PENGENDALIAN KULTUR TEKNIS TANAMAN HOLTIKULTURA
A. Pengertian dan Prinsip
Pengendalian kultur teknis adalah cara pengendalian hama dan penyakit dengan memanipulasi lingkungan pertanaman dan kegiatan bercocok tanam untuk menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi perkembangan OPT, namun menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman dan musuh alami.
Pengendalian ini merupakan dasar dan fondasi utama dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) karena bersifat preventif, murah, tidak menimbulkan residu, kompatibel dengan cara pengendalian lain, dan dapat menjaga kelestarian musuh alami. Kementerian Pertanian selalu mendorong petani agar menerapkan budidaya hortikultura yang ramah lingkungan, menggunakan lebih banyak pupuk organik, agensia hayati, dan pestisida nabati (Yusuf, 2023).
Menurut Oka (2005), kultur teknis merupakan metode tertua yang terbukti efektif menurunkan populasi OPT di bawah ambang ekonomi tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
B. Komponen Pengendalian Kultur Teknis Hortikultura
1. Penggunaan Benih dan Bibit Sehat / Bersertifikat
Benih dan bibit merupakan sumber inokulum primer yang paling berbahaya.
a. Prinsip
Gunakan benih/bibit bebas hama dan penyakit, varietas tahan (resisten), dan bersertifikat. Contoh: umbi kentang yang terinfeksi Ralstonia solanacearum dan Fusarium akan membawa penyakit ke lahan baru meskipun tanah sebelumnya sehat (Goth & Webb, 1981).
b. Praktik
1). Seleksi bibit
pilih bibit yang vigor, tidak bergejala.
2). Perlakuan benih
perendaman benih cabai dalam air panas 55°C selama 10 menit untuk membunuh Colletotrichum, atau perendaman benih dalam suspensi Pseudomonas fluorescens dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk mencegah penyakit layu Fusarium dan penyakit karat (Scribd, 2014).
3). Penggunaan varietas tahan
varietas cabai tahan Begomovirus kuning keriting, varietas tomat tahan Fusarium dan Verticillium, varietas jeruk bebas CVPD.
2. Pengolahan Tanah Sempurna dan Solarization
Tanah adalah habitat utama patogen tular tanah.
a . Pengolahan tanah yang baik
Dapat membalik tanah sehingga patogen, pupa hama, dan telur serangga yang ada di dalam tanah terangkat ke permukaan dan mati terkena sinar matahari, dimakan predator, atau kekeringan. Menggali tanah sampai kedalaman 30-40 cm untuk tanaman sayuran buah.
b . Solarisasi tanah
Penutupan tanah dengan mulsa plastik bening selama 4-6 minggu pada musim kemarau. Suhu tanah meningkat hingga 45-55°C sehingga membunuh Fusarium oxysporum, Ralstonia, Sclerotium rolfsii, nematoda Meloidogyne sp., dan biji gulma. Teknik ini sangat efektif untuk lahan hortikultura intensif di dataran rendah.
3. Pergiliran Tanaman (Rotasi) dan Pola Tanam
Monokultur terus-menerus pada lahan yang sama menyebabkan akumulasi OPT spesifik.
a. Rotasi
Menggilir tanaman dari famili berbeda untuk memutus siklus hidup OPT. Contoh: setelah cabai (Solanaceae) yang terserang layu Fusarium dan Ralstonia, ditanam legum (kacang panjang, buncis) atau palawija bukan inang selama 1-2 musim. Rotasi dengan tanaman bukan inang efektif menurunkan populasi Plutella xylostella yang bersifat oligofag (Sembel, 2014).
b. Tumpang sari
Menanam tanaman hias atau sayuran yang tidak disukai hama sebagai penghalang. Contoh: tumpang sari kubis dengan tomat dapat mengurangi serangan ulat daun kubis karena aroma tomat menolak ngengat Plutella. Tumpang sari cabai dengan bawang daun untuk mengurangi thrips.
c. Tanaman perangkap (trap cropping)
Menanam tanaman yang lebih disukai hama di sekeliling lahan utama untuk menarik hama, kemudian dimusnahkan. Contoh: tanaman jagung sebagai perangkap ulat grayak di sekeliling pertanaman bawang merah.
4. Tanam Serempak dan Pengaturan Waktu Tanam
a. Tanam serempak dalam satu hamparan dalam selang waktu maksimal 10 hari
Dapat memutus ketersediaan makanan bagi hama (green bridge). Jika petani menanam tidak serempak, hama akan bermigrasi dari lahan tua ke lahan muda terus-menerus.
b. Pengaturan waktu tanam
Hindari menanam pada puncak populasi hama. Contoh: menanam cabai di akhir musim hujan untuk menghindari ledakan thrips dan tungau di musim kemarau, atau menanam kentang di musim kemarau untuk menghindari Phytophthora infestans yang meledak di musim hujan.
5. Sanitasi Kebun
Sanitasi adalah kegiatan membersihkan dan memusnahkan sumber inokulum.
a. Praktik
Memetik dan memusnahkan buah busuk akibat lalat buah Bactrocera dorsalis, buah cabai terserang antraknosa, daun terserang virus kuning, dan sisa tanaman (brangkasan) setelah panen dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah. Pada jeruk, memangkas ranting yang terserang kutu sisik dan bercak.
b. Tujuan
Mengurangi sumber infeksi sekunder dan tempat berlindung hama. Sanitasi yang buruk menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena populasi OPT dipertahankan di kebun (Anggarawati et al., 2017).
6. Pemupukan Berimbang dan Penggunaan Bahan Organik
a. Pemupukan berimbang
Penggunaan pupuk nitrogen berlebihan menyebabkan jaringan tanaman sukulen, lunak, kandungan asam amino tinggi sehingga sangat disukai hama penghisap seperti kutu daun dan thrips. Kelebihan N juga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit jamur.
b. Penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati
Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma sp. dan Pseudomonas yang menekan Fusarium dan Ralstonia. Pemberian pupuk kandang matang dan kompos Trichoderma sangat dianjurkan.
c. Pemberian unsur K dan Ca
Kalium mempertebal dinding sel sehingga tahan terhadap penetrasi jamur dan hisapan hama. Kalsium mencegah busuk ujung buah pada tomat dan cabai.
7. Pengelolaan Air dan Drainase
a. Drainase yang baik mutlak untuk mencegah layu bakteri Ralstonia dan busuk akar Phytophthora dan Pythium yang menyukai tanah tergenang. Pada musim hujan, bedengan dibuat tinggi 30-40 cm.
b. Irigasi tetes lebih baik daripada irigasi curah karena tidak meningkatkan kelembaban kanopi sehingga mengurangi penyakit jamur seperti antraknosa dan embun bulu.
c. Penggenangan lahan sawah selama 2 minggu sebelum tanam hortikultura dapat membunuh pupa hama dan patogen tular tanah.
8. Pengaturan Jarak Tanam dan Pemangkasan
a. Jarak tanam tidak terlalu rapat
Jarak tanam optimal (misal cabai 50x60 cm, tomat 60x70 cm) memastikan sirkulasi udara baik, kelembaban mikro dalam kanopi rendah, sehingga tidak mendukung perkembangan jamur dan bakteri.
b. Pemangkasan dan pewiwilan
Pada tomat dan cabai, pembuangan tunas air dan daun bawah yang tua yang bersentuhan dengan tanah mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan aerasi. Pada buah-buahan (mangga, jeruk), pemangkasan bentuk menjaga tajuk tidak terlalu rimbun.
9. Penggunaan Mulsa
a. Mulsa jerami / mulsa plastik hitam perak (MPHP):
. Mulsa plastik perak memantulkan sinar matahari sehingga menolak datangnya kutu kebul Bemisia tabaci vektor virus kuning keriting, thrips, dan kutu daun (Setiawati et al., 2008).
b . Menjaga kelembaban tanah, menekan gulma
Mencegah percikan tanah yang membawa spora jamur ke daun bawah.
c. Meningkatkan suhu tanah
Sehingga menghambat nematoda.
10. Pembungkusan Buah (Brongsong)
Teknik kultur teknis yang paling efektif untuk buah-buahan. Pembungkusan buah mangga, jambu biji, belimbing, dan pisang dengan kertas semen atau plastik sejak buah berukuran kecil (sebesar kelereng) untuk mencegah lalat buah Bactrocera spp. menusuk buah. Buah yang dibungkus bebas residu pestisida, kualitas ekspor terjamin.
C. Keunggulan Pengendalian Kultur Teknis
1. Tidak memerlukan biaya tinggi, hanya modifikasi cara bercocok tanam
2. Tidak menimbulkan resistensi, resurgensi, dan pencemaran lingkungan
3. Kompatibel dengan pengendalian hayati dan kimiawi
4. Berkelanjutan dan membangun ekosistem yang seimbang
5. Menjadi prasyarat keberhasilan PHT, karena apabila kultur teknis baik, populasi OPT jarang mencapai ambang kendali
DAFTAR PUSTAKA
Anggarawati, A., et al. (2017). Hama tanaman jeruk dan gejala serangannya. Jurnal Perlindungan Tanaman.
Goth, R. W., & Webb, R. E. (1981). Transmission of Verticillium wilt through potato tubers. American Potato Journal.
Oka, I. N. (2005). Pengendalian hama terpadu dan implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Scribd. (2014). Pengendalian hama tanaman hias: Budidaya sehat. Dokumen Budidaya.
Sembel, D. T. (2014). Inventarisasi serangga hama pada tanaman kubis di Sulawesi Utara. Jurnal Eugenia.
Setiawati, W., et al. (2008). Persepsi petani terhadap status hama pada budidaya paprika. Jurnal Hortikultura, 18(1).
Yusuf, S. W. (2023). Enam tepat pestisida hasilkan produk hortikultura aman konsumsi. Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung.
Komentar
Posting Komentar