PERAN GIZI GARAM
PERAN GIZI GARAM
Oleh : SRI RAHAYU, S.Pd.
Jum'at, 7 Agustus 2026
Peran gizi garam dalam Ilmu Bahan Makanan merujuk pada kontribusi komponen penyusun garam, yaitu Natrium (Na), Klorida (Cl), dan Iodium (I) terhadap fungsi fisiologis tubuh. Ketiga zat gizi ini bersifat esensial dan harus diperoleh dari makanan karena tubuh tidak dapat mensintesisnya.
A. Peran Gizi Natrium (Na⁺)
Natrium merupakan kation utama pada cairan ekstrasel. Perannya sangat dominan dalam homeostasis tubuh.
1. Pengatur Keseimbangan Cairan dan Tekanan Osmotik
Natrium menentukan distribusi air antara cairan intrasel dan ekstrasel. Melalui mekanisme pompa Na⁺-K⁺ ATPase, natrium membantu mempertahankan volume darah dan tekanan darah. Ketidakseimbangan natrium akan menyebabkan dehidrasi atau edema.
2. Transmisi Impuls Saraf dan Kontraksi Otot
Perpindahan ion Na⁺ melalui membran sel saraf dan otot menghasilkan potensial aksi. Proses ini merupakan dasar dari rangsang saraf, kontraksi otot, dan fungsi jantung.
3. Absorpsi Zat Gizi di Saluran Cerna
Natrium berperan dalam co-transport aktif glukosa dan asam amino di usus halus. Tanpa natrium, penyerapan karbohidrat dan protein menjadi tidak efisien.
4. Pemeliharaan Keseimbangan Asam-Basa
Bersama bikarbonat, natrium membantu mempertahankan pH darah agar tetap netral.
B. Peran Gizi Klorida (Cl⁻)
Klorida merupakan anion utama cairan ekstrasel dan memiliki peran spesifik.
1. Pembentukan Asam Klorida (HCl) di Lambung
Ion Cl⁻ disekresikan oleh sel parietal lambung untuk membentuk HCl. Asam lambung berfungsi mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin untuk pencernaan protein, membunuh mikroorganisme, serta membantu penyerapan zat besi non-heme dan kalsium.
2. Pengatur Keseimbangan Asam-Basa
Klorida bekerja bersama ion bikarbonat (HCO₃⁻) dalam sistem buffer untuk menjaga pH darah. Ginjal mengatur ekskresi Cl⁻ untuk mengoreksi asidosis dan alkalosis.
3. Aktivator Enzim Pencernaan
Cl⁻ merupakan kofaktor yang diperlukan untuk mengaktifkan enzim amilase saliva sehingga proses pencernaan pati dimulai sejak di mulut.
C. Peran Gizi Iodium (I⁻) pada Garam Beryodium
Iodium tidak berasal dari NaCl, tetapi ditambahkan pada garam konsumsi sebagai upaya fortifikasi. Perannya sangat vital.
1. Sintesis Hormon Tiroid
Iodium merupakan komponen utama hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) yang diproduksi kelenjar tiroid. Hormon ini mengatur metabolisme basal, pertumbuhan, perkembangan otak, dan fungsi sistem saraf pusat.
2. Pencegahan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKY)
Kekurangan iodium menyebabkan gondok, hipotiroidisme, keterbelakangan mental, kretinisme pada bayi, dan penurunan produktivitas. Penambahan 20-40 mg KIO₃ per kg garam sesuai PP No. 69 Tahun 1991 bertujuan untuk memberantas GAKY.
3. Peran pada Kehamilan dan Tumbuh Kembang Anak
Pada trimester pertama kehamilan, hormon tiroid ibu sangat penting untuk perkembangan otak janin. Kekurangan iodium pada periode ini bersifat ireversibel.
D. Interaksi Antar Komponen
1. Na⁺ dan Cl⁻: Bekerja sinergis sebagai elektrolit utama. Rasio keduanya dalam tubuh dijaga konstan untuk mempertahankan netralitas listrik.
2. Na⁺ dan K⁺: Berperan dalam pompa Na⁺-K⁺. Asupan natrium tinggi tanpa kalium cukup dapat meningkatkan risiko hipertensi.
3. Iodium dan Selenium: Selenium dibutuhkan sebagai kofaktor enzim deiodinase yang mengubah T4 menjadi T3 yang aktif.
E. Dampak Kekurangan dan Kelebihan terhadap Status Gizi
1.Natrium
Hiponatremia: lemas, kram, mual, sakit kepala. Hipertensi, penyakit jantung, stroke, retensi cairan
2.Klorida
Alkalosis metabolik, gangguan pencernaan. Asidosis metabolik, jarang terjadi
3.Iodium
GAKY: gondok, kretin, keterbelakangan mental. Hipertiroidisme, efek Wolff-Chaikoff pada tiroid
DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2. Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
3. Mahan, L.K. & Raymond, J.L. Krause's Food & the Nutrition Care Process. 14th Ed. Elsevier.
4. Institute of Medicine. Dietary Reference Intakes for Water, Potassium, Sodium, Chloride, and Sulfate. Washington, DC: The National Academies Press, 2005.
5. World Health Organization. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring their Elimination. 3rd Ed. Geneva: WHO, 2007.
6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Umum Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium. Jakarta: Kemenkes, 2018.
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 69 Tahun 1991 tentang Iodium dalam Garam Konsumsi.
8. Appel, L.J., et al. "Dietary Approaches to Prevent and Treat Hypertension." Hypertension, Vol. 47, No. 2, 2006.
Komentar
Posting Komentar