TUJUAN AGRONOMI
Secara keilmuan, agronomi bukan sekadar "cara bertani". Tujuan agronomi dirumuskan sebagai upaya sistematis untuk mengelola interaksi genetik x lingkungan x manajemen agar tercapai hasil optimal dan berkelanjutan.
a. Tujuan Utama
1. Maksimasi Produksi & Produktivitas Tanaman
Meningkatkan hasil per satuan luas, waktu, dan input melalui optimasi faktor tumbuh. Ini mencakup pemilihan varietas unggul, pengaturan populasi, pemupukan berimbang, dan pengendalian kehilangan hasil. Tujuannya bukan hanya hasil tinggi, tapi rasio output/input yang efisien.
2. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Mengelola air, hara, energi, dan lahan agar tidak ada yang terbuang. Konsepnya "more crop per drop" dan "nutrient use efficiency". Liebig menyatakan hasil dibatasi unsur paling minimal, jadi tujuan agronomi adalah menghilangkan faktor pembatas itu dengan biaya terendah.
3. Keberlanjutan Sistem Produksi
Mempertahankan kapasitas produksi jangka panjang tanpa degradasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati. Termasuk meminimalkan erosi, menjaga C-organik tanah, mengurangi pencemaran nitrat/pestisida, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
4. Stabilitas Hasil & Ketahanan Sistem
Mengurangi fluktuasi hasil antar musim akibat cekaman biotik/abiotik. Dilakukan lewat diversifikasi, rotasi, tanam serempak, varietas toleran, dan PHT. Tujuannya ketahanan pangan pada level wilayah.
5. Kualitas Produk
Tidak hanya kuantitas, tapi juga mutu: kandungan protein biji, rendemen giling padi, kadar minyak kedelai, bebas residu, dll. Agronomi mengatur pemupukan, air, dan waktu panen untuk mencapai standar mutu industri/pasar.
6. Profitabilitas & Kelayakan Sosial-Ekonomi
Teknologi agronomi harus dapat diadopsi petani. Jadi tujuan akhirnya adalah meningkatkan pendapatan usahatani, efisiensi tenaga kerja, dan sesuai dengan kendala sosial-budaya. Agronomi modern memasukkan analisis usahatani dalam desain teknologinya.
b. Hirarki Tujuan Agronomi Modern
Berdasarkan konsep Production Ecology, tujuan agronomi bertingkat:
1. Potensial
Radiasi, suhu, CO2, genetik Merakit varietas & atur tanam untuk tangkap energi maks
2. Terbatas air
Curah hujan, irigasi Efisiensi air, jadwal irigasi, varietas toleran kekeringan
3. Terbatas hara
N, P, K, mikro Pemupukan presisi, pupuk organik, fiksasi N
4. Reduksi
Gulma, hama, penyakit PHT, sanitasi, varietas tahan
5. Aktual
Semua di atas + sosial ekonomi Hasil aktual di petani yang profitable & lestari
DAFTAR PUSTAKA
Cassman, K. G. (1999). Ecological intensification of cereal production systems: Yield potential, soil quality, and precision agriculture. PNAS, 96(11), 5952–5959.
Evans, L. T. (1993). Crop evolution, adaptation and yield. Cambridge University Press.
Evans, L. T. (1998). Feeding the ten billion: Plants and population growth. Cambridge University Press.
Gardner, F. P., Pearce, R. B., & Mitchell, R. L. (1985). Physiology of crop plants. Iowa State University Press.
Harjadi, S. S. (2002). Pengantar agronomi. Gramedia Pustaka Utama.
Jurnal Agronomi Indonesia. (2020). Edisi khusus “Agronomi Berkelanjutan”. PERAGI & IPB.
Liebig, J. von. (1840). Organic chemistry in its applications to agriculture and physiology.
Loomis, R. S., & Connor, D. J. (1992). Crop ecology: Productivity and management in agricultural systems. Cambridge University Press.
Poerwowidodo. (1992). Metode pengkajian tanah. Fakultas Kehutanan IPB.
Russell, E. W. (1973). Soil conditions and plant growth (10th ed.). Longman.
Sinclair, T. R., & Rufty, T. W. (2012). Historical evolution of the major agronomic innovations. Agronomy Journal, 104(5), 1203–1210.
Sitompul, S. M., & Guritno, B. (1995). Analisis pertumbuhan tanaman. UGM Press.
van Ittersum, M. K., & Rabbinge, R. (1997). Concepts in production ecology for analysis and quantification of agricultural input-output combinations. Field Crops Research, 52(3), 197–208.
van Ittersum, M. K., Cassman, K. G., Grassini, P., Wolf, J., Tittonell, P., & Hochman, Z. (2013). Yield gap analysis with local to global relevance—A review. Field Crops Research, 143, 4–17.
Komentar
Posting Komentar