PENGENDALIAN GULMA
Pengendalian Gulma adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menekan populasi gulma hingga berada di bawah Ambang Ekonomi Gulma, sehingga kerugian akibat gulma dapat diminimalkan dan usahatani tetap menguntungkan. Prinsip pengendalian modern bukan pemberantasan total, melainkan pengelolaan populasi. Menurut Zimdahl 2018, pengendalian gulma yang efektif harus mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan lingkungan.
A. TUJUAN PENGENDALIAN GULMA
1. Menekan kompetisi gulma terhadap tanaman budidaya pada periode kritis.
2. Mencegah peningkatan bank biji gulma di dalam tanah.
3. Menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen.
4. Menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi usahatani.
5. Meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
B. METODE PENGENDALIAN GULMA
Secara umum terdapat 5 metode utama pengendalian gulma yang dapat dilakukan secara tunggal maupun terpadu.
1. Pengendalian Preventif
Merupakan metode paling murah dan efektif jangka panjang. Tjitrosemito 2003
a.Tujuan: Mencegah masuknya gulma baru ke lahan.
b.Prinsip: "Mencegah lebih baik daripada mengendalikan".
c.Kegiatan:
1) Menggunakan benih dan bibit bebas gulma.
2) Membersihkan alat pertanian sebelum dipindah antar lahan.
3) Menggunakan pupuk kandang dan kompos yang telah matang.
4) Karantina terhadap gulma invasif.
2. Pengendalian Mekanis / Fisik
a.Tujuan: Membunuh atau melemahkan gulma secara langsung melalui tenaga.
b.Kegiatan:
1) Pengolahan tanah: Membalik dan memotong gulma, mengubur biji.
2) Penyiangan manual: Menggunakan tangan atau alat seperti cangkul, sabit. Efektif tetapi membutuhkan banyak tenaga kerja.
3) Penyiangan mekanis: Menggunakan traktor, cultivator, mesin penyiang.
4) Pembakaran: Menggunakan api untuk gulma di pematang dan jalan.
5) Mulsa: Mulsa organik dan plastik menutup cahaya sehingga menghambat perkecambahan.
c.Kelebihan: Tidak menimbulkan resistensi. Kekurangan: Padat karya dan dapat merusak akar tanaman.
3. Pengendalian Kultur Teknis
Metode ini bersifat ekologis dan berkelanjutan. Liebman & Gallandt 1997
a.Tujuan: Membuat tanaman budidaya lebih kompetitif dibandingkan gulma.
b.Kegiatan:
1) Pengaturan jarak tanam dan populasi: Tanaman rapat lebih cepat menutup kanopi.
2) Waktu tanam serempak: Mengurangi periode rawan kompetisi.
3) Pemupukan tempatan: Pupuk diberikan dekat tanaman, bukan disebar.
4) Rotasi tanaman: Memutus siklus hidup gulma spesifik.
5) Penggunaan varietas unggul kompetitif: Varietas yang tumbuh cepat dan berdaun lebar.
6) Tanaman penutup tanah: Arachis pintoi, Calopogonium mucunoides untuk perkebunan.
4. Pengendalian Biologi
a.Tujuan: Memanfaatkan musuh alami untuk menekan populasi gulma.
b.Kegiatan:
1) Agens hayati: Serangga, jamur patogen, nematoda, dan ikan. Contoh: Neochetina eichhorniae untuk mengendalikan Eichhornia crassipes.
2)Alelopati: Menanam tanaman yang menghasilkan senyawa penghambat gulma, seperti padi varietas alelopati.
3)Penggembalaan: Menggunakan bebek, kambing, dan sapi untuk gulma tertentu.
c.Kelebihan: Ramah lingkungan. Kekurangan: Hasil lambat dan spesifik terhadap jenis gulma.
5. Pengendalian Kimiawi
Merupakan metode paling cepat dan luas digunakan pada pertanian modern.
a.Tujuan: Menggunakan herbisida untuk membunuh gulma secara selektif atau total.
b.Prinsip Keamanan: Dosis tepat, waktu tepat, sasaran tepat, dan menggunakan APD. Penggunaan berlebih menyebabkan resistensi dan pencemaran lingkungan.
C. PENGENDALIAN TERPADU GULMA / Integrated Weed Management, IWM
IWM adalah penggabungan beberapa metode pengendalian secara harmonis berdasarkan prinsip ekologi dan ekonomi. Komponen IWM: Preventif + Kultur + Mekanis + Biologi + Kimiawi secara bijaksana.
Tujuan IWM:
1. Menekan populasi gulma dalam jangka panjang.
2. Menunda terjadinya resistensi herbisida.
3. Menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan petani.
Contoh IWM pada padi: Gunakan benih bersih → Olah tanah → Tanam jajar legowo → Pemupukan tempatan → Penyiangan 15 HST → Penyemprotan herbisida selektif jika diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Zimdahl, R.L. 2018. Fundamentals of Weed Science. 5th Edition. Academic Press. USA.
2. Moesdijono, S., Suhardjo, & Wibowo, S. 2006. Ilmu Gulma. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
3. Tjitrosemito, G. 2003. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Penebar Swadaya. Jakarta.
4. Radosevich, S.R., Holt, J.S., & Ghersa, C.M. 2007. Weed Ecology: Implications for Management. 3rd Edition. John Wiley & Sons. USA.
5. Swanton, C.J., & Weise, S.F. 1991. Integrated Weed Management: The Rationale and Approach. Weed Technology, 5(3): 657-663.
6. Mortensen, D.A., et al. 2000. Weed Population Responses to Weed Control Tactics: Interaction of Tillage and Herbicide Use. Weed Science, 48(4): 529-536.
7. Liebman, M., & Gallandt, E.R. 1997. Many Little Hammers: Ecological Management of Crop-Weed Interactions. Ecology in Agriculture, 291-343.
8. Sastroutomo, S.S. 2001. Pengembangan Pengendalian Terpadu Gulma di Indonesia. Jurnal Ilmu Gulma dan Pengendalian Gulma Indonesia, 8(2): 45-52
Komentar
Posting Komentar