 42(1): 12-19.

6.  Naranjo, S.E., et al. 2004. Economic Thresholds and Monitoring for Cotton IPM. Journal of Cotton Science, 8(3): 124-132.

7.  Sudarmo, S. 2010. Penentuan Ambang Ekonomi Wereng Batang Coklat pada Tanaman Padi. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 16(2): 65-72.

8.  Kogan, M. 1998. Integrated Pest Management: Historical Perspectives and Contemporary Developments. Annual Review of Entomology, 43: 243-270.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab