KERUSAKAN BAHAN MAKAN HEWANI
A. Definisi Kerusakan Bahan Makan Hewani
Kerusakan bahan makanan hewani adalah proses penurunan mutu organoleptik, nilai gizi, dan keamanan pangan akibat perubahan fisik, kimia, dan mikrobiologi yang terjadi selama penanganan, penyimpanan, dan distribusi. Kerusakan menyebabkan bahan tidak layak konsumsi atau daya terima konsumen menjadi rendah. Kerusakan spoilage didefinisikan sebagai perubahan yang tidak diinginkan pada sifat fisik, kimia, dan mikrobiologi bahan pangan sehingga produk menjadi tidak dapat diterima secara sensoris atau membahayakan kesehatan.
B. Jenis Kerusakan
Kerusakan bahan hewani dikelompokkan menjadi 3 kategori utama:
a. Kerusakan Mikrobiologi
Disebabkan pertumbuhan mikroba perusak spoilage microorganisms dan mikroba patogen. Bahan hewani memiliki Aw 0,98-0,99 dan pH netral sehingga ideal untuk pertumbuhan mikroba.
1. Daging dan Karkas
Mikroba dominan: Pseudomonas fluorescens, P. fragi, Brochothrix thermosphacta, BAL Lactobacillus. Tanda kerusakan: Lendir pada permukaan slime, bau busuk amoniak dan asam, perubahan warna hijau-hijau akibat produksi pigmen. Mekanisme: Mikroba proteolitik memecah protein → peptida, asam amino → amonia, indol, skatol bau busuk. Lipolitik memecah lemak → asam lemak bebas tengik.
2. Ikan dan Seafood
Mikroba dominan: Shewanella putrefaciens, Pseudomonas, Vibrio. Tanda kerusakan: Bau amis tajam akibat TMA Trimethylamine, insang pucat, daging lunak. Mekanisme: Autolisis enzim endogen + bakteri mereduksi TMAO → TMA bau amis. Produksi H₂S bau telur busuk.
3. Susu
Mikroba dominan: Pseudomonas psikrotrofik, Bacillus, kapang. Tanda kerusakan: Rasa pahit, menggumpal, bau tengik. Mekanisme: Bakteri psikrotrofik menghasilkan enzim lipase dan protease ekstraseluler yang tahan pasteurisasi → hidrolisis lemak dan protein.
4. Telur
Mikroba dominan: Pseudomonas, Proteus. Tanda kerusakan: Kantung udara membesar, putih telur encer, bau busuk H₂S. Mekanisme: Mikroba masuk melalui pori cangkang → memecah protein dan lemak.
b. Kerusakan Kimia
Terjadi tanpa keterlibatan mikroba, akibat reaksi enzimatis dan non-enzimatis:
1. Oksidasi Lemak/ Lipid Oxidation
Bahan: Daging merah, ikan berlemak, susu. Mekanisme: Lemak tak jenuh PUFA bereaksi dengan O₂ → peroksida → aldehida, keton, asam karboksilat. Menghasilkan rasa dan bau tengik rancidity. Dipacu oleh cahaya, logam Fe, Cu, suhu tinggi. Contoh: Daging sapi warna coklat, ikan makarel bau tengik.
2. Oksidasi Pigmen
Bahan: Daging merah. Mekanisme: Oksimioglobin Fe²⁺ → metmioglobin Fe³⁺ warna coklat kusam akibat reaksi dengan O₂ dan oksidasi.
3. Reaksi Enzimatis
Bahan: Ikan, udang. Mekanisme: Enzim polifenol oksidase pada udang → melanosis bercak hitam. Enzim autolitik pada ikan → tekstur lunak, gaping.
4. Reaksi Maillard
Terjadi lambat pada suhu beku. Gula reduksi + asam amino → warna coklat dan rasa pahit.
c.Kerusakan Fisik
Perubahan struktur fisik tanpa perubahan kimiawi signifikan:
1. Drip Loss dan Susut Bobot
Penguapan air dan keluarnya cairan sel akibat kerusakan membran sel saat pembekuan lambat → kristal es besar merusak sel otot.
2. Freezer Burn
Sublimasi es pada permukaan daging beku → bercak putih-kecoklatan, tekstur kering, rasa hambar akibat oksidasi.
3. Denaturasi Protein
Pembekuan lambat menyebabkan denaturasi protein miofibril → daya ikat air turun, tekstur keras.
4. Kristalisasi Laktosa
Pada susu bubuk → tekstur berpasir.
5. Kerusakan Mekanis
Memar bruising pada daging, pecah cangkang telur, remuk pada fillet ikan.
C. Faktor yang Mempercepat Kerusakan
1. Suhu
Setiap kenaikan 10°C mempercepat reaksi kimia 2-3 kali Q10 rule. Suhu fluktuatif pada freezer menyebabkan kristal es besar
2. Aw dan pH
Aw 0,98-0,99 dan pH 5,5-6,8 mendukung pertumbuhan mikroba perusak
3. Oksigen
Memicu oksidasi lemak dan mioglobin. Bakteri aerob Pseudomonas tumbuh cepat
4. Cahaya
Mempercepat foto-oksidasi lemak dan degradasi vitamin A, B2
5. Kontaminasi Awal
Jumlah mikroba awal tinggi → umur simpan pendek
6. Penanganan
Memar, suhu tidak konstan, kontaminasi silang mempercepat kerusakan.
D.Cara Pengendalian Kerusakan
Pengendalian berbasis konsep hurdle technology:
1. Pengendalian Suhu
Rantai dingin 0-4°C untuk segar, ≤-18°C untuk beku. Pembekuan cepat IQF -40°C untuk kristal es kecil.
2. Pengendalian Oksigen
Kemasan vakum, MAP CO₂ 30-60%, penggunaan antioksidan tokoferol, BHT.
3. Pengendalian Aw
Penggaraman, pengeringan, pembekuan.
4. Pengendalian Mikroba
Sanitasi GMP, SSOP, pasteurisasi 72°C 15 detik, iradiasi 1-3 kGy.
5. Penghambat Enzim
Perendaman natrium metabisulfit pada udang untuk cegah melanosis.
6. Pengemasan
Kedap uap air dan cahaya untuk cegah freezer burn dan foto-oksidasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Lawrie, R. A. (2006). Lawrie’s meat science 7th Edition. Woodhead Publishing, Cambridge.
2. Soeparno. (2015). Ilmu dan teknologi daging Edisi 6. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
3. James, S. J., & James, C. (2010). Chilled and frozen storage of food. Woodhead Publishing.
4. FAO. (1995). Quality and quality changes in fresh fish. FAO Fisheries Technical Paper 348, Rome.
5. Winarno, F. G. (2004). Kimia pangan dan gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
6. Gram, L., & Huss, H. H. (1996). Microbiological spoilage of fish and fish products. International Journal of Food Microbiology, 33(1), 121-137.
7. Huff-Lonergan, E., & Lonergan, S. M. (2005). Mechanisms of water-holding capacity of meat. Meat Science, 71(1), 194-204.
8. SNI 2729:2013. Ikan segar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
9. Codex Alimentarius. (1997). Guidelines for the application of the HACCP system CAC/GL 21-1997.
10. Zhou, G. H., Xu, X. L., & Liu, Y. (2010). Preservation technologies for fresh meat. Meat Science, 86(1), 119-128.
11. Erkan, N., & Özden, Ö. (2008). Quality assessment of whole and gutted sea bream stored in ice. Food Chemistry, 111(3), 669-677
Komentar
Posting Komentar