KEBUTUHAN MINERAL

 



A. Pengertian Kebutuhan Mineral

Kebutuhan mineral adalah jumlah mineral minimum yang harus diperoleh dari makanan setiap hari untuk mempertahankan fungsi fisiologis normal, menggantikan kehilangan basal, mendukung pertumbuhan dan reproduksi, serta mencegah defisiens.

 Mineral bersifat individual dan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis, tingkat aktivitas, dan bioavailabilitas diet. Konsep kebutuhan mineral menjadi dasar penetapan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sebagai acuan populasi (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013).



B. Komponen Kebutuhan Mineral

1. Kebutuhan untuk Pemeliharaan (Maintenance)

 Mineral diperlukan untuk menggantikan kehilangan wajib (obligatory losses) melalui urin, feses endogen, keringat, kulit, rambut, dan menstruasi.  Contohnya kehilangan zat besi basal sekitar 0,9 mg/hari pada laki-laki dan 1,3-1,5 mg/hari pada perempuan usia subur akibat menstruasi, serta kehilangan kalsium wajib sekitar 200-250 mg/hari.

2. Kebutuhan untuk Pertumbuhan

 Anak dan remaja membutuhkan mineral tambahan untuk pembentukan jaringan baru, terutama kalsium dan fosfor untuk mineralisasi tulang, zat besi untuk ekspansi volume darah dan massa otot, serta zink untuk sintesis protein dan pembelahan sel. Kebutuhan per kilogram berat badan tertinggi terjadi pada tahun pertama kehidupan.


3. Kebutuhan untuk Reproduksi dan Laktasi

 Kehamilan meningkatkan kebutuhan zat besi untuk pembentukan plasenta dan eritrosit janin, kalsium untuk skeleton janin, iodium untuk perkembangan otak janin, dan folat-zink untuk pertumbuhan sel. Menyusui meningkatkan kebutuhan kalsium, iodium, selenium, dan zink untuk sekresi ke dalam ASI.

4. Kebutuhan untuk Aktivitas dan Keadaan Khusus

 Aktivitas fisik berat dan lingkungan panas meningkatkan kehilangan natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan zat besi melalui keringat. Keadaan penyakit, infeksi, dan pemulihan pasca operasi meningkatkan kebutuhan zink, zat besi, dan selenium untuk fungsi imun dan penyembuhan jaringan (Institute of Medicine, 2006).



C. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Mineral

1. Usia dan Tahap Kehidupan

Kebutuhan mineral berubah sepanjang daur kehidupan. Bayi dan remaja memiliki kebutuhan relatif tinggi untuk kalsium, zat besi, dan zink karena pertumbuhan cepat. Lansia memiliki kebutuhan kalsium dan magnesium lebih tinggi akibat penurunan efisiensi absorpsi dan peningkatan kehilangan ginjal, namun kebutuhan zat besi perempuan menurun setelah menopause.

2. Jenis Kelamin dan Kondisi Fisiologis

Perempuan usia subur membutuhkan zat besi dua kali lipat laki-laki akibat kehilangan menstruasi. Kehamilan dan menyusui meningkatkan kebutuhan sebagian besar mineral mikro. Laki-laki memiliki kebutuhan zink dan magnesium sedikit lebih tinggi karena massa otot lebih besar.

3. Bioavailabilitas Diet

Kebutuhan asupan bruto harus disesuaikan dengan bioavailabilitas. Diet tinggi fitat dan rendah protein hewani khas pola makan nabati memerlukan asupan zat besi dan zink 1,5-2 kali lebih tinggi daripada diet campuran. Sebaliknya, diet tinggi vitamin C dan protein hewani menurunkan jumlah asupan yang dibutuhkan.

4. Interaksi dan Status Gizi Awal

Defisiensi satu mineral meningkatkan kebutuhan mineral lain yang berinteraksi. Individu dengan simpanan rendah membutuhkan asupan lebih tinggi untuk replesi, sedangkan individu dengan status cukup hanya membutuhkan untuk pemeliharaan. Penyakit ginjal, hati, dan saluran cerna mengubah kebutuhan dan toleransi mineral (Gropper & Smith, 2013; Sandström, 2001).




D. Penentuan Kebutuhan Mineral

Kebutuhan mineral populasi ditetapkan melalui metode faktorial (penjumlahan kebutuhan pemeliharaan, pertumbuhan, dan reproduksi yang dikoreksi bioavailabilitas), studi keseimbangan (balance studies), studi deplesi-replesi, dan indikator biokimia status mineral. Hasilnya dinyatakan sebagai EAR, RDA/AKG, AI, dan UL untuk digunakan sebagai standar perencanaan dan penilaian diet (Institute of Medicine, 2006; Kementerian Kesehatan RI, 2019).



DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ilmu gizi (Edisi revisi). PT Gramedia Pustaka Utama.

Gropper, S. S., & Smith, J. L. (2013). Advanced nutrition and human metabolism (6th ed.). Wadsworth Cengage Learning.

Institute of Medicine. (2006). Dietary reference intakes: The essential guide to nutrient requirements. The National Academies Press. https://doi.og/10.17226/11537

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.

Sandström, B. (2001). Micronutrient interactions: Effects on absorption and bioavailability. British Journal of Nutrition, 85(S2), S181–S185. https://doi.org/10.1079/BJN2000313

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Buah-Buahan Dalam Bahasa Arab

Yuk Mengenal Warna Dalam Bahasa Jerman..!!

Belajar Nama-Nama Kendaraan Dalam Bahasa Arab