AKIBAT KELEBIHAN MINERAL
A. Pengertian Kelebihan Mineral
Kelebihan mineral atau toksisitas mineral adalah keadaan ketika asupan dan akumulasi mineral dalam tubuh melebihi batas atas toleransi (Tolerable Upper Intake Level/UL) sehingga mengganggu absorpsi, metabolisme, dan fungsi mineral lain serta menimbulkan gejala klinis hingga kerusakan organ. Kelebihan mineral jarang disebabkan oleh makanan alami semata, melainkan terutama oleh konsumsi suplemen dosis tinggi tanpa pengawasan, fortifikasi berlebihan, kontaminasi lingkungan dan air, serta gangguan organ ekskresi seperti ginjal dan hati (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013).
B. Faktor Penyebab Kelebihan Mineral
1. Suplementasi dan Fortifikasi Berlebihan
Konsumsi suplemen multivitamin-mineral, zat besi, zink, kalsium, dan selenium dalam dosis megadosis melebihi UL merupakan penyebab utama toksisitas akut dan kronis di masyarakat.
2. Gangguan Homeostasis
Penyakit genetik seperti hemokromatosis (kelebihan zat besi) dan penyakit Wilson (kelebihan tembaga), serta gagal ginjal kronis yang mengganggu ekskresi kalsium, fosfor, kalium, dan magnesium, menyebabkan akumulasi mineral meskipun asupan normal.
3. Kontaminasi dan Paparan Lingkungan
Paparan fluor berlebihan dari air tanah, selenium dari tanah seleniferous, serta logam berat dari polusi industri dapat meningkatkan beban mineral tubuh melampaui kapasitas ekskresi.
C. Akibat Kelebihan Mineral Makro
1. Kalsium
Kelebihan kalsium (>2.500 mg/hari) menyebabkan hiperkalsemia, konstipasi, poliuria, pembentukan batu ginjal, kalsifikasi jaringan lunak dan pembuluh darah, serta menghambat absorpsi zat besi, zink, dan magnesium.
2. Fosfor
Kelebihan fosfor terutama dari aditif makanan olahan dan minuman bersoda menurunkan absorpsi kalsium, memicu hiperparatiroidisme sekunder, dan mempercepat demineralisasi tulang. Pada gagal ginjal menyebabkan hiperfosfatemia dan kalsifikasi kardiovaskular.
3. Natrium dan Kalium
Kelebihan natrium (>2.300 mg/hari) meningkatkan volume cairan ekstraseluler, tekanan darah, risiko hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan ekskresi kalsium urin. Kelebihan kalium (hiperkalemia) pada gangguan ginjal menyebabkan aritmia jantung yang fatal.
4. Magnesium
Kelebihan magnesium dari suplemen dan antasida menyebabkan diare osmotik, mual, hipotensi, depresi sistem saraf pusat, dan pada kasus berat henti jantung. Kelebihan dari makanan alami jarang terjadi karena ginjal efisien mengekskresikannya (Institute of Medicine, 2006).
D. Akibat Kelebihan Mineral Mikro
1. Zat Besi
Toksisitas akut zat besi pada anak menyebabkan kerusakan mukosa usus, syok, dan gagal hati. Kelebihan kronis (hemosiderosis dan hemokromatosis) menyebabkan penumpukan zat besi di hati, jantung, dan pankreas yang memicu sirosis, kardiomiopati, diabetes melitus, dan peningkatan stres oksidatif.
2. Zink
Kelebihan zink (>40 mg/hari) menyebabkan mual, muntah, kram perut, gangguan fungsi imun, penurunan kolesterol HDL, dan defisiensi tembaga sekunder akibat induksi metalotionein di usus.
3. Selenium
Kelebihan selenium (>400 µg/hari) menyebabkan selenosis dengan gejala rambut dan kuku rapuh serta rontok, bau napas seperti bawang putih, gangguan gastrointestinal, dan neuropati perifer.
4. Iodium
Kelebihan iodium (>1.100 µg/hari) menghambat sintesis hormon tiroid (efek Wolff-Chaikoff), memicu hipotiroidisme, goiter, dan pada individu sensitif menyebabkan hipertiroidisme yang diinduksi iodium (fenomena Jod-Basedow).
5. Fluor, Tembaga, dan Mangan
Kelebihan fluor menyebabkan fluorosis gigi (mottling) dan fluorosis skeletal yang meningkatkan kerapuhan tulang. Kelebihan tembaga pada penyakit Wilson menyebabkan kerusakan hati dan ganglia basalis otak. Kelebihan mangan dari paparan inhalasi menyebabkan neurotoksisitas mirip penyakit Parkinson (manganisme).
E. Pencegahan Kelebihan Mineral
Pencegahan dilakukan dengan tidak mengonsumsi suplemen mineral melebihi UL tanpa indikasi medis, memperhatikan interaksi antagonis antarmineral dalam suplementasi jangka panjang, memantau fungsi ginjal dan hati, serta mengutamakan pemenuhan mineral dari makanan beragam. Penetapan UL oleh Institute of Medicine dan AKG 2019 menjadi acuan keamanan asupan populasi (Kementerian Kesehatan RI, 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ilmu gizi (Edisi revisi). PT Gramedia Pustaka Utama.
Gropper, S. S., & Smith, J. L. (2013). Advanced nutrition and human metabolism (6th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
Institute of Medicine. (2006). Dietary reference intakes: The essential guide to nutrient requirements. The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/11537
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan RI.
Komentar
Posting Komentar