AKIBAT KEKURANGAN MINERAL
A. Pengertian Kekurangan Mineral
Kekurangan mineral atau defisiensi mineral adalah keadaan ketika asupan, absorpsi, atau pemanfaatan mineral tidak mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh dalam jangka waktu tertentu sehingga mengganggu fungsi biokimia, fisiologis, dan struktural serta menimbulkan gejala klinis. Defisiensi dapat bersifat primer akibat asupan rendah, atau sekunder akibat gangguan absorpsi, peningkatan kehilangan, peningkatan kebutuhan, dan interaksi antagonis antar zat gizi (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013).³
B. Penyebab Kekurangan Mineral
1. Asupan yang Tidak Adekuat
Pola makan monoton rendah pangan hewani, kemiskinan, pantangan makanan, dan diet ketat menyebabkan asupan kalsium, zat besi, zink, dan iodium tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi.
2. Gangguan Absorpsi
Kandungan fitat, oksalat, dan serat berlebihan dalam diet nabati, penyakit saluran cerna seperti penyakit seliak dan penyakit radang usus, serta operasi bariatrik menurunkan bioavailabilitas dan absorpsi mineral.
3. Peningkatan Kehilangan dan Kebutuhan
Perdarahan kronis, menstruasi berlebihan, diare kronis, kehamilan, menyusui, pertumbuhan cepat pada bayi, anak, dan remaja, serta aktivitas fisik berat meningkatkan kehilangan dan kebutuhan mineral melebihi asupan.
C. Akibat Kekurangan Mineral Makro
1. Kalsium
Kekurangan kronis menyebabkan penurunan mineralisasi tulang, rakitis pada anak, osteomalasia pada dewasa, serta osteopenia dan osteoporosis pada lansia yang meningkatkan risiko fraktur. Kekurangan akut menyebabkan hipokalsemia dengan tetani, kejang, dan aritmia.
2. Fosfor
Defisiensi jarang terjadi, tetapi dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan mineralisasi tulang, anoreksia, dan gangguan fungsi sel darah. Umumnya terjadi pada malnutrisi berat dan sindrom refeeding.
3. Magnesium
Kekurangan magnesium menyebabkan hipomagnesemia dengan gejala tremor, kram otot, kejang, aritmia jantung, hipokalsemia dan hipokalemia refrakter, serta peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2 dan osteoporosis.
4. Natrium dan Kalium
Defisiensi natrium (hiponatremia) akibat kehilangan berlebihan menyebabkan kelemahan, mual, sakit kepala, kebingungan, dan kejang. Defisiensi kalium (hipokalemia) menyebabkan kelemahan otot, ileus paralitik, konstipasi, dan aritmia yang fatal (Institute of Medicine, 2006).
D. Akibat Kekurangan Mineral Mikro
1. Zat Besi
Defisiensi zat besi merupakan defisiensi mineral paling umum di dunia. Tahapannya meliputi penipisan cadangan (feritin rendah), eritropoiesis defisien besi, hingga anemia defisiensi besi dengan gejala pucat, lemas, penurunan konsentrasi, gangguan kognitif pada anak, penurunan imunitas, dan peningkatan risiko kematian maternal.
2. Zink
Kekurangan zink menyebabkan gangguan pertumbuhan dan retardasi pertumbuhan pada anak, hipogeusia (penurunan rasa), penyembuhan luka lambat, diare kronis, gangguan fungsi imun, alopesia, dan dermatitis. Defisiensi berat menyebabkan akrodermatitis enteropatika.
3. Iodium
Kekurangan iodium menyebabkan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) yang meliputi gondok endemik, hipotiroidisme, kretinisme endemik dengan retardasi mental ireversibel, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan kematian perinatal. Defisiensi pada kehamilan merupakan penyebab utama kerusakan otak yang dapat dicegah pada anak.
4. Selenium dan Tembaga
Defisiensi selenium menyebabkan penyakit Keshan (kardiomiopati endemik) dan penyakit Kashin-Beck (osteoartropati). Defisiensi tembaga menyebabkan anemia yang tidak responsif terhadap zat besi, neutropenia, gangguan mielinisasi saraf, dan depigmentasi rambut.
5. Fluor
Kekurangan fluor meningkatkan kerentanan terhadap karies gigi karena email gigi kurang tahan terhadap asam (Gropper & Smith, 2013; Kementerian Kesehatan RI, 2019).
E. Pencegahan dan Penanggulangan Kekurangan Mineral
Pencegahan dilakukan melalui diversifikasi konsumsi pangan beragam bergizi seimbang, fortifikasi pangan seperti garam beriodium dan tepung terigu fortifikasi zat besi dan zink, suplementasi targeted pada kelompok berisiko (ibu hamil, balita, remaja putri), biofortifikasi tanaman pangan, serta edukasi gizi untuk meningkatkan bioavailabilitas melalui kombinasi makanan yang tepat, misalnya zat besi nabati bersama vitamin C.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ilmu gizi (Edisi revisi). PT Gramedia Pustaka Utama.
Gropper, S. S., & Smith, J. L. (2013). Advanced nutrition and human metabolism (6th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
Institute of Medicine. (2006). Dietary reference intakes: The essential guide to nutrient requirements. The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/11537
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.
Komentar
Posting Komentar