INTERAKSI MINERAL DENGAN ZAT GIZI LAIN
A. Pengertian Interaksi Mineral dengan Zat Gizi Lain
Interaksi mineral dengan zat gizi lain adalah hubungan saling mempengaruhi antara mineral dengan mineral lain, vitamin, protein, karbohidrat, lemak, dan senyawa non-gizi dalam makanan maupun di dalam tubuh yang dapat meningkatkan (sinergis) atau menghambat (antagonis) absorpsi, transportasi, metabolisme, dan fungsi fisiologisnya. Interaksi ini terutama terjadi di lumen usus selama proses absorpsi, namun juga dapat terjadi di tingkat seluler dan jaringan.
Pemahaman interaksi sangat penting karena status mineral seseorang tidak hanya ditentukan oleh jumlah asupan, melainkan oleh bioavailabilitas yang dipengaruhi oleh komposisi keseluruhan diet (Almatsier, 2009; Gropper & Smith, 2013).
B. Interaksi Antarmineral
Interaksi antarmineral umumnya bersifat antagonis karena mineral dengan muatan dan ukuran ion serupa berkompetisi untuk transporter yang sama di enterosit.
a. Interaksi Antagonis
1. Kalsium - Zat Besi
Kalsium dosis tinggi (300-600 mg) dalam satu kali makan menghambat absorpsi zat besi heme dan non-heme hingga 40-50% dengan mengganggu transporter DMT1.
2. Zink - Tembaga
Asupan zink berlebihan (>50 mg/hari) menginduksi sintesis metalotionein di enterosit yang menjerap tembaga lebih kuat daripada zink, sehingga tembaga terperangkap dan hilang bersama sel usus yang terkelupas menyebabkan defisiensi tembaga.
3. Zat Besi - Zink - Mangan
Ketiganya menggunakan transporter DMT1 yang sama. Suplementasi zat besi dosis tinggi menghambat absorpsi zink dan mangan.
4. Kalsium - Magnesium - Fosfor
Rasio kalsium terhadap fosfor yang ideal adalah 1:1 hingga 2:1. Kelebihan fosfor dari minuman bersoda dan makanan olahan menghambat absorpsi kalsium dan memicu hiperparatiroidisme sekunder. Kalsium dan magnesium juga berkompetisi pada kanal TRPM.
5. Molibdenum - Tembaga
Molibdenum berlebihan membentuk kompleks tiomolibdat tidak larut dengan tembaga di saluran cerna, menyebabkan defisiensi tembaga sekunder.
b. Interaksi Sinergis
1. Kalsium - Fosfor
Keduanya bekerja sama dalam pembentukan kristal hidroksiapatit tulang dan gigi. Kekurangan salah satu menghambat mineralisasi meskipun yang lain cukup.
2. Natrium - Kalium
Bekerja berpasangan dalam pompa Na+/K+-ATPase untuk mempertahankan potensial membran, keseimbangan cairan, dan tekanan darah.
C. Interaksi Mineral dengan Vitamin
a. Interaksi Sinergis
1. Vitamin D - Kalsium dan Fosfor:
Kalsitriol (vitamin D aktif) meningkatkan absorpsi kalsium usus dari 10-15% menjadi 30-40% melalui induksi protein kalbindin-D, dan meningkatkan absorpsi fosfor. Defisiensi vitamin D menyebabkan riketsia dan osteomalasia meskipun asupan kalsium cukup.
2. Vitamin C - Zat Besi
Asam askorbat mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih larut dan membentuk kompleks askorbat-besi, meningkatkan absorpsi zat besi non-heme dari tumbuhan hingga 4-6 kali lipat.
3. Vitamin B6, B12, dan Folat - Zat Besi
Vitamin-vitamin ini diperlukan untuk sintesis hemoglobin dan eritropoiesis. Defisiensi B12 dan folat menyebabkan anemia megaloblastik meskipun zat besi cukup.
4. Vitamin K - Kalsium
Vitamin K diperlukan untuk karboksilasi osteokalsin yang mengikat kalsium ke matriks tulang.
b. Interaksi Antagonis
1. Vitamin E Dosis Tinggi - Zat Besi
Vitamin E dalam dosis farmakologis dapat mengganggu pemanfaatan zat besi untuk sintesis hemoglobin pada bayi prematur.
2. Vitamin A Berlebihan - Kalsium dan Vitamin D
Hipervitaminosis A meningkatkan resorpsi tulang dan mengganggu metabolisme vitamin D, meningkatkan risiko fraktur.
D. Interaksi Mineral dengan Zat Gizi Makro dan Senyawa Non-Gizi
1. Protein - Mineral
Protein hewani meningkatkan absorpsi kalsium, zink, dan zat besi karena asam amino sistein dan histidin membentuk kompleks larut. Sebaliknya, asupan protein sangat tinggi meningkatkan ekskresi kalsium urin (kalsiuria). Protein kedelai mengandung fitat tinggi yang menghambat absorpsi mineral meskipun kandungan proteinnya tinggi.
2. Karbohidrat dan Serat - Mineral
Laktosa dalam susu meningkatkan absorpsi kalsium pada bayi dengan menurunkan pH usus dan membentuk kompleks larut. Serat tidak larut, asam fitat, dan asam oksalat merupakan penghambat utama. Fitat dalam serealia utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian membentuk kompleks fitat-mineral tidak larut dengan kalsium, zat besi, zink, dan magnesium. Oksalat dalam bayam, cokelat, dan teh mengikat kalsium menjadi kalsium oksalat. Fermentasi, perendaman, dan perkecambahan mengaktifkan enzim fitase yang menghidrolisis fitat sehingga meningkatkan bioavailabilitas mineral.
3. Lemak - Mineral
Lemak diperlukan untuk absorpsi vitamin D yang selanjutnya membantu absorpsi kalsium. Asam lemak bebas berlebihan akibat malabsorpsi lemak membentuk sabun kalsium tidak larut di usus (saponifikasi) yang menyebabkan kehilangan kalsium dan magnesium melalui feses.
4. Senyawa Non-Gizi - Mineral
Polifenol dan tanin dalam teh, kopi, dan anggur merah menghambat absorpsi zat besi non-heme hingga 60-90% jika dikonsumsi bersamaan dengan makan. Alkohol kronis mengganggu absorpsi kalsium, magnesium, zink, dan fosfor serta meningkatkan ekskresi urinnya (Sandström, 2001; Gropper & Smith, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ilmu gizi (Edisi revisi). PT Gramedia Pustaka Utama.
Gropper, S. S., & Smith, J. L. (2013). Advanced nutrition and human metabolism (6th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
Hurrell, R., & Egli, I. (2010). Iron bioavailability and dietary reference values. The American Journal of Clinical Nutrition, 91(5), 1461S–1467S. https://doi.org/10.3945/ajcn.2010.28674F
Sandström, B. (2001). Micronutrient interactions: Effects on absorption and bioavailability. British Journal of Nutrition, 85(S2), S181–S185. https://doi.org/10.1079/BJN2000313
Komentar
Posting Komentar